Minggu, 15 Juni 2014

MENGENAL BIDAH

Penulis: Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsari

Al Allamah Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa`di rahimahullah memaparkan tentang bid`ah : "Bid`ah adalah perkara yang diada-adakan dalam agama. Sesungguhnya agama itu adalah apa yang datangnya dari Nabi shallallahu alaihi wasallam sebagaimana termaktub dalam Al Quran dan As Sunnah. Dengan demikian apa yang ditunjukkan oleh Al Quran dan As Sunnah itulah agama dan apa yang menyelisihi Al Quran dan As Sunnah berarti perkara itu adalah bid`ah. Ini merupakan defenisi yang mencakup dalam penjabaran arti bid`ah. Sementara bid`ah itu dari sisi keadaannya terbagi dua :

Pertama : Bid`ah Itiqad (bid`ah yang bersangkutan dengan keyakinan)
Bid`ah ini juga diistilahkan bid`ah qauliyah (bid`ah dalam hal pendapat) dan yang menjadi patokannya adalah sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang diriwayatkan dalam kitab sunan :
"Umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya berada dalam neraka kecuali satu golongan".
Para shahabat bertanya : "Siapa golongan yang satu itu wahai Rasulullah ?.
Beliau menjawab : "Mereka yang berpegang dengan apa yang aku berada di atasnya pada hari ini dan juga para shahabatku".

Yang selamat dari perbuatan bid`ah ini hanyalah ahlus sunnah wal jama`ah yang mereka itu berpegang dengan ajaran Nabi shallallahu alaihi wasallam dan apa yang dipegangi oleh para shahabat radliallahu anhum dalam perkara ushul (pokok) secara keseluruhannya, pokok-pokok tauhid , masalah kerasulan (kenabian), takdir, masalah-masalah iman dan selainnya.

Sementara yang selain mereka dari kelompok sempalan (yang menyempal/keluar dari jalan yang benar) seperti Khawarij, Mu`tazilah, Jahmiyah, Qadariyah, Rafidhah, Murji`ah dan pecahan dari kelompok-kelompok ini , semuanya merupakan ahlul bid`ah dalam perkara i`tiqad. Dan hukum yang dijatuhkan kepada mereka berbeda-beda, sesuai dengan jauh dekatnya mereka dari pokok-pokok agama, sesuai dengan keyakinan atau penafsiran mereka, dan sesuai dengan selamat tidaknya ahlus sunnah dari kejelekan pendapat dan perbuatan mereka. Dan perincian dalam permasalahan ini sangatlah panjang untuk dibawakan di sini.

Kedua : Bid`ah Amaliyah (bid`ah yang bersangkutan dengan amalan ibadah)
Bid`ah amaliyah adalah penetapan satu ibadah dalam agama ini padahal ibadah tersebut tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Dan perlu diketahui bahwasanya setiap ibadah yang tidak diperintahkan oleh Penetap syariat (yakni Allah ta`ala) baik perintah itu wajib ataupun mustahab (sunnah) maka itu adalah bid`ah amaliyah dan masuk dalam sabda nabi shallallahu alaihi wasallam :
"Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak di atas perintah kami maka amalannya itu tertolak".
Karena itulah termasuk kaidah yang dipegangi oleh para imam termasuk Imam Ahmad rahimahullah dan selain beliau menyatakan :
"Ibadah itu pada asalnya terlarang (tidak boleh dikerjakan)"

Yakni tidak boleh menetapkan/mensyariatkan satu ibadah kecuali apa yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Dan mereka menyatakan pula :
"Muamalah dan adat (kebiasaan) itu pada asalnya dibolehkan (tidak dilarang)"

Oleh karena itu tidak boleh mengharamkan sesuatu dari muamalah dan adat tersebut kecuali apa yang Allah ta`ala dan rasul-Nya haramkan. Sehingga termasuk dari kebodohan bila mengklaim sebagian adat yang bukan ibadah sebagai bid`ah yang tidak boleh dikerjakan, padahal perkaranya sebaliknya (yakni adat bisa dilakukan) maka yang menghukumi adat itu dengan larangan dan pengharaman dia adalah ahlu bid`ah (mubtadi). Dengan demikian, tidak boleh mengharamkan satu adat kecuali apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dan adat itu sendiri terbagi tiga :
Pertama : yang membantu mewujudkan perkara kebaikan dan ketaatan maka adat seperti ini termasuk amalan qurbah (yang mendekatkan diri kepada Allah).
Kedua : yang membantu/mengantarkan kepada perbuatan dosa dan permusuhan maka adat seperti ini termasuk perkara yang diharamkan.
Ketiga : adat yang tidak masuk dalam bagian pertama dan kedua (yakni tidak masuk dalam amalan qurbah dan tidak pula masuk dalam perkara yang diharamkan) maka adat seperti ini mubah (boleh dikerjakan). Wallahu a`lam.*****
(Al Fatawa As Sa`diyah, hal. 63-64 sebagaimana dinukil dalam Fatawa Al Marah Al Muslimah)

Sumber : http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=29

KEDUDUKAN DAN PERAN MULIA AHLUL HADITS DI DALAM SYARI’AT ISLAM

Penulis: Fadhilatu Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair Al Madkhali

Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad shallallahualaihi wasallam dengan petunjuk dan agama yang haq dengan tujuan meninggikan agama Islam di atas agama-agama lain di muka bumi ini, meskipun orang-orang kafir membencinya. Sesungguhnya manusia yang paling mulia dan tinggi kedudukannya di dalam menjalankan, mengikuti, mencintai, memberikan loyalitas dan pertolongan pada al haq (kebenaran) yang dibawa oleh Muhammad shallallahualaihi wasallam adalah para shahabat beliau yang mulia, generasi tabiin, atbaut tabiin dan orang-orang yang mengikuti jalan dan petunjuk mereka sampai akhir zaman.
Sesungguhnya siapapun yang mengetahui atau mempelajari keadaan kaum muslimin terdahulu, yang mereka secara umum menisbatkan dirinya sebagai umat Nabi Muhammad shallallahualaihi wasallam, akan menemukan bahwa sesungguhnya ahlul hadits adalah orang-orang yang paling tinggi di dalam mengikuti, mentaati dan menyandarkan seluruh amalan mereka sesuai petunjuk yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahualaihi wasallam yang berdasarkan Al Quran dan As Sunnah, baik dalam permasalahan aqidah, ibadah, muamalah, dakwah dan hujjah.
Golongan ahlul hadits adalah orang-orang yang paling tinggi kepercayaannya dalam meyakini manhaj (jalan) yang haq, yaitu manhaj yang dibawa secara sempurna oleh Nabi Muhammad shallallahualaihi wasallam, dan itu adalah jalan yang selamat dan lurus. Selain jalan tersebut, merupakan jalan yang tidak disyariatkan oleh Allah Subhanahu Wa Taala dan tidak Diridhoi oleh-Nya, yang dapat menghantarkan kita kepada kebinasaan dan adzab.

Siapakah Ahlul Hadits ?
Ahlul hadits adalah orang-orang yang berjalan di atas manhaj atau jalan yang ditempuh oleh para shahabat Rasulullah shallallahualaihi wasallam dan tabiin, yang berhujjah di atas dasar Al Quran dan As Sunnah. Mereka berpegang teguh kepada keduanya dan mendahulukan keduanya di atas seluruh perkataan dan petunjuk, baik dalam permasalahan aqidah, ibadah, muamalah (hubungan), akhlak, pemerintahan, atau bentuk organisasi yang masyru (disyariatkan).
Mereka adalah orang-orang yang tetap di atas perkara yang asas (pokok) dalam agama dan cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya yaitu Muhammad alaihishalaatu wasallam.
Mereka adalah orang-orang yang selalu menegakkan dakwah kepada Al Quran dengan kesungguhan, kejujuran dan azzam yang kuat, dan merekalah yang membawa ilmu hadits, membatalkan dan membantah penyimpangan orang-orang yang ghuluw (melampaui batas), penganut madzhab dan tawilnya orang-orang jahil.
Kedudukan ahlul hadits adalah sebagai pengawas seluruh golongan sesat dalam Islam, seperti golongan Jahmiyyah, Mutazilah, Khawarij, Rowafidh, Murjiah, Qodariyyah dan lainnya yang menyimpang dari jalan Allah atau sebagai pengikut hawa nafsu, kapan dan di manapun. Mereka tidak takut cercaan manusia kecuali hanya Allah. Mereka adalah kelompok yang dipuji dan di jamin oleh Rasulullah alaihishalaatu wasallam lewat sabdanya yang artinya : "Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang tetap mendhohirkan (menampakkan) yang haq. Mereka tetap tegar di atasnya, tidak dapat digoyahkan oleh orang-orang yang mencerca dan menyelisihi sampai tegaknya hari kiamat".{1}
Mereka adalah al-firqah an-najiyah (kelompok yang selamat) yang tetap di atas petunjuk Rasulullah alaihishalaatu wasallam dan sahabatnya. Sifat dan tanda mereka telah dikhabarkan oleh beliau shallallahualaihi wasallam ketika menyebutkan bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu kelompok, yaitu :"mereka yang tetap di atas petunjukku dan para sahabatku".{2}
Kami katakan demikian bukan sekedar dakwahan dusta dan isapan jempol belaka, akan tetapi kenyataan ini dipersaksikan di atas nash-nash Al Quran dan As Sunnah, sejarah dan persaksian dari perkataan, keadaan, dan karangan-karangan mereka (ahlul hadits).
Mereka adalah kelompok yang menempatkan pandangan hidupnya di atas firman Allah yang artinya :
“Dan berpegangteguhlah kalian semua kepada tali Allah (Al Quran) dan janganlah berpecah-belah".(QS.Ali Imran :103)
"maka peringatkanlah orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya untuk takut akan terkena fitnah atau adzab yang pedih .” (QS. An Nuur : 63)
Ahlul Hadits adalah kelompok yang sangat jauh dari penyimpangan terhadap perintah Rasulullah shallallahualaihi wasallam dan sangat jauh dari fitnah.
Ahlul Hadits adalah kelompok yang menjadikan undang-undangnya di atas hujjah firman Allah’Azza wa Jalla yang artinya:
“Maka demi Rabb-mu, mereka tidak dikatakan beriman hingga menjadikan dirimu (Muhammad shallallahualaihi wasallam) sebagai hakim dari perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa di dalam hati mereka suatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya". (QS.An Nisaa:65)
Ahlul hadits adalah kelompok yang menjunjung tinggi dan mengagungkan nash-nash Al Quran dan Sunnah sesuai kedudukannya. Mereka dahulukan keduanya (Al Quran dan Sunnah) di atas seluruh perkataan manusia. Mereka dahulukan petunjuk Rasul-Nya di atas petunjuk seluruh manusia. Mereka berhukum dengannya dalam seluruh urusan dengan keridhaan yang sempurna, jiwa yang lapang, dan tidak ada rasa sempit dan berat. Mereka serahkan diri sepenuhnya untuk Allah dan Rasul-Nya dengan penyerahan yang sempurna dalam aqidah, ibadah, dan muamalah.
Mereka adalah kelompok yang siap menerima panggilan Allah Azza wa Jalla (yang artinya) :
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin apabila mereka diseru kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menetapkan hukum pada mereka adalah :"kami mendengar dan kami taat (patuh)".Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung ".(QS.An Nuur : 51)


Mereka (ahlul hadits) setelah para shahabat Rasulullah alaihisshalaatu wasallam adalah golongan tabiin, diantaranya adalah: Said bin Al Musayib (90 Hijriah), Urwah bin Az Zubair (94 H), Ali bin Al Husain Zainal Abidin (93 H) , Muhammad bin Al Hanafiyah (80 H), Ubaidillah bin Abdillah bin Utbah bin Masud (94 H), Salim bin Abdullah bin Umar (106 H), Al Qosim bin Muhammad bin Abi Bakr As Shiddiq (106 H), Al Hasan Al Bashri (110 H) , Muhammad bin Sirrin (110 H), Umar bin Abdul Aziz (101 H), Muhammad bin Syihab Az Zuhri (125 H).

Kemudian Atbaut Tabiin, mereka diantaranya adalah: Imam Malik (179 H), Al Auzai (157 H), Sufyan bin Said Ats Tsauri (161 H), Sufyan bin Uyainah (198 H), Ismail bin Aliyah (193 H), Al Laits bin Saad (175 H).

Generasi kemudian yang mengikuti mereka diantaranya adalah: Abdullah bin Al Mubarok (181 H), Waqi bin Al Jarroh (197 H), Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafii (204 H), Abdurrahman Ibnu Mahdi (198 H), Yahya bin Said Al Qoththon (198 H), Affan bin Muslim (219 H).

Kemudian murid mereka (murid Atba Atbaut Tabiin) diantaranya yaitu : Al Imam Ahmad bin Hambal (241 H), Yahya bin Main (233 H), Ali bin Al Madini (234 H).

Kemudian murid-murid mereka diantaranya : Al Imam Al Bukhari (256 H), Muslim (261), Abu Hatim (277), Abu Zurah (264), Abu Dawud (275 H), At Tirmidzi (279 H), An Nasai (303).

Kemudian generasi setelahnya yang mengikuti mereka diantaranya : Al Imam Ibnu Jarir (310 H), Ibnu Khuzaimah (311 H), Ad Daruquthni dan Al Khatib Al Baghdadi (463 H), Ibnu Abdil Barr (463 H), Abdul Ghani Al Maqdisi (600 H), Ibnu Qudamah (620 H), Ibnu Ash Shalah (643 H), Ibnu Taimiyah ( 728 H), Al Mizzi (743 H), Adz Dzahabi (748 H), Ibnu Katsir (774 H).

Dan orang-orang yang mengikuti mereka di setiap generasi, yang berpegang teguh kepada Al Qur’an dan as sunnah sampai pada zaman sekarang disebut sebagai ahlul hadits.

Kesungguhan Ahlul Hadits dalam berkhidmat di atas Sunnah
Sungguh Allah telah menjunjung dan memuliakan ahlul hadits untuk mencintai, memuliakan, mementingkan dan mengambil pelajaran atau kaidah dari sunnah nabi alaihishalaatu wasallam yang suci bersama Al Qur’an sebagai rujukan tunggal untuk pengajaran Islam yang berkaitan dengan masalah akidah maupun syariat. Dalam ibadah, muamalah dan seluruh sendi-sendi kehidupan manusia.
Mereka berjalan dengan arif dan kesungguhan yang tinggi untuk menghafal hadits, mengajarkan, membukukan, rihlah (melakukan perjalanan) yang panjang dan melelahkan, membedakan antara yang sahihdan tidak, membukukan nama-nama periwayat hadits dan menerangkan keadaan mereka dari sisi keadilan dan sisi kepercayaan atau dari sisi kedustaan, dan sifat tadlis (menyembunyikan) serta sifat-sifat lain dari seluruh macam yang berkaitan dengan jarh dan at tadil ( cacat dan tidaknya) baik yang berkaitan dengan sanad (keterhubungan perawi) dan matan (isi) hadits, tanpa melebih-lebihkan perawi, dan mereka melakukan itu semua tanpa perasaan takut atas cercaan, dan hanya mengharap keridhoan Allah Taala.
Yang demikian itu adalah kekhususan yang hanya diberikan kepada umat nabi Muhammad alaihishalaatu wasallam dan tidak diberikan kepada umat-umat yang lainnya. Allah berikan pada tangan-tangan imam ahlul hadits permulaan kesempurnaan untuk menguasai ilmu hadits yang penuh dengan hal-hal yang menakjubkan.
Tidak ada satupun dari para ahlu ilmi yang sejajar dan menyamai kedudukan serta keahlian para imam ahli hadits.
Allah telah membukakan dan menerangkan kepada seluruh umat manusia akan amalan, kesungguhan dan sesuatu yang sangat mulia yang ditingggalkan para imam ahli hadits, yaitu kitab-kitab karangan mereka yang didasari dengan tingkat kejeniusan, bakat atau pembawaan dan akal yang sangat luar biasa, sehingga mereka Mampu menguasai ilmu hadits dan macam-macamnya yang sarat dengan kesulitan.

(Diterjemahkan Oleh Al Ustadz abu ‘Isa Nurwahid dari Kitab Makaanah Ahlul Hadts wa Matsarahum wa Atsarahum al Hamidah fid Diin )

{1} (Hadits Shahih dikeluarkan oleh : Imam Muslim III/1523, Imam Ahmad (Al Musnad V/278-279), Imam Abu Dawud (As Sunan III/4), Imam Tirmidzi (As Sunan IV/420), Imam Ibnu Majah (As Sunan I/4-5), Al Hakim ( Al Mustadrak IV/449-450), Ath Thabrani (Al Mujam Al Kabir,7643), Ath Thayalisi ( Al Musnad Hal.94, No.689)}.(Lihat Ash Shahihah : Al Allamah Syaikh Al Albani : 270,1955)
{2} ( Hadits Shahih Diriwayatkan oleh Imam Ahmad ( Al Musnad II/332), Imam Abu Dawud ( As Sunan IV/197), Imam Tirmidzi ( As Sunan V/25), Al Hakim (Al Mustadrak I/129)}.(Lihat : Ash Shahihah Al Allamah Syaikh Al Albani hal 203)


Sumber : Buletin Dawah Al ATsary, Semarang Edisi 8/1427H
Sumber URL : http://www.darussalaf.or.id

Sabtu, 14 Juni 2014

6 Prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah

Penulis: Ustadz Agus Suaidi, Gresik

Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah setiap orang dari manapun asalnya yang mengikuti ajaran Rasulullah shallalllahu ‘alaihi wa sallam dan para shahabatnya baik dalam hal keyakinan, amalan maupun ucapan.

Ada enam prinsip utama yang membedakan antara Ahlus Sunnah al Jamaah dan golongan lain.

Pinsip Ahlusunnah yang pertama:
Ikhlas dalam Beribadah

Ikhlas menurut arti bahasa: membersihkan atau memurnikan sesuatu dari kotoran. Sedangkan menurut istilah syar’i, ikhlas adalah membersihkan dan memurnikan ibadah dari segala jenis kotoran syirik.

Setelah diketahui pengertian ikhlas menurut pengertian syar’i, dapat diambil kesimpulan bahwa orang dikatakan ikhlas dalam beribadah apabila ia bertauhid dan meninggalkan segala jenis syirik.

Perlu diketahui, bahwa seseorang itu dikatakan bertauhid apabila meyakini dengan mantap tiga jenis tauhid dan meninggalkan dua jenis syirik. Lalu apa saja tiga jenis tauhid yang harus diyakini?

Tauhid yang pertama: Tauhid Rububiyyah, maksudnya kita harus yakin bahwa yang mencipta, yang memberi rezeki dan yang mengatur alam semesta hanya Allah Ta’ala tidak ada sekutu bagi-Nya.

Tauhid yang kedua: Tauhid Uluhiyyah, maksudnya yakin bahwa yang berhak disembah dan diberikan segala bentuk peribadatan hanyalah Allah Ta’ala tidak ada sekutu bagi-Nya.

Tauhid yang ketiga: Tauhid Asma’ wa Sifat, maksudnya kita harus yakin bahwa Allah Ta’ala memiliki Nama dan Sifat yang Mulia dan tidak sama dengan makhluk-Nya. Kita harus meyakini seluruh Nama dan Sifat Allah yang ada di dalam Alquran dan Assunnah apa adanya.

Setelah meyakini ketiga jenis tauhid ini, maka wajib meninggalkan dua jenis syirik yang menjadi musuh bagi orang-orang yang bertauhid.

Syirik yang pertama disebut Syirik Akbar, yaitu syirik yang menyebabkan pelakunya keluar dari Islam. Syirik jenis ini amat banyak jumlah dan macamnya, di antaranya adalah: meyakini ada yang mencipta dan yang mengatur alam ini selain Allah Ta’ala, meminta rejeki atau jodoh kepada orang yang telah mati atau kepada jin, menolak sebagian atau seluruh Nama dan Sifat Allah Ta’ala dan masih banyak bentuk lainnya.

Syirik yang kedua disebut Syirik Asyghar, yaitu syirik kecil yang tidak menyebabkan pelakunya dikeluarkan dari Islam. Namun dosanya lebih besar daripada dosa zina, dosa mencuri atau kemaksiatan lainnya. Di antara amalan yang termasuk jenis syirik ini adalah riya’ (ingin dilihat oleh orang ketika beribadah), sum’ah (ingin didengar ibadahnya oleh orang lain), bersumpah dengan nama selain Allah, memakai jimat dengan keyakinan bahwa kekuatannya bersumber dari Allah. Untuk yang satu ini bila diyakini bahwa sumber kekuatan itu dari jimatnya, maka sudah termasuk Syirik Akbar. Dan masih banyak lagi macamnya.

Siapa saja yang telah meyakini tiga jenis tauhid dan meninggalkan dua jenis syirik ini, maka dia telah ikhlas dalam beribadah kepada Allah Ta’ala. Inilah prinsip utama Ahlus Sunnah wal Jamaah yang terus diperjuangkan. Anda bisa melihat, mereka terus berdakwah menegakkan tauhid dan memberantas segala penyakit syirik walaupun banyak kalangan yang menentangnya, mereka memiliki dasar Alquran Surat Al-Bayyinah ayat 5 yang artinya: “Dan tidaklah mereka diperintah kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan cara ikhlas dalam melaksanakan agama-Nya dan Hanif (meninggalkan segala jenis syirik) ...”

Pinsip Ahlusunnah yang kedua:
Bersatu di atas Alquran dan Assunnah dengan pemahaman salaful ummah

Banyak aktivis Islam yang saat ini menyerukan persatuan umat. Ada yang menggunakan partai sebagai alat pemersatu, ada juga yang menggunakan suku bangsa bahkan ada juga yang menyatukan umat dengan slogan “yang penting muslim”, walaupun keyakinan dan prinsip hidupnya berbeda-beda. Akibatnya terjadi banyak perpecahan di kalangan mereka karena masing-masing memiliki kepentingan yang berbeda. Kalaupun secara dhohir mereka bersatu, banyak prinsip Alquran dan Assunnah yang dikorbankan dalam rangka menjaga persatuan antara mereka.

Ahlus Sunnah wal Jamaah memiliki prinsip persatuan yang mantap dan akan terus diperjuangkan. Apa itu? Yaitu bersatu di atas Al Quran dan Assunnah dengan pemahaman salaful ummah.

Mengapa harus bersatu diatas Alquran dan Assunnah? Karena ini memang perintah dari Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman dalam surat Ali Imran ayat 103: “Dan berpegang teguhlah dengan tali Allah seluruhnya dan jangan kalian berpecah belah ...”

Ibnu Mas’ud radliyallahu ’anhu berkata: “Tali Allah artinya Kitabullah”. (Tafsir Ibnu Jarir dan lainnya)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku tinggalkan sesuatu untuk kalian. Bila kalian berpegang teguh dengannya maka kalian tidak akan tersesat selamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. Imam Malik, Al-Hakim dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Al-Misykah no: 186)

Bila ada yang berkomentar, “Banyak kelompok yang mengklaim dirinya di atas Alquran dan Assunnah, namun kenapa terjadi perbedaan prinsip dan cara pandang yang menyebabkan mereka terpecah belah?” Untuk menjawab pertanyaan ini cukup mudah, “Karena mereka memahami Alquran dan Assunnah dengan kemampuan akal yang disesuaikan dengan keinginan dan kepentingan kelompoknya”.

Lalu bagaimana seharusnya? Dalam memahami Alquran dan Assunnah wajib merujuk kepada pemahaman dan penjelasan dari Salaful Ummah. Siapa sebenarnya Salaful Ummah itu? Mereka adalah para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang betul-betul paham maksud Al Quran dan Assunnah karena merekalah yang langsung mendengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mengapa harus sesuai dengan pemahaman mereka, bukankah mereka juga manusia seperti kita? Karena mereka dan orang-orang yang mengikuti pemahaman mereka telah diridlai oleh Allah Ta’ala. Di dalam surat At-Taubah ayat 100 disebutkan yang artinya: “Generasi pertama dari kalangan shahabat Muhajirin dan Ashor serta orang-orang yang mengikuti jejak langkah mereka dengan baik, Allah ridla kepada mereka dan merekapun ridla kepada-Nya”.

Di samping itu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga memerintahkan kita untuk mengikuti pemahaman para shahabat. “Sesungguhnya barang siapa yang masih hidup sepeninggalku nanti,ia akan melihat perbedaan prinsip yang banyak sekali, untuk itu wajib bagi kalian mengikuti sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, peganglah erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham dan jauhilah perkara baru dalam agama, karena setiap perkara baru dalam agama itu bid’ah dan setiap bidah itu sesat.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shohih Sunan Abu Dawud no: 4607). Inilah prinsip persatuan umat yang harus dijadikan sebagai pegangan.

Barang siapa yang menggunakan cara lain untuk menyatukan umat maka ia akan menuai kegagalan atau mungkin berhasil tetapi bersatu diatas kebatilan. Wallahu A’lam. 

Prinsip Ahlusunah yang ketiga:
Larangan Memberontak dan Kewajiban Mentaati Penguasa Muslim yang Sah dalam hal yang ma’ruf (benar)

Menggulingkan kekuasaan pemerintah pada saat ini seolah-olah menjadi tujuan kebanyakan orang. Mereka ingin tokoh idolanya menjadi pemegang tampuk kekuasaan, lebih-lebih bila sang penguasa memiliki banyak kelemahan walaupun masih sah dan beragama Islam, mereka berusaha mati-matian untuk menggulingkan dengan mengatasnamakan rakyat dan keadilan. Ada juga yang memanfaatkan keadaan untuk merebut pangkat dan jabatan dengan cara membela sang penguasa habis-habisan bahkan membenarkan seluruh ucapan dan keputusan walaupun menyimpang jauh dari syari’at Islam. Lalu bagaimana prinsip Al Quran dan Assunnah menurut pemahaman salaful ummah dalam menyikapi sang penguasa ?

Allah berfirman dalam surat An-Nisa’ ayat 59 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rosul dan Ulil Amri (pemimpin/penguasa muslim)...”

Syaikh As-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan maksud ayat ini sebagai berikut:

“Allah memerintahkan untuk taat kepada Ulil Amri, mereka adalah pemimpin negara, hakim atau mufti (ahli fatwa). Karena urusan agama dan dunia tidak akan berjalan dengan baik melainkan dengan cara taat dan tunduk kepada Ulil Amri sebagai wujud taat kepada perintah Allah dan dalam rangka mengharap pahala dari-Nya. Akan tetapi dengan syarat penguasa tidak memerintah kita untuk berbuat maksiat. Bila diperintah untuk maksiat maka tidak ada ketaatan sedikitpun kepada makhluk untuk bermaksiat kepada Al-Khaliq. Barangkali inilah rahasia tidak disebutkannya fi’il amr (kata perintah) ketika Allah memerintahkan untuk taat kepada Ulil Amri dan sebaliknya disebutkan fi’il amr ketika memerintah untuk taat kepada Rasul-Nya. Karena beliau hanya memerintah untuk mentaati Allah, sehingga barang siapa yang mentaati beliau sama saja dengan mentaati Allah Ta’ala. Adapun Ulil Amri baru ditaati bila tidak memerintah untuk bermaksiat.”

Dalam hadits shahih disebutkan, dari Ubadah bin Shomit, Radiyallahu ‘anhu, ia berkata:

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengambil janji setia kepada kami, agar kami mendengar dan taat (kepada penguasa) baik dalam keadaan bersemangat atau lesu, dalam keadaan sulit atau mapan meskipun kami dizalimi, dan agar kami tidak menggulingkan kekuasaan lalu beliau bersabda: “Kecuali kalian melihat ada kekufuran yang nyata (pada penguasa) dan kalian memiliki dalil dari Allah dalam masalah tersebut.” (HR. Muslim/1709, Nasa’i dan lainnya)

Dari keterangan Al Quran dan Assunnah inilah, Ahlus Sunnah wal Jamaah berprinsip bahwa: Wajib bagi kita mentaati penguasa muslim yang sah dalam hal yang ma’ruf (bukan maksiat) dan haram menggulingkan kekuasaannya dengan alasan apapun kecuali memenuhi dua syarat yang telah dijelaskan oleh Syaikh Bin Baz rahimahullah setelah membawakan hadits di atas. Apa dua syarat tersebut?

Syarat pertama: Adanya kekufuran yang nyata pada diri sang penguasa dan kita menemukan dalil syar’i dalam masalah kekufuran tersebut.

Syarat kedua: Adanya kemampuan untuk menyingkirkan penguasa tersebut dengan cara yang tidak menimbulkan madlarat yang lebih besar.

Tanpa kedua syarat ini, maka tidak boleh! (Al-Ma’lum min Wajibil ‘Alaqoh Bainal Hakim wal Mahkum hal. 19)

Wahai kaum muslimin, kembalilah kepada petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Wallahul musta’an. 

Prinsip Ahlusunah yang keempat:
Menggapai Kemuliaan dengan Ilmu Syar’i

Kita semua sepakat bahwa tujuan hidup manusia di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Allah Ta’ala sebagaimana yang telah ditegaskan di dalam Al Quran surat Adz-Dzariyat ayat 56. Oleh sebab itu, merupakan keharusan bagi kita untuk mengerti, apa yang dimaksud ibadah itu? Apakah ibadah hanya sebatas shalat, puasa, haji atau yang lainnya? Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Al-’Ubudiyyah halaman 38 menjelaskan bahwa ibadah itu mencakup segala perkara yang dicintai dan diridlai Allah Ta’ala baik berupa ucapan merupakan perbuatan, baik yang nampak maupun yang tersembunyi.

Setelah kita mengerti makna ibadah, kita wajib mengerti macam-macam ibadah secara terperinci agar kita bisa menunaikan tugas dengan baik dan benar. Dari sini timbul pertanyaan, dari mana kita bisa mengetahui secara rinci macam-macam ibadah yang dicintai dan diridlai Allah Ta’ala? Mampukah akal kita menyimpulkan sendiri perincian tugas ibadah itu?

Untuk mengetahui secara rinci ibadah yang dicintai dan diridlai Allah Ta’ala tidak bisa disimpulkan dengan akal kita, tetapi harus ada petunjuk langsung dari Allah Ta’ala yang menugaskan kita untuk beribadah kepada-Nya. Petunjuk itu bernama Al Quran dan Assunnah yang telah dijelaskan secara rinci oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para shahabatnya radliyallahu ‘anhu. Singkat kata, wajib bagi kita mempelajari Al Quran dan Assunnah agar kita bisa menunaikan tugas ibadah dengan baik dan benar. Perlu diketahui, bahwa Al Quran dan Assunnah itulah yang disebut Ilmu Syar’i sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Abbas radliyallahu ‘anhuma dan lainnya. Lihat “Al-Ilmu Asy-Syar’i” halaman 8-10 karya Abdurrahman Abul Hasan Al-’Aizuri.

Oleh sebab itu, siapa saja yang mempelajari ilmu syar’i dan mengamalkannya berarti ia telah menjalankan tugas ibadah dengan baik dan benar, barang siapa yang telah menunaikan tugas ibadah dengan baik, ia layak mendapat kemuliaan dan kehormatan dari Allah Ta’ala. Di dalam surat Al-Mujadalah ayat 11 disebutkan:

“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu diantara kalian.”

As-Sa’di rahimahullah dalam tafsirnya halaman 846 berkata: “Di dalam ayat ini terdapat keutamaan ilmu syar’i, dan buah dari ilmu itu adalah beradab dan beramal atas dasar ilmu tersebut.”

Dalam hadits shahih juga ditegaskan:

“Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah mendapat kebaikan, maka Allah jadikan paham agama ini.”

Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-Asqolani rahimahullah dalam Fathul Bari juz 1 halaman 222 menjelaskan : “Dari hadits ini dapat dipahami, bahwa orang-orang yang tidak paham agama dan dasar-dasarnya, ia tidak akan mendapat kebaikan sedikitpun”.



Ahlus Sunnah wal Jama’ah memahami hal ini, untuk itu mereka gigih dan bersemangat untuk mempelajari ilmu syar’i dan mengamalkannya dengan baik dan benar, mereka punya prinsip yang mantap dan mengagumkan, yakni Berilmu Sebelum Berkata dan Beramal, untuk menggapai kemuliaan. Wallahul musta’an.

Prinsip Ahlusunnah yang kelima:
Meyakini bahwa Wali Allah Adalah Orang yang Beriman dan Bertakwa

Bila kita amati sejenak keadaan umat, kita akan dapati satu masalah yang sangat memasyarakat di tengah mereka. Adegan-adegan luar biasa yang membuat sebagian orang merasa kagum, ada yang tidak mempan ditusuk senjata tajam, ada yang bisa makan beling seperti makan kerupuk, ada yang tidak penyet digilas mobil, ada yang kepalanya dipenggal lalu bisa langsung sambung dan yang sejenisnya.

Anehnya para penonton yang kebanyakan umat Islam banyak yang memberi gelar kehormatan “WALI ALLAH” kepada para pendekar kebanggaan mereka. Benarkah orang-orang sakti seperti itu disebut Wali Allah? Apa sebenarnya pengertian dan ciri-ciri Wali Allah menurut Al Quran dan As-Sunnah?

Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya :

“Ingatlah, sesungguhnya Wali Allah itu tidak akan takut dan bersedih hati, mereka adalah orang-orang yang beriman dan bertaqwa.” (QS. Yunus: 62)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (2/422) menjelaskan: “Allah Ta’ala menyatakan bahwa wali-Nya adalah orang beriman dan bertaqwa, maka siapa saja yang benar-benar bertaqwa maka ia layak disebut wali Allah Ta’ala”.

Di dalam Al Quran banyak disebutkan ciri-ciri Wali Allah, diantaranya adalah :

Ciri pertama: Beriman dan bertaqwa (QS. Yunus : 62)

Ciri kedua: Mengikuti Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (QS. Ali Imran : 31)

Ciri ketiga: Mencintai dan dicintai Allah Ta’ala karena mereka sayang kepada kaum muslimin dan tegas dihadapan orang kafir, mereka berjihad fii sabilillah dan tidak takut celaan apapun. (QS. Al-Maidah : 54)

Di dalam As-Sunnah As-Shohihah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Ar-Riqoq Bab At-Tawadlu’ (7/190) dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjelaskan ciri wali Allah, yaitu mereka rajin mengamalkan amalan-amalan sunnah setelah menunaikan amalan wajib.

Lalu, apakah hal-hal yang luar biasa yang terjadi pada diri seseorang itu termasuk ciri utama Wali Allah?

Perlu diketahui bahwa hal-hal yang luar biasa yang terjadi pada diri seseorang itu ada beberapa jenis:

1. Mu’jizat, terjadi pada nabi dan rasul.

2. Irhash, terjadi pada calon nabi dan rasul.

3. Karamah, terjadi pada wali Allah selain nabi dan rasul.

4. Istidroj atau sihir, terjadi pada wali syaithon.

Dari sini dapat diketahui bahwa Wali Allah itu kadang-kadang diberi hal-hal yang luar biasa dan ini disebut karamah, namun perlu diingat bahwa karamah ini bukan ciri utama Wali Allah dan tidak bisa dipelajari. Adapun adegan-adegan luar biasa yang saat ini semarak di masyarakat lebih condong kepada istidroj atau sihir dengan beberapa alasan :

Alasan pertama, pelakunya tidak memiliki ciri-ciri Wali Allah Ta’ala.

Alasan kedua, hal-hal yang luar biasa yang mereka tampilkan bisa dipelajari, terbukti mereka punya perguruan-perguruan yang mengajarkan seperti itu.

Singkat kata, Ahlus Sunnah wal Jama’ah berkeyakinan bahwa Wali Allah itu adalah orang yang berimana dan bertaqwa baik mendapat karamah maupun tidak, Wallahu A’lam.

Prinsip Ahlusunnah keenam :
Mensukseskan Gerakan Tashfiyah (pemurnian) & Tarbiyah (pendidikan)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Yahya Al-Mu’allimi dalam kitabnya Fadhlullah As-Shomad (1/17) menyatakan, ada tiga penyebab perpecahan dan kelemahan kaum muslimin saat ini. Pertama: tidak bisa membedakan antara ajaran Islam yang murni dengan ajaran yang disusupkan ke dalam Islam. Kedua: kurang yakin dengan kebenaran Islam. Ketiga: tidak mengamalkan Islam secara utuh.

Benarlah apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para shahabatnya. Dari Abu Najih Al-’Irbadl bin Sariyah radliyallahu ‘anhu ia bercerita: “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat kepada kita, nasehat itu membuat hati bergetar: “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sepertinya nasehat ini adalah nasehat perpisahan, untuk itu berilah kami wasiat!” Maka beliaupun bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan tetap mendengar dan taat (dalam hal yang baik - pent) walaupun kalian diperintah oleh penguasa dari budak Habsyi. Sesungguhnya, siapa saja di antara kalian yang masih hidup sepeninggalku nanti, pasti melihat banyak perselisihan, maka wajib atas kalian untuk tetap berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaurrosyidin yang mendapat petunjuk, peganglah sunnah itu dan gigitlah dengan gigi geraham (jangan sampai lepas) dan jauhilah perkara-perkara baru yang disusupkan ke dalam agama karena sesungguhnya setiap perkara baru yang disusupkan ke dalam agama itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat”. (HR. Abu Dawud, Tirmidzi dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ nomor: 2546)

Dalam hadits ini Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dengan jelas menyatakan bahwa penyebab perpecahan umat dan kelemahannya adalah tidak bisa membedakan antara sunnah beliau dan bid’ah yang disusupkan ke dalam ajaran agama. Disamping itu beliau juga memberikan solusinya dengan cara berpegang teguh dan mengamalkan sunnah beliau, yakni ajaran Islam yang murni.

Berangkat dari sinilah, Ahlus Sunnah wal Jamaah berusaha sekuat tenaga untuk mensukseskan gerakan Tashfiyah dan Tarbiyah. Lalu apa yang dimaksud dengan Tashfiyah dan Tarbiyah itu?

Tashfiyah adalah gerakan pemurnian ajaran Islam dengan cara menyingkirkan segala keyakinan, ucapan maupun amalan yang bukan berasal dari Islam. Sedangkan Tarbiyah adalah usaha mendidik generasi muslim dengan ajaran Islam yang murni, yang berdasarkan Al Quran dan Assunnah dengan pemahaman para Shahabat Radliyallahu ‘anhum ajma’in.

Dalam rangka mensukseskan gerakan ini, Ahlus Sunnah wal Jamaah terus menerus memperingatkan umat dari segala bentuk penyimpangan baik berupa kekufuran, kesyirikan, kebid’ahan maupun kemaksiatan, di samping itu juga meluruskan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi baik yang ada di kitab-kitab yang tersebar di kalangan umat maupun pernyataan-pernyataan sesat dari para penyesat. Dan yang termasuk program ini adalah memisahkan antara hadits shahih dengan hadits dha’if, ini semua dinilai sebagai amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi kewajiban kita semua.

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: Menyuruh umat untuk mengikuti sunnah dan melarang mereka dari kebid’ahan termasuk amar ma’ruf nahi munkar dan termasuk amal shaleh yang paling utama”. (Minhajus Sunnah: 5/253)

Semoga dengan gerakan Tashfiyah dan Tarbiyah ini, kaum muslimin sadar dan mau kembali ke agama Islam yang murni sehingga pertolongan Allah turun kepada kita. Wallahul musta’an.



Rujukan:

1. Syarh Al-Ushul As-Sittah, Asy-Syaikh Utsaimin.

2. Tanbih Dzamil Uqul As-Salimah, Asy-Syaikh ‘Ubaid Al-Jabiri

3. Sittu Durar min Ushuli Ahlil Atsar, Asy-Syaikh Abdul Malik Ramdloni.

4. At-Tashfiyyah Wat-Tarbiyyah, Asy-Syaikh Ali Hasan

5. Tafsir Al-Karimir Rahman, Asy-Syaikh As-Sa’di.

6. Qowaid wa Fawaid, Asy-Syaikh Nadlim Muhammad Sulthon.

7. Karamatu Auliya’illah, Al-Imam Al-Lalikai.

8. Al-Furqon Baina Auliya ‘ir rahman wa Auliya’ is syaithan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah.
Sumber URL : http://www.salafy.or.id

Dukun dan Tukang Ramal Budak Setan

Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

Sangatlah mengherankan, ternyata dari kalangan manusia ini ada yang menjadi murid sekaligus kaki tangan setan, siap menuruti segala petuahnya serta siap menjadi hamba dan budaknya. Dengan sikap ini, dia lancarkan segala manuver penyesatan yang dilakukan oleh musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan musuh kaum mukminin, pemimpin kejahatan, iblis la’natullah. Mereka adalah dukun dan tukang ramal.

Melalui murid, sang guru mendapatkan banyak peluang untuk melakukan penipuan dan penyesatan. Bahkan sang guru telah menciptakan kondisi yang seolah-olah umat ini tergantung dan tidak bisa terlepas dari dukun dan tukang ramal. Rumah panggung yang sudah reot dipadati pengunjung dari berbagai penjuru, yang semuanya ingin mengadukan nasib hidupnya. Padahal si dukun atau tukang ramal itu sendiri tidak mengetahui nasib dirinya. Karena jika dia mengetahui nasib hidupnya niscaya dia akan bisa mengubah nasibnya sendiri serta istri dan anaknya. Kedustaan menjadi senjatanya yang paling ampuh. Kekufuran menjadi baju dan selimutnya. Ilmu ghaib menjadi sandaran petuahnya.
Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

ูˆَุนِู†ْุฏَู‡ُ ู…َูَุงุชِุญُ ุงู„ْุบَูŠْุจِ ู„َุง ูŠَุนْู„َู…ُู‡َุง ุฅِู„َّุง ู‡ُูˆَ ูˆَูŠَุนْู„َู…ُ ู…َุง ูِูŠ ุงู„ْุจَุฑِّ ูˆَุงู„ْุจَุญْุฑِ ูˆَู…َุง ุชَุณْู‚ُุทُ ู…ِู†ْ ูˆَุฑَู‚َุฉٍ ุฅِู„َّุง ูŠَุนْู„َู…ُู‡َุง ูˆَู„َุง ุญَุจَّุฉٍ ูِูŠ ุธُู„ُู…َุงุชِ ุงู„ْุฃَุฑْุถِ ูˆَู„َุง ุฑَุทْุจٍ ูˆَู„َุง ูŠَุงุจِุณٍ ุฅِู„َّุง ูِูŠ ูƒِุชَุงุจٍ ู…ُุจِูŠู†ٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Al-Mahfuzh).” (Al-An’am: 59)

As-Sa’di rahimahullahu berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan ayat yang paling besar dalam merincikan luasnya ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang mencakup seluruh perkara ghaib. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan sebagiannya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki. Namun kebanyakan perkara ghaib itu disembunyikan ilmunya dari malaikat yang dekat maupun para rasul yang diutus, lebih-lebih dari selain mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui segala yang ada di daratan berupa berbagai macam hewan, pohon, pasir, kerikil, dan debu. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengetahui segala yang ada di lautan berupa berbagai macam hewan laut, segala macam tambang, ikan dan segala yang terkandung di dalamnya serta air yang meliputinya…

Jika semua makhluk dari yang pertama sampai yang terakhir, berkumpul untuk mengetahui sebagian sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya mereka tidak akan sanggup dan tidak akan mencapainya. Maka Maha Suci Allah Rabb yang Mulia, Maha Luas, Maha mengetahui, Maha terpuji, Maha Mulia, dan Maha menyaksikan segala sesuatu, tidak ada sesembahan selain-Nya. Tidak ada seorang pun yang sanggup memuji-Nya. Dia adalah sebagaimana Dia puji Diri-Nya, dan di atas segala pujian hamba-hamba-Nya. Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala mencakup segala sesuatu dan bahwa kitab-Nya (Lauh Al-Mahfuzh) yang tertulis mencakup segala kejadian.” (Tafsir As-Sa’di, 1/259)

ู‚ُู„ْ ู„َุง ุฃَู…ْู„ِูƒُ ู„ِู†َูْุณِูŠ ู†َูْุนًุง ูˆَู„َุง ุถَุฑًّุง ุฅِู„َّุง ู…َุง ุดَุงุกَ ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَู„َูˆْ ูƒُู†ْุชُ ุฃَุนْู„َู…ُ ุงู„ْุบَูŠْุจَ ู„َุงุณْุชَูƒْุซَุฑْุชُ ู…ِู†َ ุงู„ْุฎَูŠْุฑِ ูˆَู…َุง ู…َุณَّู†ِูŠَ ุงู„ุณُّูˆุกُ ุฅِู†ْ ุฃَู†َุง ุฅِู„َّุง ู†َุฐِูŠุฑٌ ูˆَุจَุดِูŠุฑٌ ู„ِู‚َูˆْู…ٍ ูŠُุคْู…ِู†ُูˆู†َ

“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman’.” (Al-A’raf: 188)

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada beliau agar menyerahkan semua urusannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga memerintahkan agar beliau memberitakan tentang dirinya bahwa dia tidak mengetahui perkara ghaib. Tidaklah beliau mengetahui perkara yang ghaib melainkan apa yang telah diberitahukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

ุนَุงู„ِู…ُ ุงู„ْุบَูŠْุจِ ูَู„َุง ูŠُุธْู‡ِุฑُ ุนَู„َู‰ ุบَูŠْุจِู‡ِ ุฃَุญَุฏًุง. ุฅِู„َّุง ู…َู†ِ ุงุฑْุชَุถَู‰ ู…ِู†ْ ุฑَุณُูˆู„ٍ ูَุฅِู†َّู‡ُ ูŠَุณْู„ُูƒُ ู…ِู†ْ ุจَูŠْู†ِ ูŠَุฏَูŠْู‡ِ ูˆَู…ِู†ْ ุฎَู„ْูِู‡ِ ุฑَุตَุฏًุง

“(Dia adalah Dzat) yang mengetahui yang ghaib. Maka dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (Al-Jin: 26-27) [Tafsir Ibnu Katsir, 3/523]

Jika imam para nabi dan rasul, Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui perkara ghaib, apakah kemudian selain beliau patut untuk mengilmuinya dan menjadikannya sebagai sandaran petuah? Apakah selain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menguasainya sementara beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak? Tentu ini adalah bentuk kedangkalan akal dan kerusakan fitrah.

Mengenal Lebih Dekat Dukun dan Arraf

‘Arraf merupakan bentuk mubalaghah (penyangatan) dari kata ‘arif. Ada sebagian ulama mengatakan bahwa ‘arraf itu sama dengan kahin (dukun) yaitu orang yang memberitahukan tentang sesuatu yang akan datang. Sebagian yang lain mengatakan ‘arraf adalah nama umum dari kata kahin, dukun, munajjim, rammal, dan selainnya, yaitu orang yang berbicara tentang sesuatu yang ghaib dengan tanda-tanda yang dia pergunakan.

Di antara alat yang dipergunakan untuk mengetahui perkara yang ghaib adalah: pertama, melalui kasyf (baca: terawangan); dan kedua, melalui setan. Al-Imam Al-Baghawi rahimahullahu mengatakan: “Arraf adalah orang yang mengaku mengerti suatu benda atau barang yang dicuri, tempat hilangnya, atau selainnya, dengan tanda-tanda tertentu.”

Kahin (dukun) adalah orang yang memberitahukan tentang terjadinya suatu perkara ghaib pada waktu yang akan datang. Atau dengan kata lain, orang yang memberitahukan apa yang ada di dalam hati. (Lihat Majmu’ Fatawa, 35/173)

Walhasil, ‘arraf dan kahin adalah orang yang mengambil ilmu dari mustariqus sama’ (para pencuri berita dari langit) yaitu para setan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menceritakan dalam sebuah hadits tentang cara pengajaran ilmu perdukunan oleh setan:

ุฅِุฐَุง ู‚َุถَู‰ ุงู„ู„ู‡ُ ุงู„ْุฃَู…ْุฑَ ูِูŠ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ุถَุฑَุจَุชِ ุงู„ْู…َู„َุงุฆِูƒَุฉُ ุจِุฃَุฌْู†ِุญَุชِู‡َุง ุฎุถَุนَุงู†ًุง ู„ِู‚َูˆْู„ِู‡ِ ูƒَุฃَู†َّู‡ُ ุณِู„ْุณِู„َุฉٌ ุนَู„َู‰ ุตَูْูˆَุงู†ٍ ูَุฅِุฐَุง ูُุฒِّุนَ ุนَู†ْ ู‚ُู„ُูˆุจِู‡ِู…ْ ู‚َุงู„ُูˆุง: ู…َุงุฐَุง ู‚َุงู„َ ุฑَุจُّูƒُู…ْ؟ ู‚َุงู„ُูˆุง ู„ِู„َّุฐِูŠ ู‚َุงู„َ: ุงู„ْุญَู‚َّ ูˆَู‡ُูˆَ ุงู„ْุนَู„ِูŠُّ ุงู„ْูƒَุจِูŠْุฑُ. ูَูŠَุณْู…َุนُู‡َุง ู…ُุณْุชَุฑِู‚ُ ุงู„ุณَّู…ْุนَ ูˆَู…ُุณْุชَุฑِู‚ُ ุงู„ุณَّู…ْุนِ ู‡َูƒَุฐَุง ุจَุนْุถَู‡ُ ูَูˆْู‚َ ุจَุนْุถٍ -ูˆَูˆَุตَูَ ุณُูْูŠَุงู†ُ ุจِูƒَูِّู‡ِ ูَุญَุฑَّูَู‡َุง ูˆَุจَุฏَّุฏَ ุจَูŠْู†َ ุฃَุตَุงุจِุนِู‡ِ- ูَูŠَุณْู…َุนُ ุงู„ْูƒَู„ِู…َุฉَ ูَูŠُู„ْู‚ِูŠู‡َุง ุฅِู„َู‰ ู…َู†ْ ุชَุญْุชَู‡ُ ุซُู…َّ ูŠُู„ْู‚ِูŠู‡َุง ุงู„ْุขุฎَุฑُ ุฅِู„َู‰ ู…َู†ْ ุชَุญْุชَู‡ُ ุญَุชَّู‰ ูŠُู„ْู‚ِูŠู‡َุง ุนَู„َู‰ ู„ِุณَุงู†ِ ุงู„ุณَّุงุญِุฑِ ุฃَูˆِ ุงู„ْูƒَุงู‡ِู†ِ ูَุฑُุจَّู…َุง ุฃَุฏْุฑَูƒَ ุงู„ุดِّู‡َุงุจُ ู‚َุจْู„َ ุฃَู†ْ ูŠُู„ْู‚ِูŠَู‡َุง ูˆَุฑُุจَّู…َุง ุฃَู„ْู‚َุงู‡َุง ู‚َุจْู„َ ุฃَู†ْ ูŠُุฏْุฑِูƒَู‡ُ ูَูŠَูƒْุฐِุจُ ู…َุนَู‡َุง ู…ِุงุฆَุฉَ ูƒِุฐْุจَุฉٍ ูَูŠُู‚َุงู„ُ: ุฃَู„َูŠْุณَ ู‚َุฏْ ู‚َุงู„َ ู„َู†َุง ูŠَูˆْู…َ ูƒَุฐَุง ูˆَูƒَุฐุง ูƒَุฐَุง ูˆَูƒَุฐَุง؟ ูَูŠُุตَุฏَّู‚ُ ุจِุชِู„ْูƒَ ุงู„ْูƒَู„ِู…َุฉِ ุงู„َّุชِูŠ ุณُู…ِุนَ ู…ِู†َ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ

Apabila Allah memutuskan sebuah urusan di langit, tertunduklah seluruh malaikat karena takutnya terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala seakan-akan suara rantai tergerus di atas batu. Tatkala tersadar, mereka berkata: “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab: “Kebenaran, dan dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Lalu berita tersebut dicuri oleh para pencuri pendengaran (setan). Demikian sebagian mereka di atas sebagian yang lain -Sufyan menggambarkan tumpang tindihnya mereka dengan telapak tangan beliau lalu menjarakkan antara jari jemarinya-. (Pencuri berita) itu mendengar kalimat yang disampaikan, lalu menyampaikannya kepada yang di bawahnya. Yang di bawahnya menyampaikannya kepada yang di bawahnya lagi, sampai dia menyampaikannya ke lisan tukang sihir atau dukun. Terkadang mereka terkena bintang pelempar sebelum dia menyampaikannya, namun terkadang dia bisa menyampaikan berita tersebut sebelum terkena bintang tersebut. Dia menyisipkan seratus kedustaan bersama satu berita yang benar itu. Kemudian petuah dukun yang salah dikomentari: “Bukankah dia telah mengatakan demikian pada hari demikian?” Dia dibenarkan dengan kalimat yang didengarnya dari langit itu.” (HR. Al-Bukhari no. 4522 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anahu)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menandaskan sebuah kedok dan sekaligus topeng mereka yang dipergunakan untuk menipu umat, yaitu satu kali benar dan seratus kali berdusta. Dengan satu kali benar itu, dia melarismaniskan seratus kedustaan yang diciptakannya. Dan kedustaannya itu tidak dibenarkan melainkan karena satu kalimat tersebut. (Lihat Tafsir As-Sa’di, 1/700 dan Al-Qaulus Sadid hal. 71)

Inilah sesungguhnya tujuan setan mencuri kebenaran dari langit, yaitu menipu manusia dan mencampurkan kebenaran dengan kebatilan serta mengaburkan kebenaran tersebut dengan kebatilan. Jika mereka membawa kebatilan yang murni, niscaya tidak ada seorang pun membenarkannya. Namun jika mereka mencampurkan kebatilan itu dengan sedikit kebenaran, akan menjadi fitnah (ujian) bagi orang yang lemah iman dan akalnya. (Lihat I’anatul Mustafid bi Syarh Kitab At-Tauhid 1/408)

Ada tiga keadaan terkait dengan guru-guru dukun dan tukang ramal, yaitu para pencuri kebenaran dari langit:

Pertama: Sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jumlah mereka banyak sekali.

Kedua: Setelah diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam kondisi ini, tidak pernah terjadi pencurian berita dari langit. Kalaupun terjadi, itu jarang dan bukan dalam hal wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketiga: Setelah beliau meninggal dunia. Kondisinya kembali kepada kondisi pertama, namun lebih sedikit dari kondisi sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Tamhid Syarah Kitab At-Tauhid, 1/447)

Benarkah Dukun dan Tukang Ramal Mengetahui Nasib alias Hal Ghaib?

Permasalahan perkara ghaib, ilmunya hanya di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Tidak ada sedikit pun ilmunya di tangan manusia. Jika ada orang yang mengaku mengerti ilmu ghaib berarti dia telah berdusta dan telah melakukan kekafiran yang nyata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

ูˆَุนِู†ْุฏَู‡ُ ู…َูَุงุชِุญُ ุงู„ْุบَูŠْุจِ ู„َุง ูŠَุนْู„َู…ُู‡َุง ุฅِู„َّุง ู‡ُูˆَ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri.” (Al-An’am: 59)

ู‚ُู„ْ ู„َุง ูŠَุนْู„َู…ُ ู…َู†ْ ูِูŠ ุงู„ุณَّู…َูˆَุงุชِ ูˆَุงู„ْุฃَุฑْุถِ ุงู„ْุบَูŠْุจَ ุฅِู„َّุง ุงู„ู„ู‡ُ ูˆَู…َุง ูŠَุดْุนُุฑُูˆู†َ ุฃَูŠَّุงู†َ ูŠُุจْุนَุซُูˆู†َ

“Katakanlah: ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)

ุฅِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ุนِู†ْุฏَู‡ُ ุนِู„ْู…ُ ุงู„ุณَّุงุนَุฉِ ูˆَูŠُู†َุฒِّู„ُ ุงู„ْุบَูŠْุซَ ูˆَูŠَุนْู„َู…ُ ู…َุง ูِูŠ ุงู„ْุฃَุฑْุญَุงู…ِ ูˆَู…َุง ุชَุฏْุฑِูŠ ู†َูْุณٌ ู…َุงุฐَุง ุชَูƒْุณِุจُ ุบَุฏًุง ูˆَู…َุง ุชَุฏْุฑِูŠ ู†َูْุณٌ ุจِุฃَูŠِّ ุฃَุฑْุถٍ ุชَู…ُูˆุชُ ุฅِู†َّ ุงู„ู„ู‡َ ุนَู„ِูŠู…ٌ ุฎَุจِูŠุฑٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal.” (Luqman: 34)

ุนَุงู„ِู…ُ ุงู„ْุบَูŠْุจِ ูَู„َุง ูŠُุธْู‡ِุฑُ ุนَู„َู‰ ุบَูŠْุจِู‡ِ ุฃَุญَุฏًุง. ุฅِู„َّุง ู…َู†ِ ุงุฑْุชَุถَู‰ ู…ِู†ْ ุฑَุณُูˆู„ٍ ูَุฅِู†َّู‡ُ ูŠَุณْู„ُูƒُ ู…ِู†ْ ุจَูŠْู†ِ ูŠَุฏَูŠْู‡ِ ูˆَู…ِู†ْ ุฎَู„ْูِู‡ِ ุฑَุตَุฏًุง. ู„ِูŠَุนْู„َู…َ ุฃَู†ْ ู‚َุฏْ ุฃَุจْู„َุบُูˆุง ุฑِุณَุงู„َุงุชِ ุฑَุจِّู‡ِู…ْ ูˆَุฃَุญَุงุทَ ุจِู…َุง ู„َุฏَูŠْู‡ِู…ْ ูˆَุฃَุญْุตَู‰ ูƒُู„َّ ุดَูŠْุกٍ ุนَุฏَุฏًุง

“(Dia adalah Dzat) yang mengetahui yang ghaib. maka dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Rabbnya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan dia menghitung segala sesuatu satu persatu.” (Al-Jin: 26-28)

Masih banyak lagi dalil yang menjelaskan masalah ini, baik di dalam Al-Qur’an atau di dalam hadits.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: “Ilmu ghaib … sebuah sifat yang khusus bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan semua yang diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perkara ghaib adalah pemberitahuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan semata-mata dari beliau.” (Fathul Bari, 9/203)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari ketika diri beliau dianggap mengetahui perkara ghaib, sebagaimana dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dari Rubayyi’ bintu Mu’awwidz bin ‘Afra radhiyallahu ‘anaha. Dia berkata: “Tatkala Rasulullah walimatul ‘urs denganku, beliau duduk seperti duduknya dirimu (maksudnya perawi, red.) di hadapanku. Mulailah budak-budak wanita memukul (duff/semacam rebana) dan berdendang tentang ayah-ayah mereka yang terbunuh pada perang Badr. Di saat itu, salah seorang mereka berkata: ‘Dan di tengah kami ada seorang Nabi, yang mengetahui perkara esok hari.’ Beliau lalu berkata: ‘Tinggalkan ucapan ini! Katakanlah seperti ucapan yang telah engkau ucapkan’.”

Hadits ini menunjukkan, tidak benar jika seseorang berkeyakinan bahwa seorang nabi, wali, imam, atau syahid, mengetahui perkara ghaib. Sampai pun di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keyakinan ini tidak boleh terjadi.” (Risalatut Tauhid, 1/77)

Pembaca yang budiman. Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai imam para nabi dan rasul tidak mengerti perkara ghaib, apakah masuk akal jika selain mereka dapat mengetahuinya? Dari sini jelaslah bahwa pengakuan mengetahui perkara ghaib adalah sebuah kedustaan yang nyata. Tampilnya para dukun dan tukang ramal yang mengaku mengerti hal itu merupakan dajjal.

Bolehkah Mendatangi Dukun dan Tukang Ramal?

Telah jelas dalam pembahasan di depan tentang hakikat dukun, siapa dia dan bagaimana kiprahnya di tengah umat sebagai “jagoan dalam berpetuah” tentang nasib seseorang. Lalu bagaimanakah hukum mendatangi mereka dan bertanya dalam berbagai persoalan kelangsungan hidup, susah atau senang, beruntung atau gagal, celaka atau selamat, dan sebagainya? Telah dibahas oleh para ulama hukum mendatangi mereka:

Pertama: Mendatanginya untuk bertanya tentang sesuatu tanpa membenarkan apa yang dikatakan. Ini termasuk sesuatu yang haram dalam agama. Ancamannya, tidak akan diterima shalatnya 40 malam, sebagaimana dalam hadits:

ู…َู†ْ ุฃَุชَู‰ ุนَุฑَّุงูًุง ูَุณَุฃَู„َู‡ُ ุนَู†ْ ุดَูŠْุกٍ ู„َู…ْ ุชُู‚ْุจَู„ْ ู„َู‡ُ ุตَู„َุงุฉٌ ุฃَุฑْุจَุนِูŠู†َ ู„َูŠْู„َุฉً

“Barangsiapa mendatangi tukang ramal, lalu dia bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak akan diterima shalatnya 40 malam.” (HR. Muslim no. 2230 dari istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Kedua: Mendatangi mereka untuk bertanya kepadanya dan dia membenarkannya, maka dia telah kufur terhadap apa yang telah dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

ู…َู†ْ ุฃَุชَู‰ ูƒَุงู‡ِู†ًุง -ู‚َุงู„َ ู…ُูˆุณَู‰ ูِูŠ ุญَุฏِูŠุซِู‡ِ: ูَุตَุฏَّู‚َู‡ُ ุจِู…َุง ูŠَู‚ُูˆู„ُ؛ ุซُู…َّ ุงุชَّูَู‚َุง- ุฃَูˆْ ุฃَุชَู‰ ุงู…ْุฑَุฃَุฉً -ู‚َุงู„َ ู…ُุณَุฏَّุฏٌ: ุงู…ْุฑَุฃَุชَู‡ُ ุญَุงุฆِุถًุง- ุฃَูˆْ ุฃَุชَู‰ ุงู…ْุฑَุฃَุฉً -ู‚َุงู„َ ู…ُุณَุฏَّุฏٌ: ุงู…ْุฑَุฃَุชَู‡ُ ูِูŠ ุฏُุจُุฑِู‡َุง- ูَู‚َุฏْ ุจَุฑِุฆَ ู…ِู…َّุง ุฃَู†ْุฒَู„َ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َู‰ ู…ُุญَู…َّุฏٌ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…

“Barangsiapa mendatangi dukun -Musa (perawi hadits) berkata: lalu dia membenarkan petuah dukun tersebut; kemudian mereka berdua sepakat dalam periwayatannya- atau mendatangi istrinya -Musaddad berkata: istrinya dalam keadaan haid- atau dia mendatangi istrinya -Musaddad berkata: istrinya pada duburnya- maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan oleh Allah kepada Muhammad.” (HR. Abu Dawud no. 9304 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anahu dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu)

Ketiga: Mendatangi mereka untuk mengujinya apakah dia benar atau dusta sekaligus untuk membongkar kedoknya, memperlihatkan kelemahannya. Tentunya dia memiliki ilmu untuk menilai benar atau dusta. Ini dibolehkan, bahkan terkadang hukumnya wajib, sebagaimana dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari (no. 1289) dan Muslim (no. 2930) bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Ibnu Shayyad: “Apa yang telah datang kepadamu?” “Telah datang kepadaku orang yang jujur dan pendusta.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apa yang kamu lihat?” Dia berkata: “Aku melihat Arsy di atas air.” Beliau bertanya: “Sesungguhnya aku telah merahasiakan sesuatu apakah dia?” Dia berkata: “Dukh, dukh (asap).” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Diamlah. Engkau tidak memiliki kemampuan melainkan apa yang telah diberikan oleh Allah kepadamu. Sesungguhnya engkau tidak lebih dari dukun seperti teman-temanmu.” (Lihat Majmu’ Fatawa, 4/186 dan Al-Qaul Al-Mufid, 1/397)

Jaringan Dukun dan Tukang Ramal serta Silsilah Ilmu Mereka

Telah lewat bahwa perdukunan dan peramalan itu sebuah kekufuran. Untuk mengerti berita tentang orang yang datang bertanya dan tentang barangnya yang dicuri, siapa yang mencurinya, barangnya yang hilang dan di mana tempat hilangnya, di sinilah letaknya kerja sama yang baik antara setan di satu pihak dengan dukun atau tukang ramal di pihak yang lain. Muhammad Hamid Al-Faqi berkata dalam komentarnya dalam kitab Fathul Majid (hal. 353): “Adanya hubungan intim antara qarin dari jin dengan qarin dari manusia, keduanya saling menyampaikan dan mencari berita yang disukai. Qarin dukun dan tukang ramal ini mencari berita dari qarin orang yang datang bertanya, karena setiap manusia memiliki qarin dari kalangan setan, sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lalu qarin orang yang bertanya itu memberitahukan kepada qarin dukun atau tukang ramal tersebut segala sesuatu yang merupakan perihal kebiasaan orang yang datang bertanya, dan perihal di rumahnya.”

Orang-orang jahil menduga bahwa ini terjadi dari buah keshalihan atau ketakwaan dan karamah. Dengan kebaikannya, dia telah membuka tabir tentang semuanya. Ini termasuk kesesatan yang paling tinggi dan kehinaan yang paling rendah, meskipun banyak orang telah tertipu bahkan orang yang dikatakan berilmu dan baik.”

Wallahu a‘lam.


Sumber: http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=835
http://www.assalafy.org/mahad/?p=468#more-468

Jumat, 13 Juni 2014

AHLUSUNNAH MENGIMANI BAHWA ALLAH TAALA DI ATAS ARSY NYA

Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed

Ayat-ayat al-Quran yang menyatakan bahwa Allah Maha tinggi di atas ‘Arsy-Nya sangat banyak. Diantaranya firman Allah:

ุฅِู†َّ ุฑَุจَّูƒُู…ُ ุงู„ู„َّู‡ُ ุงู„َّุฐِูŠ ุฎَู„َู‚َ ุงู„ุณَّู…َูˆَุงุชِ ูˆَุงْู„ุฃَุฑْุถَ ูِูŠ ุณِุชَّุฉِ ุฃَูŠَّุงู…ٍ ุซُู…َّ ุงุณْุชَูˆَู‰ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุนَุฑْุดِ... ]ุงู„ุฃุนุฑุงู: 54؛ ูŠูˆู†ุณ: 3[
Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia beristiwa’ di atas Arsy… (al-A’raaf: 54 dan Yunus: 3)

ุงู„ู„َّู‡ُ ุงู„َّุฐِูŠ ุฑَูَุนَ ุงู„ุณَّู…َูˆَุงุชِ ุจِุบَูŠْุฑِ ุนَู…َุฏٍ ุชَุฑَูˆْู†َู‡َุง ุซُู…َّ ุงุณْุชَูˆَู‰ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุนَุฑْุดِ... ]ุงู„ุฑุนุฏ: 2[
Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia beristiwa’ di atas Arsy …. (Ar-Rad: 2)

ุงู„َّุฐِูŠ ุฎَู„َู‚َ ุงู„ุณَّู…َูˆَุงุชِ ูˆَุงْู„ุฃَุฑْุถَ ูˆَู…َุง ุจَูŠْู†َู‡ُู…َุง ูِูŠ ุณِุชَّุฉِ ุฃَูŠَّุงู…ٍ ุซُู…َّ ุงุณْุชَูˆَู‰ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุนَุฑْุดِ...]ุงู„ูุฑู‚ุงู†: 59[
Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa’ di atas Arsy…(al-Furqan: 59)

ุงู„ุฑَّุญْู…َู†ُ ุนَู„َู‰ ุงู„ْุนَุฑْุดِ ุงุณْุชَูˆَู‰. ]ุทู‡: 5[
(Yaitu) Ar-Rahman yang beristiwa’ di atas ‘Arsy. (Thaha: 5)

...ุฅِู„َูŠْู‡ِ ูŠَุตْุนَุฏُ ุงู„ْูƒَู„ِู…ُ ุงู„ุทَّูŠِّุจُ ูˆَุงู„ْุนَู…َู„ُ ุงู„ุตَّุงู„ِุญُ ูŠَุฑْูَุนُู‡ُ...]ูุงุทุฑ: 10[
..Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkan-Nya… (Faathir: 10)

ูŠُุฏَุจِّุฑُ ุงْู„ุฃَู…ْุฑَ ู…ِู†َ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ุฅِู„َู‰ ุงْู„ุฃَุฑْุถِ ุซُู…َّ ูŠَุนْุฑُุฌُ ุฅِู„َูŠْู‡ِ ูِูŠ ูŠَูˆْู…ٍ ูƒَุงู†َ ู…ِู‚ْุฏَุงุฑُู‡ُ ุฃَู„ْูَ ุณَู†َุฉٍ ู…ِู…َّุง ุชَุนُุฏُّูˆู†َ. ]ุงู„ุณุฌุฏุฉ: 5[
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitungan kalian. (as-Sajdah: 5)

Dan masih banyak ayat-ayat lainnya yang menunjukkan Maha Tingginya Allah di atas ‘Arsy-Nya.

Dengan banyaknya ayat-ayat yang muhkamat (jelas dan tidak tersamar) tersebut, maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah sejak para Shahabat, Tabi’in dan para pengikut mereka dari kalangan ahlul hadits mengimani dengan yakin dan mempersaksikan bahwa Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰ tinggi di atas ‘Arsy-Nya. Mereka memahami makna istiwa’ dalam bahasa Arab yaitu “Tinggi, di Atas”. Hanya saja mereka tetap menyatakan bahwa ketinggian Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰ di atas ‘Arsy-Nya tidak sama dengan mahluk-Nya; tidak seperti seorang raja di atas singgasananya dan tidak pula seperti seseorang di atas kendaraannya. Ahlus Sunnah wal Jama’ah menyatakan bahwa tingginya Allah di atas ‘Arsy-Nya sesuai dengan kemuliaan-Nya.

Dan mereka tidak mempermasalahkan bagaimana dan seperti apa istiwa’nya Allah di atas ‘Arsy-Nya. Karena mereka meyakini bahwa dzat Allah tidak sama dengan mahluk-Nya, maka mereka tidak mungkin menerangkan bagaimana istiwa’nya Allah di atas ‘Arsy-Nya. Apalagi tidak ada satu sumberpun dari al-Quran dan as-Sunnah yang menerangkan tentang kaifiyahnya.

Seperti kisah yang terjadi pada Imam Malik ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ sebagaimana dinukil oleh imam ash-Shabuni dalam kitabnya Aqidatus Salaf wa ashhabul Hadits. Imam Malik ketika didatangi oleh seseorang di majlisnya, kemudian bertanya: “Ar-Rahman ‘alal ‘Arsy istawa, bagaimana istiwa’-Nya?”. Beliau ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ tertunduk dan marah. Dan tidaklah beliau pernah marah seperti marahnya ketika mendengarkan pertanyaan tersebut. Beliau pun meneteskan butiran-butiran keringat dari dahinya; sementara para hadirin pun terdiam dan tertunduk, semuanya menunggu apa yang akan terjadi dan apa yang akan dikatakan oleh Imam Malik. Beberapa saat kemudian beliau ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ pun tersadar dan mengangkat kepalanya, seraya berkata:

ุงู„ْูƒَูŠْูُ ุบَูŠْุฑُ ู…َุนْู‚ُูˆْู„ٍ، ูˆَุงْู„ุฃِุณْุชِูˆَุงุกُ ุบَูŠْุฑُ ู…َุฌْู‡ُูˆู„ٍ، ูˆَุงْู„ุฅِูŠْู…َุงู†ُ ุจِِู‡ِ ูˆَุงุฌِุจٌ، ูˆَุงู„ุณُّุคَุงู„ُ ุนَู†ْู‡ُ ุจِุฏْุนَุฉٌ، ูˆَุฅู†ِّูŠ َู„ุฃَุฎَุงูُ ุฃَู†ْ ุชَูƒُูˆْู†َ ุถَุงู„ุงًّ.

“Tentang bagaimananya tidak bisa diketahui dengan akal, tentang makna istiwa’ sudah diketahui; beriman dengannya adalah wajib, dan bertanya tentangnya (tentang kaifiyah) adalah bid’ah. Dan sungguh aku khawatir bahwa engkau adalah orang yang sesat.”
Maka orang itupun diperintahkan untuk diusir dari majlisnya. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 45)

Demikianlah sikap keras para ulama ahlus sunnah terhadap pertanyaan takyif yang tidak mungkin bisa dipikirkan dengan akal, karena masalah dzat Alllah dan sifat-sifat-Nya adalah masalah ghaib yang kita tidak mungkin dapat mengenalinya kecuali melalui al-Qur’an dan sunnah.

Dan para ulama ahlus sunnah pun tidak ada yang berselisih tentang istiwa’nya Allah di atas ‘Arsy-Nya, dan ‘Arsy-Nya di atas langit. Mereka menetapkan hal ini sesuai dengan apa yang telah Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰ tetapkan; mengimani, membenarkan Allah azza wa jalla dalam berita-berita yang telah disampaikan-Nya dan mengucapkan sesuai dengan apa yang telah Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰ ucapkan tentang istiwa’Nya di atas ‘ArsyNya. Mereka melangsungkannya atas dhahir (ayat-ayat)nya dan menyerahkan tentang kaifiyahnya kepada Allah. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal.44)

Ahlus sunnah tidak pula berani menarik makna istiwa kepada makna-makna lain yang sama sekali tidak berkaitan dengan lafadznya, seperti apa yang dilakukan oleh ahlul bid’ah yang menarik makna “istiwa’” kepada “istaula”. Kalimat ini bukan tafsir, bukan pula makna istiwa’, karena sama sekali tidak berkaitan dengan lafadz maupun maknanya. Perbuatan ini termasuk tahrif yaitu mengganti kalimat al-Qur’an dengan kalimat yang lain yang tidak saling berhubungan, baik secara lafadz maupun secara makna.

Pantas kalau dikatakan oleh para ulama, bahwa apa yang dilakukan oleh mereka sama persis seperti yang telah dilakukan oleh kaum Yahudi terhadap kitab mereka. Mereka mengganti kalimat hithah menjadi hinthah.

Sebagaimana Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰ kisahkan tentang tahrif mereka ini dalam ayat-Nya:

... ูˆَู‚ُูˆู„ُูˆุง ุญِุทَّุฉٌ ู†َุบْูِุฑْ ู„َูƒُู…ْ ุฎَุทَุงูŠَุงูƒُู…ْ ูˆَุณَู†َุฒِูŠุฏُ ุงู„ْู…ُุญْุณِู†ِูŠู†َ (58) ูَุจَุฏَّู„َ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุธَู„َู…ُูˆุง ู‚َูˆْู„ุงً ุบَูŠْุฑَ ุงู„َّุฐِูŠ ู‚ِูŠู„َ ู„َู‡ُู…ْ ูَุฃَู†ْุฒَู„ْู†َุง ุนَู„َู‰ ุงู„َّุฐِูŠู†َ ุธَู„َู…ُูˆุง ุฑِุฌْุฒًุง ู…ِู†َ ุงู„ุณَّู…َุงุกِ ุจِู…َุง ูƒَุงู†ُูˆุง ูŠَูْุณُู‚ُูˆู†َ. ]ุงู„ุจู‚ุฑุฉ: 58-59[

…dan katakanlah: Hiththah ("Bebaskanlah kami dari dosa"), niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahan kalian, dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik". Maka orang-orang yang zalim mengganti kalimat yang diperintahkan kepada mereka dengan kalimat lain. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu kehinaan dari langit, karena mereka berbuat fasik. (al-Baqarah: 58-59)

Dijelaskan dalam tafsirnya, bahwa kaum Yahudi mengganti kalimat Hiththah menjadi Hinthah (gandum) untuk memperolok-olok perintah Nabinya.

Seperti inilah tahrif yang dilakukan oleh para penolak sifat terhadap kalimat “istiwa’” yang bermakna “Tinggi di atas” dengan kalimat “istaula” yang bermakna “menguasai” untuk menolak sifat Tinggi-nya Allah dan mendukung keyakinan batil mereka bahwa Allah menyatu dengan hamba-Nya di alam ini. Jika kaum Yahudi menambah huruf ‘nun’ pada Hiththah, sedangkan ahlul bid’ah menambah huruf ‘lam’ pada Istawa’.

Berkata Abu Utsman Ismail bin Abdurrahman Ash-Shabuni: “Ashhabul hadits meyakini dan mempersaksikan bahwa Allah ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰ di atas tujuh lapis langit, di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana Ia sebutkan dalam kitab-Nya”. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal.44)

Berkata Abdullah ibnul Mubarak; “Kami mengenali Rabb kami di atas tujuh lapis langit, tinggi di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari mahluk-Nya. Dan kami tidak berkata seperti ucapan Jahmiyah bahwa Dia ada di sini (sambil menunjuk ke bumi)”. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 46-47)

Berkata Muhammad bin Ishak ibnu Huzaimah: “Barangsiapa yang tidak mengatakan bahwa Allah azza wa jalla di atas ‘Arsy-Nya, tinggi di atas tujuh lapis langit, maka dia kafir kepada Rabb-nya; halal darahnya, diminta taubat kalau mau bertaubat; kalau tidak mau bertaubat, maka dipenggal lehernya, dibuang jasadnya ke tempat-tempat pembuangan sampah agar tidak mengganggu kaum muslimin dan para mu’ahad dengan busuknya bau bangkai mereka. Hartanya menjadi fa’i (pampasan perang untuk baitul maal). Tidak boleh mewarisinya seorang pun dari kaum muslimin, karena seorang muslim tidak mewarisi dari seorang kafir sebagaimana ucapan Nabi ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡:

ู„ุงَ ูŠَุฑِุซُ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ُ ุงู„ْูƒَุงูِุฑَ ูˆَู„ุงَ ูŠَุฑِุซُ ุงู„ْูƒَุงูِุฑُ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…َ. (ู…ุชูู‚ ุนู„ูŠู‡(

Orang muslim tidak mewarisi dari orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi dari orang muslim. (HR. Bukhari Muslim) (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 47)

Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah berdalil atas tidak bolehnya memerdekakan budak yang kafir untuk kaffarah dengan riwayat dari Mu’awiyah bin Hakam, ketika ia ingin memerdekakan budak perempuan hitam sebagai kaffarah. Maka Rasulullah ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… pun mengujinya dengan bertanya kepadanya: “Di mana Allah?” Dia menjawab: “Di langit”. Kemudian beliau ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… bertanya lagi: “Siapa Aku?” Maka budak itu menjawab dengan mengisyaratkan dengan jarinya kepada beliau dan ke langit. Yakni engkau adalah utusan yang di langit. Maka Rasulullah ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… bersabda:

ุงِุนْุชِู‚ْู‡َุง ูَุฅِู†َّู‡َุง ู…ُุคْู…ِู†َุฉٌ.

Merdekakanlah dia, karena dia adalah seorang mukminah. (HSR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad, dan Ibnu Huzaimah).

Dengan riwayat ini Rasulullah ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…menyatakan keislaman budak tersebut dengan pernyataannya bahwa Allah Maha Tinggi di atas langit. Dan Imam Syafi’i berdalil dengan hadits ini karena beliau meyakini Allah Maha Tinggi di atas ‘Arsy-Nya, dan bahwasanya seseorang yang mengikrarkan yang demikian adalah seorang mukmin.

Tidak mungkin seorang seperti imam Syafi’i ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡, tidak sependapat dengan hadits yang telah diriwayatkannya. Sebagaimana telah dikisahkan dari beliau ketika pada suatu hari beliau meriwayatkan hadits, ada seorang yang bertanya kepadanya: “Wahai Abu Abdillah (kunyah dari Imam Syafi’I –pent.) apakah engkau sependapat dengan hadits ini?” Maka beliau ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡ marah seraya berkata:

ุชَุฑَุงู†ِูŠ ูِูŠ ุจِูŠْุนَุฉٍ ุฃَูˆْ ูƒَู†ِูŠْุณَุฉٍ؟ ุชَุฑَู‰ ุนَู„َูŠَّ ุฒِูŠَّ ุงู„ْูƒُูَّุงุฑِ؟ ู‡ُูˆَ ุฐَุง ุชَุฑุงَู†ِูŠ ูِูŠ ู…َุณْุฌِุฏِ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ، ุนَู„َู‰ ุฒِูŠِّ ุงู„ْู…ُุณْู„ِู…ِูŠْู†َ، ู…ُุณْุชَู‚ْุจِู„َ ู‚ِุจْู„َุชِู‡ِู…ْ، ุฃَุฑْูˆِูŠ ุญَุฏِูŠْุซًุง ุนَู†ِ ุงู„ู†َّุจِูŠِّ ุซُู…َّ ู„ุงَ ุงَู‚ُูˆْู„ُ ุจِู‡ِ؟

Apakah engkau melihat aku (keluar) dari biara atau gereja?! Apakah engkau melihat aku memakai pakaian orang kafir?! Bukankah engkau melihat aku berada dalam masjid kaum muslimin, dengan pakaian kaum muslimin, menghadap kiblat kaum muslimin? Apakah apabila aku telah meriwayatkan hadits dari Nabi kemudian aku tidak sependapat dengannya?! (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 47-48)

Ini adalah bukti kalau imam Syafi’i tentu sependapat dengan hadits ini, bahwa seseorang dikatakan mukmin jika mengikrarkan dan meyakini bahwa Allah Maha Tinggi di Atas tujuh lapis langit di atas ‘Arsy-Nya.
Wallahu a’lam.

(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf Edisi: Edisi: 49/Th. II, tgl 2 Muharram 1426 H/11 Februari 2005 M, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli "Allah Maha Tinggi di atas Arsy-Nya". Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Infaq Rp. 100,-/exp. Pesanan min. 50 exp di bayar di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Redaksi: Muhammad Sholehuddin, Dedi Supriyadi, Eri Ziyad; Sekretaris: Ahmad Fauzan; Sirkulasi: Arief Subekti, Agus Rudiyanto, Zaenal Arifin; Keuangan: Kusnendi. Pemesanan hubungi: Arif Subekti telp. (0231) 481215.)

www.salafy.or.id versi CHM

Menyikapi orang yang melihat Hilal sendirian

Penulis: Redaksi Mahad As Salafy

Asy-Syaikh Al-Albani menukilkan keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa (25/114) :

”Apabila seseorang melihat hilal Ramadhan atau Syawal apakah menjalankan ash-shaum atau berhari raya dengan ru’yahnya sendiri? Atau menjalankannya bersama kaum muslimin?”

Dalam masalah ini ada tiga pendapat semuanya diriwayatkan dari Al-Imam Ahmad kemudian beliau menyebutkan pendapat tersebut satu-persatu dalam kitabnya dan yang perlu untuk kita sampaikan di sini adalah pendapat yang sesuai dengan hadits yaitu :

Pendapat ketiga : bershaum dan berhari raya bersama kaum muslimin adalah pendapat yang paling kuat berdasarkan hadits dari Abi Hurairah, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam berkata :

ุตَูˆْู…ُูƒُู…ْ ูŠَูˆْู…َ ุชَุตُูˆู…ُูˆู†َ ูˆَูِุทْุฑُูƒُู…ْ ูŠَูˆْู…َ ุชُูْุทِุฑُูˆู†َ ูˆَ ุฃَุถْุญَุงูƒُู…ْ ูŠَูˆْู…َ ุชُุถَุญُّูˆู†َ (ุฑูˆุงู‡ ุงู„ุชุฑู…ุฐูŠ ูˆ ู‚ุงู„ ุญุณู† ุบุฑูŠุจ)

Artinya :

“Shaumnya kalian adalah pada hari dimana kaum muslimin bershaum, Idul Fitri kalian adalah pada hari kaum muslimin beridul fitri, dan Idul Adha kalian adalah pada hari kaum muslimin beridul Adha.”([1])

H.R. Tirmidzi dan menyatakan hadits ini adalah hasan ghorib. Kemudian Al-Imam At-Tirmidzi memberikan komentar :

” Sebagian ulama menafsirkan hadits ini bahwa maknanya adalah ash-shaum dan hari raya bersama jama’ah kaum muslimin dan mayoritas dari mereka. “([2])

Pendapat ini dipilih oleh Ibnul Qoyyim, Ash-Shan’ani, Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, Asy-Syaikh Al-Albani dan Asy-Syaikh Muqbil dalam kitab beliau Al-Jami’ush Shahih, ketika beliau menyebutkan sebuah bab :

ุจَุงุจُ ุงู„ุตَّูˆْู… ูŠَูˆْู…َ ูŠَุตُูˆู…ُ ู…ُุนْุธَู…ُ ุงู„ู†َّุงุณُ

Artinya :

Bab yang Menjelaskan Bahwasannya Ash-Shaum pada Saat Mayoritas Kaum Muslimin Bershaum

Kemudian Asy-Syaikh Muqbil menyebutkan hadits Abu Hurairah di atas. [3])

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah menerangkan maksud hadits di atas yang terdapat dalam Ash-Shahihah hadist no.224, bahwa :

“Perkara inilah yang tepat dan sesuai dengan Asy-syariat yang bersifat selalu memberikan kemudahan ini, yang diantara tujuan utamanya adalah menyatukan barisan kaum muslimin dan menjauhkan semua sebab-sebab yang menimbulkan perpecahan diantara mereka dengan munculnya berbagai pendapat pribadi. Syariat ini tidak memperhitungkan pendapat pribadi - walaupun benar menurut dirinya - dalam sebuah ibadah yang bersifat jama’i (masal) seperti ash-shaum, hari raya, dan shalat berjama’ah. Bukankah anda mengetahui bahwa para Shahabat radhiallahu ‘anhum sebagian mereka berma`mum terhadap yang lainnya, sedangkan di antara mereka ada yang berpendapat bahwa menyentuh perempuan dan kemaluan serta keluarnya darah termasuk pembatal wudhu`. Sedangkan shahabat lain menganggap hal tersebut tidak membatalkan. Di antara mereka ada yang menyempurnakan shalat (tidak mengqashar) ketika safar dan ada pula yang mengqashar. Namun perbedaan seperti ini tidak menghalangi mereka untuk bersama-sama shalat di belakang seorang imam (yang berbeda pendapat dengan mereka) dan memberikan kepercayaan sepenuhnya kepada imam tersebut. Hal ini karena para shahabat mengetahui bahwa perpecahan dalam agama adalah lebih jelek dibandingkan perpecahan dalam masalah fiqh. Bahkan para shahabat meninggalkan pendapat yang ia yakini ketika menyelisih ketentuan imam ( kholifah ) dalam ruang lingkup masyarakat yang besar seperti di Mina. Sehingga mereka tidak mengamalkan secara mutlak pendapat yang mereka yakini dalam rangka menghindari dampak negatif (kejelekan) yang akan muncul setelahnya. Al-Imam Abu Dawud meriwayatkan bahwa Khalifah ‘Utsman radhiallahu ‘anhu tatkala shalat di Mina empat rakaat (tidak mengqashar shalat). Maka Ibnu Mas’ud mengingkari perbuatan Khalifah ‘Utsman tersebut seraya berkata : ‘Saya shalat di belakang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam serta di belakang Abu Bakr dan ‘Umar (mereka semua mengqashar shalat menjadi dua raka’at) kemudian muncul di masa Khalifah ‘Utsman, penyempurnaan shalat menjadi empat raka’at (di Mina). Sehingga kalian terpecah-belah. Sungguh saya berharap di terimanya dua rakaat dari empat rakaat yang aku lakukan bersama ‘Utsman. Setelah itu Ibnu Mas’ud shalat empat rakaat di belakang Utsman, kemudian beliau ditanya: “Anda mengkritik ‘Utsman sedangkan Anda sendiri Shalat empat raka’at (yakni berma`mum di belakang ‘Utsman).” Beliau berkata: ‘ (Karena) perselisihan (perpecahan) itu buruk.’

(Berkata Asy-Syaikh Al-Albani) : Sanad hadits ini shahih.

Al-Imam Ahmad meriwayatkan dalam musnadnya (V/155) dari Abu Dzarr kisah yang hampir sama.

Maka perhatikanlah hadits-hadits dan kisah-kisah di atas. Kemudian kita lihat keadaan kaum muslimin sekarang, mereka senantiasa terpecah pecah ketika shalat berjama’ah dan tidak mau shalat berma`mum di belakang sebagian imam-imam masjid, bahkan tatkala shalat witir pada bulan Ramadhan, dengan alasan beda madzhab atau beda pendapat. Yang lainnya lagi dari sekelompok orang yang mengaku menguasai ilmu falak, menjalankan shaum dan hari raya menyelisihi pemerintah kaum muslimin berdasarkan pada logika dan ilmu perbintangan mereka, tidak mau peduli dengan persatuan kaum muslimin.

Maka berbagai keterangan ini hendaknya diperhatikan dengan sungguh-sungguh. Semoga mereka mendapatkan obat bagi kebodohan dan kesombongan yang ada pada dirinya, sehinga kaum muslimin bersatu padu. Sesungguhnya Tangan Allah bersama persatuan.” ([4])

Sudah seharusnya bagi kaum muslimin untuk berusaha melakukan ru’yatul hilal, karena akan banyak mendatangkan manfaat bagi mereka. Dan bagi pemerintah kaum muslimin hendaknya menyebarluaskan berita tentang hasil ru’yah hilal Ramadhan atau Idul Fitri agar semua pihak bisa menjalankan kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan ru’yah hilal seperti shaum dan idul fitri.

Hal ini ditunjukkan oleh hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Daud dan selainnya :

ุชَุฑَุงุกَู‰ ุงู„ู†َّุงุณُ ุงู„ู‡ِْู„ุงَู„َ ูَุฃَุฎْุจَุฑْุชُ ุงู„ู†َّุจِูŠَّ r ุฃَู†ِّูŠ ุฑَุฃَูŠْุชُู‡ُ ูَุตَุงู…َ ูˆَุฃَู…َุฑَ ุงู„ู†َّุงุณَ ุจِุตِูŠَุงู…ِู‡ِ (ุตุญุญู‡ ุงู„ุฃู„ุจุงู†ูŠ ููŠ ุงู„ุฅุฑูˆุงุก ุฑู‚ู… 908)

Artinya :

“Kaum muslimin berusaha hilal, kemudian saya mengabarkan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bahwa saya melihatnya, maka beliau menjalankan ash-shaum dan memerintahkan kaum muslimin untuk bershaum.”(Dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Al-Irwa` hadits no. 908) ([5](

Dari hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma di atas diambil kesimpulan diterimanya khabar wahid (kabar dari satu orang) dalam ru’yatul hilal Ramadhan dan tidak disyaratkan lebih dari satu orang. Ini adalah pendapat kebanyakan dari para ulama sebagaimana dikatakan oleh Al-Imam At-Tirmidzi dan juga pendapatnya Al-Imam Asy-Syafi`i dan Al-Imam Ahmad. Kata Al-Imam An Nawawi rahimahullah : “Dan ini adalah pendapat yang paling benar.” Al-Imam Abu Daud membuat bab dalam Sunannya :

“ุจَุงุจُ ุดَู‡َุงุฏَุฉِ ุงู„ْูˆَุงุญِุฏِ ุนَู„َู‰ ุฑُุคْูŠَุฉِ ุงู„ْู‡ِู„ุงَู„ِ”

“Bab Tentang Persaksian Satu Orang dalam Ru’yatul Hilal”

kemudian disebutkan hadits di atas.


Footnote :
[1] H.R. Tirmidzi Abwaabush Shaum, bab 11, hadits no. 693,lihat Ash-Shohihah karya Syaikh Al-Albani no. 224, Irwaul gholil no. 905.

[2] Lihat Tamamul minnah hal. 359.

[3] Lihat Al-Jaami’ush Shahih jilid 2 hal. 373.

[4] Silsilah Al Ahaadiits As-shohiihah.no.224

[5] H.R. Abu Daud Kitabush Shiyaam, bab 14, hadits no.2339, Daruquthni no. 227, Ibnu Hiban no. 871, Al-Baihaqi 4/212, dan Ad-Darimi 2/4 hadits no. 1697 (di nukil dari Al Irwa’ (hadits no.908)

(Dikutip dari artikel "Orang yang Melihat Hilal Sendirian". Url sumber http://www.assalafy.org/mahad/?p=227) via http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1335

Kamis, 12 Juni 2014

Menjaga Kesucian Fitrah Manusia

Penulis: Al Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

Setiap orang diberi fitrah oleh Allah Subhanahu wa Taala berupa kesucian (jiwa yang lurus). Ia akan mengawali kehidupannya dengan fitrah suci ini. Setelah itu bisa terjadi perubahan yang sangat cepat dan drastis tanpa bisa diduga arahnya. Para penyeru kerusakan fitrah ini jumlahnya sangat banyak sehingga jangan heran bila orang yang keluar dari jalur kesucian jiwa ini lebih banyak daripada yang istiqamah.
Lingkungan, teman, keluarga, masyarakat, dan pendidikan memiliki andil besar dalam hal ini. Media massa juga tidak kalah hebat memberikan andil terjadinya kerusakan tersebut. Keinginan untuk merubah diri (menjadi baik) telah hilang dari kebanyakan orang, sementara bola api yang ditendang oleh para penyeru kerusakan itu membakar di sana sini. Bila terkena percikannya akan menjadi abu yang siap ditiup angin, sementara hampir tidak ada orang yang tampil membantu dan membela karena orang yang ingin menolong pun tidak lepas pula dari mangsa bola api tersebut. Di saat kritis seperti inilah setiap insan sangat butuh kepada wahyu yang akan menyirami, menyejukkan dan memelihara dirinya. Setelah itu akan sangat jelas lagi siapa yang akan selamat di atas wahyu tersebut dan yang akan binasa selama-lamanya. Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

ู„ِูŠَู‡ْู„ِูƒَ ู…َู†ْ ู‡َู„َูƒَ ุนَู†ْ ุจَูŠِّู†َุฉٍ ูˆَูŠَุญْูŠุงَ ู…َู†ْ ุญَูŠَّ ุนَู†ْ ุจَูŠِّู†َุฉٍ

“Agar orang yang binasa itu binasanya dengan keterangan yang nyata dan agar orang yang hidup itu hidupnya dengan keterangan yang nyata pula.” (Al-Anfal: 42)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah mengatakan (dalam menafsirkan ayat di atas): “(Yaitu) agar menjadi hujjah dan penjelas bagi setiap penentang saat dia memilih jalan kekafiran daripada ilmu, sehingga ia tidak lagi memiliki alasan (tidak bisa berkilah) di hadapan Allah Subhanahu wa Taala dan (sebaliknya) akan terus menambah ilmu bagi orang-orang yang beriman. Karena Allah Subhanahu wa Taala telah memperlihatkan di hadapan kedua kelompok tersebut segala yang menjadi bukti yang benar dan nyata. Semua ini menjadi peringatan bagi orang yang berakal.” (Tafsir As-Sa’di, 283)
Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

ุฃَูˆَู…َู†ْ ูƒุงَู†َ ู…َูŠْุชุงً ูَุฃَุญْูŠَูŠْู†ุงَู‡ُ ูˆَุฌَุนَู„ْู†ุงَ ู„َู‡ُ ู†ُูˆْุฑًุง ูŠَู…ْุดِูŠ ุจِู‡ِ ูِูŠ ุงู„ู†َّุงุณِ ูƒَู…َู†ْ ู…َุซَู„ُู‡ُ ูِูŠ ุงู„ุธُّู„ُู…ุงَุชِ ู„َูŠْุณَ ุจِุฎุงَุฑِุฌٍ ู…ِู†ْู‡ุงَ

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang yang dengan cahaya itu, dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya?” (Al-An’am: 122)
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Allah Subhanahu wa Taala menghimpun (memberi) bagi orang tersebut cahaya dan kehidupan sebagaimana Allah Subhanahu wa Taala menghimpun bagi orang yang berpaling dari Kitab-Nya antara kematian dan kegelapan. Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata: ‘Seluruh ahli tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud oleh ayat ini adalah seseorang yang kafir kepada Allah Subhanahu wa Taala lalu Dia memberikan kepadanya hidayah.” (Tafsir Al-Qayyim, 290)
Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

ูŠุข ุฃَูŠُّู‡ุงَ ุงู„َّุฐِูŠْู†َ ุขู…َู†ُูˆุง ุงุณْุชَุฌِูŠْุจُูˆุง ِู„ู„ู‡ِ ูˆَู„ِู„ุฑَّุณُูˆْู„ِ ุฅِุฐَุง ุฏَุนุงَูƒُู…ْ ู„ِู…ุงَ ูŠُุญْูŠِูŠْูƒُู…ْ

“Hai orang-orang yang beriman penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian.” (Al-Anfal: 24)
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Sesungguhnya kehidupan yang bermanfaat akan terwujud apabila kita memenuhi seruan Allah Subhanahu wa Taala dan Rasul-Nya. Barangsiapa tidak memenuhinya, dia tidak mendapatkan kehidupan. Dan jika dia memiliki kehidupan yang selalu melampiaskan hawa nafsu maka kehidupannya sama dengan kehidupan binatang yang paling rendah. Maka kehidupan yang hakiki adalah kehidupan dalam memenuhi panggilan Allah Subhanahu wa Taala dan Rasul-Nya, baik lahiriah maupun batiniah. Mereka hidup walaupun jasad mereka telah mati dan selain mereka (orang-orang yang tidak memenuhi seruan Allah Subhanahu wa Taala dan Rasul-Nya) mati walaupun jasad mereka hidup.” (Tafsir Al-Qayyimah, 288)
Dengan kejelasan hujjah Allah Subhanahu wa Taala ini, masih saja ada manusia yang berusaha mengelak bila hujjah itu mengenai dirinya, pemikiran, keyakinan, amalannya dan sebagainya. Maka muncullah orang-orang yang phobi terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Dia bagaikan mendengar suara halilintar yang akan menyambar dan memecah gendang telinga.
Namun, ada orang yang menjadikan ayat-ayat yang didengar dan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yang dibacakan bagaikan siraman kesejukan atas kegersangan hidupnya. Dia bisa mengambil manfaat untuk keselamatan diri dan menjadikannya sebagai tameng dari murka Allah Subhanahu wa Taala. Di sinilah terlihat betapa mahalnya hidayah dan Maha Bijaksana Allah Subhanahu wa Taala di dalam ketentuan-Nya. Oleh karena itu manusia di hadapan wahyu tidak terlepas dari dua keadaan dan keduanya telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam sabda beliau:

ูˆَุงู„ْู‚ُุฑْุขู†ُ ุญُุฌَّุฉٌ ู„َูƒَ ุฃูˆْ ุนَู„َูŠْูƒَ

“Dan Al-Qur’an akan menjadi hujjah bagimu atau menjadi penggugat atas dirimu.” (HR. Muslim dari shahabat Abu Malik Al-Harits bin ‘Ashim Al-Asy’ari radhiallahu anhu)

Tiga penyeru pada diri setiap insan
Bila setiap orang sadar dan introspeksi, ia akan menemukan ada penyeru di dalam dirinya yang akan mengajak kepada ridha Allah Subhanahu wa Taala ataupun kepada murka Allah Subhanahu wa Taala. Oleh karena itu, setiap jiwa jangan sekali-kali suka mengkambinghitamkan orang lain dan hendaklah dia mengarahkan cercaan itu kepada diri sendiri. Ada tiga penyeru yang masing-masing memiliki kekuatan besar pada diri setiap orang dan ketiga kekuatan akan saling menjatuhkan satu sama lain bila salah satunya mendapatkan peluang dan kesempatan yang lebih banyak.
Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata: “Sesungguhnya pada setiap jiwa ada tiga seruan dan pendorong yang saling menarik. Satu seruan mengajak dirinya untuk berhias dengan sifat-sifat setan seperti sifat sombong, hasad, cinta ketinggian, dzalim, berbuat jahat, suka mengganggu, suka kerusakan dan penipuan. Penyeru yang mengajak untuk berakhlak seperti binatang itulah seruan syahwat. Dan seruan yang mengajak kepada akhlak para Malaikat seperti ihsan, suka menasihati, menganjurkan kepada kebajikan, ilmu dan ketaatan. Penyeru ketiga adalah kurang atau tidak adanya muru`ah (harga diri).” (Madarijus Salikin, 2/351-352)

Senang kedudukan dan berbuat dzalim adalah akhlak setan
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mengungkap satu sifat yang tersembunyi pada diri anak Adam di mana sifat ini sangat berbahaya yaitu sifat tamak dan rakus. Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

ู„َูˆْ ุฃَู†َّ ِู„ุฅِุจْู†ِ ุขุฏَุงู…َ ูˆَุงุฏِูŠุงً ู…ِู†ْ ุฐَู‡َุจٍ ู„ุฃَุญَุจَّ ุฃَู†ْ ูŠَูƒُูˆْู†َ ู„َู‡ُ ูˆَุงุฏِูŠุงَู†ِ ูˆَู„َู†ْ ูŠَู…ْู„ุฃَ ูุงَู‡ُ ุฅِู„ุงَّ ุงู„ุชُّุฑَุงุจُ ูˆَูŠَุชُูˆْุจُ ุงู„ู„ู‡ُ ุนَู„َู‰ ู…َู†ْ ุชุงَุจَ

“Jika anak Adam memiliki satu lembah emas dia akan mencari agar menjadi dua lembah dan tidak ada yang akan menutup mulutnya melainkan tanah. Dan Allah menerima taubat orang yang bertaubat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim no. 1049)
Ibnu Hajar rahimahullah berkata: Al-Karmani berkata: “Yang dimaksud hadits ini bukan hanya satu anggota badan saja (yakni mulut) karena tanah tidak hanya menutupi mulut saja namun (bagian tubuh) yang lain pun bisa tertutupi. Hadits ini merupakan kinayah tentang kematian yang akan menutupi seluruh jasad, seakan-akan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Tidak akan merasa puas dari dunia sampai dia mati.” (Fathul Bari, 11/287)
Ibnu Hajar rahimahullah juga berkata: Ath-Thibi berkata: “Makna hadits ini adalah bahwa anak Adam diberi tabiat cinta kepada harta benda dan tidak merasa puas untuk mengumpulkannya kecuali orang-orang yang telah dijaga oleh Allah Subhanahu wa Taala dan diberi taufiq untuk menghilangkan tabiat ini dan sedikit sekali dari mereka yang mendapatkan taufiq.” (Fathul Bari, 11/288)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata: “Makna hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhu adalah bahwa bani Adam tidak akan merasa puas dari harta benda. Jika dia memiliki satu lembah dia akan berusaha untuk menjadi dua lembah dan tidak ada yang akan menutupi mulutnya melainkan tanah bila dia telah mati dan meninggalkan dunianya. Maka di saat inilah dia menjadi percaya setelah dunia hilang darinya. Bersamaan dengan itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk bertaubat karena mayoritas orang yang rakus dunia tidak akan memelihara diri dari perkara yang Allah Subhanahu wa Taala haramkan.” (Syarah Riyadhus Shalihin, 1/66)
Apabila seseorang tidak mendapatkan taufiq dari Allah Subhanahu wa Taala agar terlepas dari sifat rakus, maka dia akan berusaha untuk menjadi orang nomor satu dan yang paling tinggi. Dia akan menumbangkan setiap orang yang akan menggeser kedudukannya sehingga tidak takut lagi untuk mendzalimi saudara sendiri. Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

ุชِู„ْูƒَ ุงู„ุฏَّุงุฑُ ุงْู„ุขุฎِุฑَุฉُ ู†َุฌْุนَู„ُู‡ุงَ ู„ِู„َّุฐِูŠْู†َ ู„ุงَ ูŠُุฑِูŠْุฏُูˆْู†َ ุนُู„ُูˆًّุง ูِูŠ ุงْู„ุฃَุฑْุถِ ูˆَู„ุงَ ูَุณุงَุฏًุง

“Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 83)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Manusia itu terbagi menjadi empat macam. Pertama, orang-orang yang menginginkan ketinggian atas orang lain dan menginginkan kerusakan di muka bumi yaitu dengan bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Taala. Mereka itu adalah tingkatan para raja dan pemimpin yang merusak. Kedua, orang-orang yang menginginkan kerusakan dan sama sekali tidak menginginkan ketinggian seperti halnya pencuri, pelaku maksiat dari kalangan orang-orang rendahan. Ketiga, orang yang menginginkan ketinggian dengan tidak menginginkan kerusakan seperti seseorang yang memiliki ilmu agama dan dia menginginkan ketinggian dari orang lain. Keempat, mereka adalah penduduk surga, yang tidak menginginkan ketinggian di muka bumi dan kerusakan akan tetapi dia lebih tinggi kedudukannya dari yang lain.” (Majmu’ Fatawa, 28/217)
Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan: “Allah Subhanahu wa Taala memberitakan bahwa negeri akhirat dan kenikmatan yang abadi tidak akan berpindah apalagi hilang. Allah Subhanahu wa Taala telah mempersiapkannya bagi hamba-hamba-Nya yang beriman, merendahkan dirinya, dan tidak menginginkan sedikitpun ketinggian di muka bumi. Artinya, tidak mengangkat dan membesarkan diri di hadapan makhluk, (tidak bersikap) angkuh dan melakukan kerusakan di tengah-tengah mereka, sebagaimana ucapan ‘Ikrimah al-‘ulu artinya keangkuhan, Sa’id bin Jubair berkata al-‘ulu artinya kedzaliman, Sufyan Ats-Tsauri mengatakan dari Manshur dari Muslim Al-Bithin, al-‘ulu di muka bumi artinya ‘menyombongkan diri dengan kebatilan dan kerusakan,’ yakni mengambil harta orang lain dengan cara tidak benar.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/419)
Kerusakan yang diakibatkan oleh sifat rakus adalah besar. Mari kita menyimak apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam:
“Kerusakan yang diakibatkan oleh dua ekor serigala yang lapar kemudian dilepas pada seekor kambing tidak akan lebih besar dibanding (kerusakan yang diakibatkan oleh) seseorang yang rakus terhadap kedudukan dan harta benda bagi agamanya.” (HR Ath-Tirmidzi dan beliau berkata hadits ini hasan shahih)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata: “Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memberitakan bahwa rakusnya seseorang terhadap harta benda dan kedudukan akan merusak agamanya dan kerusakan ini lebih dahsyat dibanding kerusakan dua serigala yang sedang lapar terhadap kambing yang menyendiri.” (Majmu’ Fatawa, 28/217)
Wallahu a’lam bish-shawab.

Silahkan mengcopy dan memperbanyak artikel ini
dengan mencantumkan sumbernya yaitu : www.asysyariah.com