Tampilkan postingan dengan label dan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 23 Agustus 2014

Doa Nabi Adam dan Hawa

doa, nabi, adam, hawa, quran, al araf 23, godaan iblis, surga
Doa Nabi Adam
Nabi Adam dan Hawa memiliki kisah penuh rahasia dan tanda tanya. Allah SWT menempatkan mereka berdua di surga dan memerintahkan kepada mereka agar tidak memakan buah atau biji tertentu. Namun, iblis telah menggoda mereka dan mereka memakannya dan tertimpa bencana. Berikut ini doa Nabi Adam dan Hawa yang diabadikan dalam Al Quran Surah Al A’raf ayat 23.

Doa Nabi Adam dan Hawa
Allah swt berfirman kepada mereka: “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu: Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” Dalam kondisi ini, Nabi Adam dan Hawa bertaubat dan mengangkat tangan sambil berdoa:

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Rabbanaa zholamnaa anfusanaa waillam tagfirlanaa watarhamnaa lanakuunanna minal khoosiriin
Artinya:
“Ya Tuhan kami, kami telah menzhalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
 
Penjelasan Doa Nabi Adam dan Hawa
Doa Nabi Adam dan Hawa diabadikan dalam Al Quran surah Al Araf ayat 23.
 
doa, nabi adam, hawa, quran, al araf ayat 23
Doa Nabi Adam dan Hawa dalam Surah Al Araf Ayat 23
Bacaan doa ini merupakan ungkapan rasa bersalah Nabi Adam, melanggar larangan Allah. Sehingga akibat dari pelanggaran ini, Nabi Adam mendapat hukuman yaitu,dipisahkan dari istrinya Siti Hawa, selama kurang lebih dari 300 tahun lamanya.
 
Selama itu pula Nabi Adam selalu mengadakan pengakuan dosa atas kesalahan yang diperbuatnya. Dan itu terjadi atas ketidakmampuan Nabi Adam menghadapi bujuk rayu iblis yang senantiasa mengajak ke jalan kesesatan/kezhaliman, sebagaimana hal ini dikisahkan dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 36 dan Surah Al-Araf ayat 22.

Begitu Allah menerima pengakuan dosa Nabi Adam dan Nabi Adam diingatkan untuk mengikuti semua petunjuk-Nya,maka akhirnya Allah mempertemukan kembali dengan Siti Hawa di Jabal Rahmah, padang arafah. Pertemuan beliau sebagai implementasi ampunan dari Allah dan merupakan suatu kebahagiaan atau surga. Diolah dari berbagai sumber.
 
Tags yang terkait dengan doa nabi adam:doa nabi yusuf, doa nabi adam di multazam, doa nabi ibrahim, doa nabi nuh, doa nabi muhammad, doa nabi musa, doa nabi sulaiman, doa nabi yunus.
 
 

Minggu, 17 Agustus 2014

Salaf dan Salafiyah

Penulis: Syaikh Muhammad bin Rabi’ bin Hadi Al Madkhali

A. Makna Salaf

Kata Salaf sering diucapkan. Maksudnya adalah generasi pertama dari kalangan sahabat dan tabi’in (generasi pasca sahabat) yang berada di atas fitrah (dien) yang selamat dan bersih dengan wahyu Allah. Mereka menyandarkan aqidah kepada Alqur’an dan As sunnah yang suci. Pemikiran mereka belum ternodai dengan pemahaman-pemahaman filsafat asing. Mereka telah berlalu sebelum pengaruh filsafat-filsafat tersebut merusak kaum muslimin. Untuk mengetahui batasan Salaf, maka kita harus mengetahui batasan jaman dan manhaj mereka.

B. Batasan Jaman

Adapun batasan jaman mereka adalah tiga generasi yang pertama yang telah dipersaksikan oleh Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassallam. Untuk keutamaan mereka Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda,

"Sebaik-baiknya kalian adalah generasiku (Sahabat) kemudian orang-orang sesudah mereka (tabi’in) kemudian orang-orang setelah mereka (tabi’ut tabi’in)" (Shahih al-Bukhary, kitab Syahadat dari sahabat Imran bin Husain)

Demikian itu dikarenakan segala kebaikan yang ada pada diri mereka, dan di masa mereka kelompok-kelompok sesat belum menampakkan permusuhan dan belum menguasai kaum muslimin sebagaimana yang terjadi sesudah mereka tiada. Berarti yang dimaksud Salaf menurut tinjauan sejarah adalah para sahabat Nabi, kemudian tabi’in, kemudian orang-orang yang mengikuti mereka secara kebaikan.

C. Batasan Manhaji

Adapun batasan manhaji adalah orang-orang yang konsisten memegang prinsip-prinsip Alqur’an dan Assunnah, mengutamakan prinsip tersebut di atas prinsip-prinsip akal manusia dan mengembalikan semua permasalahan yang diperselisihkan kepada keduanya, berdasarkan firman Allah Subhanahu WaTa’ala,

"Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Alqur’an) dan Rasulullah (Assunnah) jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya"(An Nisa:59)

Inilah keistimewaan yang dimiliki oleh mereka (Ahlus Sunnah). Karena kelompok-kelompok yang menyelisihi mereka dengan berbagai macam bentuknya adalah tidak konsisten di atas manhaj (jalan) ini. Kelompok yang lain menolak sebagian hadits-hadits, walaupun hadits tersebut shahih dan mentakwilkan ayat-ayat yang sudah jelas dengan menyangka bahwa semuanya bertentangan dengan akal sebagaimana terjadi pada ayat-ayat dan hadits-hadits yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah. Sebab tidak ada yang menetapkan secara dhahiriyah dan menafikan tasybih (penyerupaan kepada makhluknya) kecuali ulama Salaf dan orang-orang yang mengikuti mereka.

"Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar"(At-Taubah:100)

Orang-orang yang telah dijelaskan dalam ayat tersebut dengan sifat-sifatnya adalah Salafush Shalih. Adapun orang-orang (generasi) setelahnya dan menempuh jalan yang ditempuh mereka maka dinisbahkan kepada mereka dengan huruf "ya", nisbahnya menjadi Salafi. Adapun orang-orang yang datang setelahnya dan tidak mengikuti jalan mereka, mereka adalah khalaf dan mereka bangga dengan keadaan yang demikian itu. Mereka memisahkan jalan mereka sendiri dari jalan Salaf, khususnya dalam hal menetapkan Sifat-sifat Allah. Bukti kongkrit yang demikian itu ada dalam makalah-makalah mereka yang menyatakan jalan Salaf adalah selamat dan jalan khalaf adalah a’alam (lebih berilmu) dan ahkam (lebih lurus). Makalah ini dan kebatilannya sangat mahsyur (terkenal). Dan juga dibawakannya makalah ini sebagai bukti pengakuan orang-orag khalaf bahwa mereka bukan di atas jalan Salaf, dan bahwasanya jalannya Khalaf lebih banyak ilmu dan lebih lurus.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah membatalkan ungkapan ini dan menetapkan bahwa jalan Salaf adalah menghimpun segala sifat-sifat yang baik. Maka dari itu JALAN MEREKA adalah ASLAM (SELAMAT), ‘ALAM (ILMIYAH), DAN AHKAM (LURUS).

Dinukil dari kitab "Adwa’un ‘ala Kutubis Salafi fil-Aqidati"
Judul Indonesia "Berkenalan Dengan Salaf"
Penerbit Maktabah Salafy Press

Sumber : www.darussalaf.or.id

Jumat, 15 Agustus 2014

Doa Dan Amalan Agar Bermimpi Ketemu Rasulullah SAW

Semua umat muslim sejati tentu menginginkan melihat junjungan dan panutannya, Rasulullah SAW. Tidak ada mimpi terindah bagi kaum muslim selain mimpi bertemu Rasulullah, Muhammad SAW. Sebab mimpi bertemu adalah berarti benar-benar beliau yang bertemu dengan kita. Sebab siapapun termasuk malaikat dan jin tidak akan mampu menjelmakan diri sebagai Rasulullah Muhammad SAW.

Doa Dan Amalan Agar Bermimpi Ketemu Rasulullah SAW


Dalam perjumpaan dengan Sang Kekasih Allah ini, kita bisa berdialog dan berdiskusi apa saja. Dia akan memberikan pitutur yang sangat bermanfaat bagi hidup kita. Ini adalah amalan untuk bertemu dengan Nabi Muhammad SAW dalam mimpi:

DOA DAN AMALAN MIMPI BERTEMU DENGAN NABI MUHAMMAD

Pada malam Jum’at usai sholat Maghrib bacalah Surat Al Qadr 1000 X.
Selanjutnya sholat dua rakaat. Pada rakaat pertama dan kedua setelah membaca Surat Al Fatihah, baca surat Al Fatihah lagi 15 X dan Ayat Kursi 15 X.
Setelah sholat, membaca salawat 7 kali: Shallaallaahu alaa Muhammad.
Selanjutnya, tidurlah di atas sajadah dengan menghadap kiblat.


Insya Allah, Nabi Muhammad akan berkenan untuk menemui Anda, umat yang rindu padanya dan akan memberikan petunjuk-Nya bagi keselamatan hidup dunia dan akhirat. Semoga Bermanfaat. (KWA)

Minggu, 15 Juni 2014

KEDUDUKAN DAN PERAN MULIA AHLUL HADITS DI DALAM SYARI’AT ISLAM

Penulis: Fadhilatu Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair Al Madkhali

Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad shallallahualaihi wasallam dengan petunjuk dan agama yang haq dengan tujuan meninggikan agama Islam di atas agama-agama lain di muka bumi ini, meskipun orang-orang kafir membencinya. Sesungguhnya manusia yang paling mulia dan tinggi kedudukannya di dalam menjalankan, mengikuti, mencintai, memberikan loyalitas dan pertolongan pada al haq (kebenaran) yang dibawa oleh Muhammad shallallahualaihi wasallam adalah para shahabat beliau yang mulia, generasi tabiin, atbaut tabiin dan orang-orang yang mengikuti jalan dan petunjuk mereka sampai akhir zaman.
Sesungguhnya siapapun yang mengetahui atau mempelajari keadaan kaum muslimin terdahulu, yang mereka secara umum menisbatkan dirinya sebagai umat Nabi Muhammad shallallahualaihi wasallam, akan menemukan bahwa sesungguhnya ahlul hadits adalah orang-orang yang paling tinggi di dalam mengikuti, mentaati dan menyandarkan seluruh amalan mereka sesuai petunjuk yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahualaihi wasallam yang berdasarkan Al Quran dan As Sunnah, baik dalam permasalahan aqidah, ibadah, muamalah, dakwah dan hujjah.
Golongan ahlul hadits adalah orang-orang yang paling tinggi kepercayaannya dalam meyakini manhaj (jalan) yang haq, yaitu manhaj yang dibawa secara sempurna oleh Nabi Muhammad shallallahualaihi wasallam, dan itu adalah jalan yang selamat dan lurus. Selain jalan tersebut, merupakan jalan yang tidak disyariatkan oleh Allah Subhanahu Wa Taala dan tidak Diridhoi oleh-Nya, yang dapat menghantarkan kita kepada kebinasaan dan adzab.

Siapakah Ahlul Hadits ?
Ahlul hadits adalah orang-orang yang berjalan di atas manhaj atau jalan yang ditempuh oleh para shahabat Rasulullah shallallahualaihi wasallam dan tabiin, yang berhujjah di atas dasar Al Quran dan As Sunnah. Mereka berpegang teguh kepada keduanya dan mendahulukan keduanya di atas seluruh perkataan dan petunjuk, baik dalam permasalahan aqidah, ibadah, muamalah (hubungan), akhlak, pemerintahan, atau bentuk organisasi yang masyru (disyariatkan).
Mereka adalah orang-orang yang tetap di atas perkara yang asas (pokok) dalam agama dan cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya yaitu Muhammad alaihishalaatu wasallam.
Mereka adalah orang-orang yang selalu menegakkan dakwah kepada Al Quran dengan kesungguhan, kejujuran dan azzam yang kuat, dan merekalah yang membawa ilmu hadits, membatalkan dan membantah penyimpangan orang-orang yang ghuluw (melampaui batas), penganut madzhab dan tawilnya orang-orang jahil.
Kedudukan ahlul hadits adalah sebagai pengawas seluruh golongan sesat dalam Islam, seperti golongan Jahmiyyah, Mutazilah, Khawarij, Rowafidh, Murjiah, Qodariyyah dan lainnya yang menyimpang dari jalan Allah atau sebagai pengikut hawa nafsu, kapan dan di manapun. Mereka tidak takut cercaan manusia kecuali hanya Allah. Mereka adalah kelompok yang dipuji dan di jamin oleh Rasulullah alaihishalaatu wasallam lewat sabdanya yang artinya : "Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang tetap mendhohirkan (menampakkan) yang haq. Mereka tetap tegar di atasnya, tidak dapat digoyahkan oleh orang-orang yang mencerca dan menyelisihi sampai tegaknya hari kiamat".{1}
Mereka adalah al-firqah an-najiyah (kelompok yang selamat) yang tetap di atas petunjuk Rasulullah alaihishalaatu wasallam dan sahabatnya. Sifat dan tanda mereka telah dikhabarkan oleh beliau shallallahualaihi wasallam ketika menyebutkan bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu kelompok, yaitu :"mereka yang tetap di atas petunjukku dan para sahabatku".{2}
Kami katakan demikian bukan sekedar dakwahan dusta dan isapan jempol belaka, akan tetapi kenyataan ini dipersaksikan di atas nash-nash Al Quran dan As Sunnah, sejarah dan persaksian dari perkataan, keadaan, dan karangan-karangan mereka (ahlul hadits).
Mereka adalah kelompok yang menempatkan pandangan hidupnya di atas firman Allah yang artinya :
“Dan berpegangteguhlah kalian semua kepada tali Allah (Al Quran) dan janganlah berpecah-belah".(QS.Ali Imran :103)
"maka peringatkanlah orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya untuk takut akan terkena fitnah atau adzab yang pedih .” (QS. An Nuur : 63)
Ahlul Hadits adalah kelompok yang sangat jauh dari penyimpangan terhadap perintah Rasulullah shallallahualaihi wasallam dan sangat jauh dari fitnah.
Ahlul Hadits adalah kelompok yang menjadikan undang-undangnya di atas hujjah firman Allah’Azza wa Jalla yang artinya:
“Maka demi Rabb-mu, mereka tidak dikatakan beriman hingga menjadikan dirimu (Muhammad shallallahualaihi wasallam) sebagai hakim dari perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa di dalam hati mereka suatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya". (QS.An Nisaa:65)
Ahlul hadits adalah kelompok yang menjunjung tinggi dan mengagungkan nash-nash Al Quran dan Sunnah sesuai kedudukannya. Mereka dahulukan keduanya (Al Quran dan Sunnah) di atas seluruh perkataan manusia. Mereka dahulukan petunjuk Rasul-Nya di atas petunjuk seluruh manusia. Mereka berhukum dengannya dalam seluruh urusan dengan keridhaan yang sempurna, jiwa yang lapang, dan tidak ada rasa sempit dan berat. Mereka serahkan diri sepenuhnya untuk Allah dan Rasul-Nya dengan penyerahan yang sempurna dalam aqidah, ibadah, dan muamalah.
Mereka adalah kelompok yang siap menerima panggilan Allah Azza wa Jalla (yang artinya) :
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin apabila mereka diseru kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menetapkan hukum pada mereka adalah :"kami mendengar dan kami taat (patuh)".Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung ".(QS.An Nuur : 51)


Mereka (ahlul hadits) setelah para shahabat Rasulullah alaihisshalaatu wasallam adalah golongan tabiin, diantaranya adalah: Said bin Al Musayib (90 Hijriah), Urwah bin Az Zubair (94 H), Ali bin Al Husain Zainal Abidin (93 H) , Muhammad bin Al Hanafiyah (80 H), Ubaidillah bin Abdillah bin Utbah bin Masud (94 H), Salim bin Abdullah bin Umar (106 H), Al Qosim bin Muhammad bin Abi Bakr As Shiddiq (106 H), Al Hasan Al Bashri (110 H) , Muhammad bin Sirrin (110 H), Umar bin Abdul Aziz (101 H), Muhammad bin Syihab Az Zuhri (125 H).

Kemudian Atbaut Tabiin, mereka diantaranya adalah: Imam Malik (179 H), Al Auzai (157 H), Sufyan bin Said Ats Tsauri (161 H), Sufyan bin Uyainah (198 H), Ismail bin Aliyah (193 H), Al Laits bin Saad (175 H).

Generasi kemudian yang mengikuti mereka diantaranya adalah: Abdullah bin Al Mubarok (181 H), Waqi bin Al Jarroh (197 H), Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafii (204 H), Abdurrahman Ibnu Mahdi (198 H), Yahya bin Said Al Qoththon (198 H), Affan bin Muslim (219 H).

Kemudian murid mereka (murid Atba Atbaut Tabiin) diantaranya yaitu : Al Imam Ahmad bin Hambal (241 H), Yahya bin Main (233 H), Ali bin Al Madini (234 H).

Kemudian murid-murid mereka diantaranya : Al Imam Al Bukhari (256 H), Muslim (261), Abu Hatim (277), Abu Zurah (264), Abu Dawud (275 H), At Tirmidzi (279 H), An Nasai (303).

Kemudian generasi setelahnya yang mengikuti mereka diantaranya : Al Imam Ibnu Jarir (310 H), Ibnu Khuzaimah (311 H), Ad Daruquthni dan Al Khatib Al Baghdadi (463 H), Ibnu Abdil Barr (463 H), Abdul Ghani Al Maqdisi (600 H), Ibnu Qudamah (620 H), Ibnu Ash Shalah (643 H), Ibnu Taimiyah ( 728 H), Al Mizzi (743 H), Adz Dzahabi (748 H), Ibnu Katsir (774 H).

Dan orang-orang yang mengikuti mereka di setiap generasi, yang berpegang teguh kepada Al Qur’an dan as sunnah sampai pada zaman sekarang disebut sebagai ahlul hadits.

Kesungguhan Ahlul Hadits dalam berkhidmat di atas Sunnah
Sungguh Allah telah menjunjung dan memuliakan ahlul hadits untuk mencintai, memuliakan, mementingkan dan mengambil pelajaran atau kaidah dari sunnah nabi alaihishalaatu wasallam yang suci bersama Al Qur’an sebagai rujukan tunggal untuk pengajaran Islam yang berkaitan dengan masalah akidah maupun syariat. Dalam ibadah, muamalah dan seluruh sendi-sendi kehidupan manusia.
Mereka berjalan dengan arif dan kesungguhan yang tinggi untuk menghafal hadits, mengajarkan, membukukan, rihlah (melakukan perjalanan) yang panjang dan melelahkan, membedakan antara yang sahihdan tidak, membukukan nama-nama periwayat hadits dan menerangkan keadaan mereka dari sisi keadilan dan sisi kepercayaan atau dari sisi kedustaan, dan sifat tadlis (menyembunyikan) serta sifat-sifat lain dari seluruh macam yang berkaitan dengan jarh dan at tadil ( cacat dan tidaknya) baik yang berkaitan dengan sanad (keterhubungan perawi) dan matan (isi) hadits, tanpa melebih-lebihkan perawi, dan mereka melakukan itu semua tanpa perasaan takut atas cercaan, dan hanya mengharap keridhoan Allah Taala.
Yang demikian itu adalah kekhususan yang hanya diberikan kepada umat nabi Muhammad alaihishalaatu wasallam dan tidak diberikan kepada umat-umat yang lainnya. Allah berikan pada tangan-tangan imam ahlul hadits permulaan kesempurnaan untuk menguasai ilmu hadits yang penuh dengan hal-hal yang menakjubkan.
Tidak ada satupun dari para ahlu ilmi yang sejajar dan menyamai kedudukan serta keahlian para imam ahli hadits.
Allah telah membukakan dan menerangkan kepada seluruh umat manusia akan amalan, kesungguhan dan sesuatu yang sangat mulia yang ditingggalkan para imam ahli hadits, yaitu kitab-kitab karangan mereka yang didasari dengan tingkat kejeniusan, bakat atau pembawaan dan akal yang sangat luar biasa, sehingga mereka Mampu menguasai ilmu hadits dan macam-macamnya yang sarat dengan kesulitan.

(Diterjemahkan Oleh Al Ustadz abu ‘Isa Nurwahid dari Kitab Makaanah Ahlul Hadts wa Matsarahum wa Atsarahum al Hamidah fid Diin )

{1} (Hadits Shahih dikeluarkan oleh : Imam Muslim III/1523, Imam Ahmad (Al Musnad V/278-279), Imam Abu Dawud (As Sunan III/4), Imam Tirmidzi (As Sunan IV/420), Imam Ibnu Majah (As Sunan I/4-5), Al Hakim ( Al Mustadrak IV/449-450), Ath Thabrani (Al Mujam Al Kabir,7643), Ath Thayalisi ( Al Musnad Hal.94, No.689)}.(Lihat Ash Shahihah : Al Allamah Syaikh Al Albani : 270,1955)
{2} ( Hadits Shahih Diriwayatkan oleh Imam Ahmad ( Al Musnad II/332), Imam Abu Dawud ( As Sunan IV/197), Imam Tirmidzi ( As Sunan V/25), Al Hakim (Al Mustadrak I/129)}.(Lihat : Ash Shahihah Al Allamah Syaikh Al Albani hal 203)


Sumber : Buletin Dawah Al ATsary, Semarang Edisi 8/1427H
Sumber URL : http://www.darussalaf.or.id

Sabtu, 14 Juni 2014

Dukun dan Tukang Ramal Budak Setan

Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

Sangatlah mengherankan, ternyata dari kalangan manusia ini ada yang menjadi murid sekaligus kaki tangan setan, siap menuruti segala petuahnya serta siap menjadi hamba dan budaknya. Dengan sikap ini, dia lancarkan segala manuver penyesatan yang dilakukan oleh musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan musuh kaum mukminin, pemimpin kejahatan, iblis la’natullah. Mereka adalah dukun dan tukang ramal.

Melalui murid, sang guru mendapatkan banyak peluang untuk melakukan penipuan dan penyesatan. Bahkan sang guru telah menciptakan kondisi yang seolah-olah umat ini tergantung dan tidak bisa terlepas dari dukun dan tukang ramal. Rumah panggung yang sudah reot dipadati pengunjung dari berbagai penjuru, yang semuanya ingin mengadukan nasib hidupnya. Padahal si dukun atau tukang ramal itu sendiri tidak mengetahui nasib dirinya. Karena jika dia mengetahui nasib hidupnya niscaya dia akan bisa mengubah nasibnya sendiri serta istri dan anaknya. Kedustaan menjadi senjatanya yang paling ampuh. Kekufuran menjadi baju dan selimutnya. Ilmu ghaib menjadi sandaran petuahnya.
Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri, dan dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Al-Mahfuzh).” (Al-An’am: 59)

As-Sa’di rahimahullahu berkata: “Ayat yang mulia ini merupakan ayat yang paling besar dalam merincikan luasnya ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang mencakup seluruh perkara ghaib. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan sebagiannya kepada hamba-hamba-Nya yang dikehendaki. Namun kebanyakan perkara ghaib itu disembunyikan ilmunya dari malaikat yang dekat maupun para rasul yang diutus, lebih-lebih dari selain mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui segala yang ada di daratan berupa berbagai macam hewan, pohon, pasir, kerikil, dan debu. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga mengetahui segala yang ada di lautan berupa berbagai macam hewan laut, segala macam tambang, ikan dan segala yang terkandung di dalamnya serta air yang meliputinya…

Jika semua makhluk dari yang pertama sampai yang terakhir, berkumpul untuk mengetahui sebagian sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, niscaya mereka tidak akan sanggup dan tidak akan mencapainya. Maka Maha Suci Allah Rabb yang Mulia, Maha Luas, Maha mengetahui, Maha terpuji, Maha Mulia, dan Maha menyaksikan segala sesuatu, tidak ada sesembahan selain-Nya. Tidak ada seorang pun yang sanggup memuji-Nya. Dia adalah sebagaimana Dia puji Diri-Nya, dan di atas segala pujian hamba-hamba-Nya. Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu Allah Subhanahu wa Ta’ala mencakup segala sesuatu dan bahwa kitab-Nya (Lauh Al-Mahfuzh) yang tertulis mencakup segala kejadian.” (Tafsir As-Sa’di, 1/259)

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah: ‘Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebaikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman’.” (Al-A’raf: 188)

Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada beliau agar menyerahkan semua urusannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Juga memerintahkan agar beliau memberitakan tentang dirinya bahwa dia tidak mengetahui perkara ghaib. Tidaklah beliau mengetahui perkara yang ghaib melainkan apa yang telah diberitahukan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

“(Dia adalah Dzat) yang mengetahui yang ghaib. Maka dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (Al-Jin: 26-27) [Tafsir Ibnu Katsir, 3/523]

Jika imam para nabi dan rasul, Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui perkara ghaib, apakah kemudian selain beliau patut untuk mengilmuinya dan menjadikannya sebagai sandaran petuah? Apakah selain beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menguasainya sementara beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak? Tentu ini adalah bentuk kedangkalan akal dan kerusakan fitrah.

Mengenal Lebih Dekat Dukun dan Arraf

‘Arraf merupakan bentuk mubalaghah (penyangatan) dari kata ‘arif. Ada sebagian ulama mengatakan bahwa ‘arraf itu sama dengan kahin (dukun) yaitu orang yang memberitahukan tentang sesuatu yang akan datang. Sebagian yang lain mengatakan ‘arraf adalah nama umum dari kata kahin, dukun, munajjim, rammal, dan selainnya, yaitu orang yang berbicara tentang sesuatu yang ghaib dengan tanda-tanda yang dia pergunakan.

Di antara alat yang dipergunakan untuk mengetahui perkara yang ghaib adalah: pertama, melalui kasyf (baca: terawangan); dan kedua, melalui setan. Al-Imam Al-Baghawi rahimahullahu mengatakan: “Arraf adalah orang yang mengaku mengerti suatu benda atau barang yang dicuri, tempat hilangnya, atau selainnya, dengan tanda-tanda tertentu.”

Kahin (dukun) adalah orang yang memberitahukan tentang terjadinya suatu perkara ghaib pada waktu yang akan datang. Atau dengan kata lain, orang yang memberitahukan apa yang ada di dalam hati. (Lihat Majmu’ Fatawa, 35/173)

Walhasil, ‘arraf dan kahin adalah orang yang mengambil ilmu dari mustariqus sama’ (para pencuri berita dari langit) yaitu para setan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menceritakan dalam sebuah hadits tentang cara pengajaran ilmu perdukunan oleh setan:

إِذَا قَضَى اللهُ الْأَمْرَ فِي السَّمَاءِ ضَرَبَتِ الْمَلَائِكَةُ بِأَجْنِحَتِهَا خضَعَانًا لِقَوْلِهِ كَأَنَّهُ سِلْسِلَةٌ عَلَى صَفْوَانٍ فَإِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوبِهِمْ قَالُوا: مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ قَالُوا لِلَّذِي قَالَ: الْحَقَّ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ. فَيَسْمَعُهَا مُسْتَرِقُ السَّمْعَ وَمُسْتَرِقُ السَّمْعِ هَكَذَا بَعْضَهُ فَوْقَ بَعْضٍ -وَوَصَفَ سُفْيَانُ بِكَفِّهِ فَحَرَّفَهَا وَبَدَّدَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ- فَيَسْمَعُ الْكَلِمَةَ فَيُلْقِيهَا إِلَى مَنْ تَحْتَهُ ثُمَّ يُلْقِيهَا الْآخَرُ إِلَى مَنْ تَحْتَهُ حَتَّى يُلْقِيهَا عَلَى لِسَانِ السَّاحِرِ أَوِ الْكَاهِنِ فَرُبَّمَا أَدْرَكَ الشِّهَابُ قَبْلَ أَنْ يُلْقِيَهَا وَرُبَّمَا أَلْقَاهَا قَبْلَ أَنْ يُدْرِكَهُ فَيَكْذِبُ مَعَهَا مِائَةَ كِذْبَةٍ فَيُقَالُ: أَلَيْسَ قَدْ قَالَ لَنَا يَوْمَ كَذَا وَكَذا كَذَا وَكَذَا؟ فَيُصَدَّقُ بِتِلْكَ الْكَلِمَةِ الَّتِي سُمِعَ مِنَ السَّمَاءِ

Apabila Allah memutuskan sebuah urusan di langit, tertunduklah seluruh malaikat karena takutnya terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala seakan-akan suara rantai tergerus di atas batu. Tatkala tersadar, mereka berkata: “Apa yang telah difirmankan oleh Rabb kalian?” Mereka menjawab: “Kebenaran, dan dia Maha Tinggi lagi Maha Besar.” Lalu berita tersebut dicuri oleh para pencuri pendengaran (setan). Demikian sebagian mereka di atas sebagian yang lain -Sufyan menggambarkan tumpang tindihnya mereka dengan telapak tangan beliau lalu menjarakkan antara jari jemarinya-. (Pencuri berita) itu mendengar kalimat yang disampaikan, lalu menyampaikannya kepada yang di bawahnya. Yang di bawahnya menyampaikannya kepada yang di bawahnya lagi, sampai dia menyampaikannya ke lisan tukang sihir atau dukun. Terkadang mereka terkena bintang pelempar sebelum dia menyampaikannya, namun terkadang dia bisa menyampaikan berita tersebut sebelum terkena bintang tersebut. Dia menyisipkan seratus kedustaan bersama satu berita yang benar itu. Kemudian petuah dukun yang salah dikomentari: “Bukankah dia telah mengatakan demikian pada hari demikian?” Dia dibenarkan dengan kalimat yang didengarnya dari langit itu.” (HR. Al-Bukhari no. 4522 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anahu)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menandaskan sebuah kedok dan sekaligus topeng mereka yang dipergunakan untuk menipu umat, yaitu satu kali benar dan seratus kali berdusta. Dengan satu kali benar itu, dia melarismaniskan seratus kedustaan yang diciptakannya. Dan kedustaannya itu tidak dibenarkan melainkan karena satu kalimat tersebut. (Lihat Tafsir As-Sa’di, 1/700 dan Al-Qaulus Sadid hal. 71)

Inilah sesungguhnya tujuan setan mencuri kebenaran dari langit, yaitu menipu manusia dan mencampurkan kebenaran dengan kebatilan serta mengaburkan kebenaran tersebut dengan kebatilan. Jika mereka membawa kebatilan yang murni, niscaya tidak ada seorang pun membenarkannya. Namun jika mereka mencampurkan kebatilan itu dengan sedikit kebenaran, akan menjadi fitnah (ujian) bagi orang yang lemah iman dan akalnya. (Lihat I’anatul Mustafid bi Syarh Kitab At-Tauhid 1/408)

Ada tiga keadaan terkait dengan guru-guru dukun dan tukang ramal, yaitu para pencuri kebenaran dari langit:

Pertama: Sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, jumlah mereka banyak sekali.

Kedua: Setelah diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam kondisi ini, tidak pernah terjadi pencurian berita dari langit. Kalaupun terjadi, itu jarang dan bukan dalam hal wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketiga: Setelah beliau meninggal dunia. Kondisinya kembali kepada kondisi pertama, namun lebih sedikit dari kondisi sebelum diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Tamhid Syarah Kitab At-Tauhid, 1/447)

Benarkah Dukun dan Tukang Ramal Mengetahui Nasib alias Hal Ghaib?

Permasalahan perkara ghaib, ilmunya hanya di tangan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Tidak ada sedikit pun ilmunya di tangan manusia. Jika ada orang yang mengaku mengerti ilmu ghaib berarti dia telah berdusta dan telah melakukan kekafiran yang nyata. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali dia sendiri.” (Al-An’am: 59)

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللهُ وَمَا يَشْعُرُونَ أَيَّانَ يُبْعَثُونَ

“Katakanlah: ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’, dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan.” (An-Naml: 65)

إِنَّ اللهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha mengenal.” (Luqman: 34)

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا. لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوا رِسَالَاتِ رَبِّهِمْ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَأَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا

“(Dia adalah Dzat) yang mengetahui yang ghaib. maka dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya. Supaya dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Rabbnya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan dia menghitung segala sesuatu satu persatu.” (Al-Jin: 26-28)

Masih banyak lagi dalil yang menjelaskan masalah ini, baik di dalam Al-Qur’an atau di dalam hadits.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: “Ilmu ghaib … sebuah sifat yang khusus bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan semua yang diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perkara ghaib adalah pemberitahuan Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan semata-mata dari beliau.” (Fathul Bari, 9/203)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari ketika diri beliau dianggap mengetahui perkara ghaib, sebagaimana dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dari Rubayyi’ bintu Mu’awwidz bin ‘Afra radhiyallahu ‘anaha. Dia berkata: “Tatkala Rasulullah walimatul ‘urs denganku, beliau duduk seperti duduknya dirimu (maksudnya perawi, red.) di hadapanku. Mulailah budak-budak wanita memukul (duff/semacam rebana) dan berdendang tentang ayah-ayah mereka yang terbunuh pada perang Badr. Di saat itu, salah seorang mereka berkata: ‘Dan di tengah kami ada seorang Nabi, yang mengetahui perkara esok hari.’ Beliau lalu berkata: ‘Tinggalkan ucapan ini! Katakanlah seperti ucapan yang telah engkau ucapkan’.”

Hadits ini menunjukkan, tidak benar jika seseorang berkeyakinan bahwa seorang nabi, wali, imam, atau syahid, mengetahui perkara ghaib. Sampai pun di hadapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keyakinan ini tidak boleh terjadi.” (Risalatut Tauhid, 1/77)

Pembaca yang budiman. Jika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai imam para nabi dan rasul tidak mengerti perkara ghaib, apakah masuk akal jika selain mereka dapat mengetahuinya? Dari sini jelaslah bahwa pengakuan mengetahui perkara ghaib adalah sebuah kedustaan yang nyata. Tampilnya para dukun dan tukang ramal yang mengaku mengerti hal itu merupakan dajjal.

Bolehkah Mendatangi Dukun dan Tukang Ramal?

Telah jelas dalam pembahasan di depan tentang hakikat dukun, siapa dia dan bagaimana kiprahnya di tengah umat sebagai “jagoan dalam berpetuah” tentang nasib seseorang. Lalu bagaimanakah hukum mendatangi mereka dan bertanya dalam berbagai persoalan kelangsungan hidup, susah atau senang, beruntung atau gagal, celaka atau selamat, dan sebagainya? Telah dibahas oleh para ulama hukum mendatangi mereka:

Pertama: Mendatanginya untuk bertanya tentang sesuatu tanpa membenarkan apa yang dikatakan. Ini termasuk sesuatu yang haram dalam agama. Ancamannya, tidak akan diterima shalatnya 40 malam, sebagaimana dalam hadits:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

“Barangsiapa mendatangi tukang ramal, lalu dia bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak akan diterima shalatnya 40 malam.” (HR. Muslim no. 2230 dari istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam)

Kedua: Mendatangi mereka untuk bertanya kepadanya dan dia membenarkannya, maka dia telah kufur terhadap apa yang telah dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ أَتَى كَاهِنًا -قَالَ مُوسَى فِي حَدِيثِهِ: فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ؛ ثُمَّ اتَّفَقَا- أَوْ أَتَى امْرَأَةً -قَالَ مُسَدَّدٌ: امْرَأَتَهُ حَائِضًا- أَوْ أَتَى امْرَأَةً -قَالَ مُسَدَّدٌ: امْرَأَتَهُ فِي دُبُرِهَا- فَقَدْ بَرِئَ مِمَّا أَنْزَلَ اللهُ عَلَى مُحَمَّدٌ صلى الله عليه وسلم

“Barangsiapa mendatangi dukun -Musa (perawi hadits) berkata: lalu dia membenarkan petuah dukun tersebut; kemudian mereka berdua sepakat dalam periwayatannya- atau mendatangi istrinya -Musaddad berkata: istrinya dalam keadaan haid- atau dia mendatangi istrinya -Musaddad berkata: istrinya pada duburnya- maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang telah diturunkan oleh Allah kepada Muhammad.” (HR. Abu Dawud no. 9304 dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anahu dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu)

Ketiga: Mendatangi mereka untuk mengujinya apakah dia benar atau dusta sekaligus untuk membongkar kedoknya, memperlihatkan kelemahannya. Tentunya dia memiliki ilmu untuk menilai benar atau dusta. Ini dibolehkan, bahkan terkadang hukumnya wajib, sebagaimana dalam riwayat Al-Imam Al-Bukhari (no. 1289) dan Muslim (no. 2930) bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Ibnu Shayyad: “Apa yang telah datang kepadamu?” “Telah datang kepadaku orang yang jujur dan pendusta.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Apa yang kamu lihat?” Dia berkata: “Aku melihat Arsy di atas air.” Beliau bertanya: “Sesungguhnya aku telah merahasiakan sesuatu apakah dia?” Dia berkata: “Dukh, dukh (asap).” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Diamlah. Engkau tidak memiliki kemampuan melainkan apa yang telah diberikan oleh Allah kepadamu. Sesungguhnya engkau tidak lebih dari dukun seperti teman-temanmu.” (Lihat Majmu’ Fatawa, 4/186 dan Al-Qaul Al-Mufid, 1/397)

Jaringan Dukun dan Tukang Ramal serta Silsilah Ilmu Mereka

Telah lewat bahwa perdukunan dan peramalan itu sebuah kekufuran. Untuk mengerti berita tentang orang yang datang bertanya dan tentang barangnya yang dicuri, siapa yang mencurinya, barangnya yang hilang dan di mana tempat hilangnya, di sinilah letaknya kerja sama yang baik antara setan di satu pihak dengan dukun atau tukang ramal di pihak yang lain. Muhammad Hamid Al-Faqi berkata dalam komentarnya dalam kitab Fathul Majid (hal. 353): “Adanya hubungan intim antara qarin dari jin dengan qarin dari manusia, keduanya saling menyampaikan dan mencari berita yang disukai. Qarin dukun dan tukang ramal ini mencari berita dari qarin orang yang datang bertanya, karena setiap manusia memiliki qarin dari kalangan setan, sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lalu qarin orang yang bertanya itu memberitahukan kepada qarin dukun atau tukang ramal tersebut segala sesuatu yang merupakan perihal kebiasaan orang yang datang bertanya, dan perihal di rumahnya.”

Orang-orang jahil menduga bahwa ini terjadi dari buah keshalihan atau ketakwaan dan karamah. Dengan kebaikannya, dia telah membuka tabir tentang semuanya. Ini termasuk kesesatan yang paling tinggi dan kehinaan yang paling rendah, meskipun banyak orang telah tertipu bahkan orang yang dikatakan berilmu dan baik.”

Wallahu a‘lam.


Sumber: http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=835
http://www.assalafy.org/mahad/?p=468#more-468

Sabtu, 19 April 2014

Ilmu Tajwid Pengertian Dan Contoh Idghom Ikhfa Idzhar

Sahabat pembaca setia mutiara hikmah, pada kesempatan ini kami mencoba memberikan penjelasan tentang ilmu dasar dalam membaca al-quran yang lazim dikenal dengan ilmu tajwid. Dibawah ini akan membahas hukum mim sukun, dari mulai Idghom, Ikhfa, dan Idzhar.


HUKUM MIM SUKUN

Hukum Mim sukun dibagi menjadi 3 macam, antara lain:

Idghom Mitsli (Idghom Mimi)
Artinya: apabila ada Mim sukun bertemu dengan Mim

Contoh:

كُنْتُمْ مُسْلِمِيْنَ ( مْ – م )

Ikhfa’ Syafawi
Artinya: apabila ada Mim sukun bertemu dengan Ba’

Contoh:

تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ ( مْ – ب )

Idzhar Syafawi
Artinya: apabila ada Mim sukun bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah selain Mim dan Ba’

Contoh:

هُمْ نَا ئِمُوْنَ ( مْ – ن )                   اَمْ لَمْ تُنْدِ رْ هُمْ ( مْ – ت )

الخ ……..

HUKUM IDGHOM

Hukum Idghom dibagi menjadi 3 macam, antara lain:

Idghom Mutamatsilain
Artinya: jika ada huruf yang sama, yang pertama sukun dan yang kedua hidup.

Contoh:

اِضْرِ بْ بِعَصَا كَ ( بْ – بِ )

Idghom Mutajanisain
Dinamakan Idghom Mutajanisain jika TA sukun bertemu THA, THA sukun bertemu TA, TA sukun bertemu DAL, DAL sukun bertemu TA, LAM sukun bertemu RA, DZAL sukun bertemu ZHA.

Contoh:

(تْ- ط )   قَالَتْ طَا ئِفَة ٌ         ( طْ- ت )  لَئِنْ بَسَطْتَ            ( تْ- د )  اَثْقَلَتْ دَ عَوَا

( دْ- ت )   قَدْ تَبَيَّنَ                ( لْ- ر )  قُلْ رَبِّ                  ( ذْ- ظ )   اِذْ ظَلَمُوْا

Idghom Mutaqorribain
Dinamakan Idghom Mutaqorribain jika TSA sukun bertemu DZAL, QAF sukun bertemu KAF, BA sukun bertemu MIM.

Contoh:

( ثْ- ذ )  يَلْهَثْ ذ لِكَ             ( قْ- ك )  اَلَمْ نَخْلُقْكُمْ             ( بْ- م ) يبُنَيَّ ارْ كَبْ مَعَنَا

Demikian beberapa penjelasan dan contoh singkat tentang Idghom, Ikhfa, dan Idzhar semoga menambah sedikit wawasan tentang ilmu tajwid, untuk penjelasan dan ulasan lebih lanjut bisa ikuti artikel selanjutnya di kategori Ilmu Tajwid.