Tampilkan postingan dengan label dalam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dalam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Agustus 2014

Doa Nabi Yunus Dalam Perut Ikan Paus

doa nabi yunus, ikan paus, ikan nun, kisah nabi yunus
Doa dan Kisah Nabi Yunus
Nabi Yunus adalah seorang Nabi yang mulia yang diutus oleh Allah SWT kepada kaumnya. Beliau menasihati mereka dan membimbing mereka ke jalan kebenaran dan kebaikan; beliau mengingatkan mereka akan kedahsyatan hari kiamat dan menakut-nakuti mereka dengan neraka dan mengiming-imingi mereka dengan surga; beliau memerintahkan mereka dengan kebaikan dan mengajak mereka hanya menyembah kepada Allah SWT. Berikut doa Nabi Yunus yang diabadikan dalam Al Quran Surah Al Anbiya ayat 87.

Doa Nabi Yunus Dalam Perut Ikan Nun

لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنتَ ، سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
 Laa ilaaha illa anta. Subhaanaka, innii kuntu minaz zhaalimiin

“Tiada Tuhan melainkan Engkau (ya Allah)! Maha Suci Engkau (daripada melakukan aniaya, tolongkanlah daku)! Sesungguhnya aku adalah dari orang-orang yang menganiaya diri sendiri”.(QS Al-Anbiya’ : 87).

Penjelasan Doa Nabi Yunus

Nabi Yunus senantiasa menasihati kaumnya namun tidak ada seorang pun yang beriman di antara mereka. Datanglah suatu hari kepada Nabi Yunus di mana beliau merasakan keputusasaan dari kaumnya. Hatinya dipenuhi dengan perasaan marah pada mereka namun mereka tidak beriman. Kemudian beliau keluar dalam keadaan marah dan menetapkan untuk meninggalkan mereka. Allah SWT menceritakan hal itu dalam firman-Nya:
doa nabi yunus, perut ikan, ikan paus, al anbiya 87
Doa Nabi Yunus dalam Quran Surah Al Anbiya ayat 87
"Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya) maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang lalim." (QS. al-Anbiya: 87).

Tidak ada seorang pun yang mengetahui gejolak perasaan dalam diri Nabi Yunus selain Allah SWT. Nabi Yunus tampak terpukul dan marah pada kaumnya. Dalam keadaan demikian, beliau meninggalkan kaumnya. Beliau pergi ke tepi laut dan menaiki perahu yang dapat memindahkannya ke tempat yang lain. Allah SWT belum mengeluarkan keputusan-Nya untuk meninggalkan kaumnya atau bersikap putus asa dari kaumnya. Yunus mengira bahwa Allah SWT tidak mungkin menurunkan hukuman kepadanya karena ia meninggalkan kaumnya. Saat itu Nabi Yunus seakan-akan lupa bahwa seorang nabi diperintah hanya untuk berdakwah di jalan Allah SWT. Namun keberhasilan atau tidak keberhasilan dakwah tidak menjadi tanggungjawabnya. Jadi, tugasnya hanya berdakwah di jalan Allah SWT dan menyerahkan sepenuhnya masalah keberhasilan atau ketidakberhasilannya terhadap Allah SWT semata.

Terdapat perahu yang berlabuh di pelabuhan kecil. Saat itu matahari tampak akan tenggelam. Ombak memukul tepi pantai dan memecahkan batu-batuan. Nabi Yunus melihat ikan kecil sedang berusaha untuk melawan ombak namun ia tidak mengetahui apa yang dilakukan. Tiba-tiba datanglah ombak besar yang memukul ikan itu dan menyebabkan ikan itu berbenturan dengan batu. Melihat kejadian ini, Nabi Yunus merasakan kesedihan. Nabi Yunus berkata dalam dirinya: "Seandainya ikan itu bersama ikan yang besar barangkali ia akan selamat. Kemudian Nabi Yunus mengingat-ingat kembali keadaannya dan bagaimana beliau meninggalkan kaumnya. Akhirnya, kemarahan dan kesedihan beliau bertambah.

Nabi Yunus pun menaiki perahu dalam keadaan guncang jiwanya. Beliau tidak mengetahui bahwa beliau lari dari ketentuan Allah SWT menuju ketentuan Allah SWT yang lain; beliau tidak membawa makanan dan juga kantong yang berisi bawaan atau perbekalan, dan tidak ada seorang pun dari teman-temannya yang menemaninya; beliau benar-benar sendirian; beliau melangkahkan kakinya di atas permukaan perahu.

Si nahkoda perahu bertanya kepadanya: "Apa yang engkau inginkan?" Mendengar pertanyaan itu, Nabi Yunus pun bangkit: "Saya ingin untuk bepergian dengan perahu-perahu kalian. Apakah kita berlayar dalam waktu yang lama?" Nabi Yunus menampakkan suara yang penuh kemarahan, rasa takut, dan kegelisahan. Nahkoda itu berkata sambil mengangkat kepalanya: "Kita akan berlayar meskipun air tampak sedang pasang." Nabi Yunus berkata dengan mencoba sabar dan menyembunyikan kegelisahannya: "Tidakkah engkau mendahului agar jangan sampai pasang itu terjadi wahai tuanku?" Si nahkoda berkata: "Laut kita biasanya terkena pasang, maka ia akan segera mereda ketika melihat seorang musafir yang mulia." Yunus bertanya: "Aku akan pergi bersama kalian dan berapa ongkos perjalanan?" Si nahkoda menjawab: "Kami tidak menerima ongkos selain emas." Yunus berkata: "Tidak jadi masalah."

Nahkoda itu memperhatikan Nabi Yunus. Ia adalah seorang yang berpengalaman di mana ia sering mondar-mandir dari satu pelabuhan ke pelabuhan yang lain. Seringnya ia mengunjungi suatu tempat ke tempat yang lain menjadikannya seorang lelaki yang mampu menangkap perasaan manusia. Nahkoda itu merasakan dan mengetahui bahwa Nabi Yunus lari dari sesuatu. Nahkoda itu membayangkan bahwa Nabi Yunus melakukan suatu kesalahan tetapi ia tidak berani untuk mengungkapkan kesalahan kepada pelakunya kecuali jika pelakunya seorang yang bangkrut. Ia meminta kepada Nabi Yunus untuk membayar ongkos sebanyak tiga kali lipat dari vang biasa dibayar musafir. Nabi Yunus saat itu merasakan kesempitan dalam dadanya dan diliputi dengan kemarahan yang keras dan keinginan kuat untuk meninggalkan negerinya sehingga ia pun memberikan apa yang diminta oleh si nahkoda.

Nahkoda itu memperhatikan kepingan-kepingan emas yang ada di tangannya dan ia menggigit sebagaiannya dengan giginya. Barangkali ia akan menemukan potongan emas yang palsu namun ia tidak menemukannya. Nabi Yunus hanya berdiri menyaksikan semua itu sementara dadanya tampak terombang-ambing: terkadang naik dan terkadang turun laksana ayunan. Nabi Yunus berkata: "Tuanku tentukan bagiku kamarku. Aku tampak letih dan ingin istirahat sebentar." Si nahkoda berkata: "Memang itu tampak di raut wajahmu. Itu kamarmu," sambil ia menunjuk dengan tangannya. Kemudian Nabi Yunus membaringkan diri di atas kasur dan beliau berusaha untuk tidur tetapi usahanya itu sia-sia. Adalah gambar ikan kecil yang hancur berbenturan dengan batu menyebabkan beliau tidak dapat tidur dengan tenang. Nabi Yunus merasakan bahwa atap kamar akan jatuh menimpa dirinya. Akhirnya, Nabi Yunus tidur di atas kasurnya di mana kedua bola matanya berputar-putar di atas atap kamar tetapi pandangan-pandangannya yang gelisah itu tidak menemukan tempat perlindungan. Tempat tinggalnya di kamar itu dan atapnya dan sisi-sisinya tampak semuanya akan runtuh. Nabi Yunus pun mulai mengeluh dan berkata: "Demikian juga hatiku yang tergantung dalam jiwaku."

Demikianlah, terjadi suatu pergulatan penderitaan yang hebat dalam diri Nabi Yunus saat ia terbaring di atas ranjangnya. Penderitaan yang keras cukup memberatkannya sehingga beliau pun bangkit kembali dari tempat tidurnya tanpa sebab yang dapat dipahami. Dan tibalah waktu pasang. Perahu melemparkan tali-talinya. Kemudian perahu itu berjalan sepanjang siang dan ia memecah airnya dengan tenang, dan angin pun bertiup padanya dengan sangat lembut dan baik. Lalu kegelapan menyelimuti perahu itu dan tiba-tiba lautan pun berubah. Bertiuplah angin yang cukup kencang yang sangat mengerikan yang nyaris menghancurkan perahu dan bergolaklah ombak yang cukup dahsyat laksana orang yang kehilangan akalnya. Ombak itu meninggi bagaikan gunung dan menurun bagaikan lembah.

Mulailah gelombang ombak menyapu permukaan perahu sehingga para awak perahu itu pun mulai terkena air. Dan di belakang perahu itu terdapat ikan paus yang besar yang mulai mengintai. Ia membuka mulutnya. Kemudian terdapat perintah kepada ikan paus itu untuk bergerak menuju permukaan laut. Ikan paus itu menaati perintah dari Allah SWT dan ia segera menuju permukaan laut. Ia mulai mengikuti perahu itu sebagaimana perintah yang diterimanya. Angin yang keras tetap bertiup kemudian kepala perahu mengisyaratkan dengan tangannya agar beban perahu dikurangi. Dan angin semakin bertiup kencang. Sementara itu, Nabi Yunus merasakan ketakutan. Dalam tidurnya beliau melihat segala sesuatu berguncang di kamarnya. Beliau berusaha berdiri tegak, tetapi tidak mampu. Kemudian kepala perahu berteriak dan berkata: "Sungguh angin kencang bertiup tidak seperti biasanya. Bersama kita seseorang lelaki yang salah sehingga karenanya angin ini bertiup dengan kencang. Kita akan melakukan undian pada semua awak. Barangsiapa yang namanya keluar kami akan membuangnya ke lautan."

Nabi Yunus mengetahui bahwa ini adalah tradisi dari tradisi-tradisi yang biasa dilakukan oleh awak perahu jika mereka menghadapi angin yang keras. Tetapi saat itu beliau terpaksa harus meng-ikutinya. Episode penderitaan Nabi Yunus akan dimulai. Beliau adalah seorang Nabi yang mulia tetapi harus tunduk pada hukum ala berhala yang menganggap bahwa lautan mempunyai tuhan. Dengan kepercayaan itu, mereka meyakini bahwa bertiupnya angin yang kencang akibat murka dari tuhan. Oleh karena itu, harus diadakan upaya untuk menenangkan dan memuaskan tuhan-tuhan yang mereka yakini itu. Nabi Yunus pun terpaksa mengikuti undian itu. Nama beliau dimasukkan bersama dengan nama penumpang lainya, dan dilakukanlah undian. Yang keluar justru namanya. Lalu diadakan undian yang kedua, dan kali ini pun yang keluar nama Nabi Yunus. Akhirnya, diadakan undian yang ketiga. Lagi-lagi yang keluar nama Nabi Yunus. Kemudian ditetapkan bahwa Nabi Yunus harus dibuang ke lautan. Saat itu para awak penumpang memperhatikan Nabi Yunus. Nabi Yunus mengetahui bahwa beliau berbuat kesalahan ketika meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah. Nabi Yunus mengira bahwa Allah SWT tidak akan menurunkan hukuman padanya. Namun ia dianggap salah karena meninggalkan kaumnya tanpa izin-Nya. Allah SWT memberikan pelajaran kepadanya.

Nabi Yunus berdiri di samping perahu dan melihat lautan yang dipenuhi dengan ombak yang mengerikan. Dunia saat itu gelap dan di sana tidak ada cahaya bulan. Bintang-bintang bersembunyi di balik kegelapan. Warna air tampak gelap dan hawa dingin menembus tulang. Alhasil, air menutupi segala sesuatu. Kemudian nahkoda perahu berteriak: "Lompatlah wahai musafir yang misterius." Tiupan angin semakin kencang. Nabi Yunus berusaha menjaga keseimbangannya, dan beliau menampakkan keberaniannya saat ingin terjun ke lautan. Nabi Yunus pun terjun dan berada di permukaan lautan laksana sampang yang mengambang. Ikan paus berada di depannya. Ikan itu mulai tersenyum karena Allah SWT telah mengirim padanya makanan malam. Kemudian ikan itu menangkap Nabi Yunus di tengah-tengah ombak. Kemudian ikan itu kembali ke dasar lautan. Ikan itu kembali dalam keadaaan puas setelah memenuhi perutnya.

Nabi Yunus sangat terkejut ketika mendapati dirinya dalam perut ikan. Ikan itu membawanya ke dasar lautan dan lautan membawanya ke kegelapan malam. Tiga kegelapan: kegelapan di dalam perut ikan, kegelapan di dasar lautan, dan kegelapan malam. Nabi Yunus merasakan bahwa dirinya telah mati. Beliau mencoba menggerakan panca inderanya dan anggota tubuhnya masih bergerak. Kalau begitu, beliau masih hidup. Beliau terpenjara dalam tiga kegelapan.

Yunus mulai menangis dan bertasbih kepada Allah. Beliau mulai melakukan perjalanan menuju Allah saat beliau terpenjara di dalam tiga kegelapan. Hatinya mulai bergerak untuk bertasbih kepada Allah, dan lisannya pun mulai mengikutinya. Beliau mengatakan: "Tiada Tuhan selain Engkau ya Allah. Wahai Yang Maha Suci. Sesungguhnya aku termasuk orang yang menganiaya diri sendiri." (QS. Hud: 87)

Ketika terpenjara di perut ikan, beliau tetap bertasbih kepada Allah SWT. Ikan itu sendiri tampak kelelahan saat harus berenang cukup jauh. Kemudian ikan itu tertidur di dasar lautan. Sementara itu, Nabi Yunus masih bertasbih kepada Allah SWT. Beliau tidak henti-hentinya bertasbih dan tidak henti-hentinya menangis. Beliau tidak makan, tidak minum, dan tidak bergerak. Beliau berpuasa dan berbuka dengan tasbih. Ikan-ikan yang lain dan tumbuh-tumbuhan dan semua makhluk yang hidup di dasar lautan mendengar tasbih Nabi Yunus. Tasbih itu berasal dari perut ikan paus ini. Kemudian semua makhluk-makhluk itu berkumpul di sekitar ikan paus itu dan mereka pun ikut bertasbih kepada Allah SWT. Setiap dari mereka bertasbih dengan caranya dan bahasanya sendiri.

Ikan paus yang memakan Nabi Yunus itu terbangun dan mendengar suara-suara tasbih begitu riuh dan gemuruh. Ia menyaksikan di dasar lautan terjadi suatu perayaan besar yang dihadiri oleh ikan-ikan dan hewan-hewan lainya, bahkan batu-batuan dan pasir semuanya bertasbih kepada Allah SWT dan ia pun tidak ketinggalan ikut serta bersama mereka bertasbih kepada Allah SWT. Dan ia mulai menyadari bahwa ia sedang menelan seorang Nabi. Ikan paus itu merasakan ketakutan tetapi ia berkata dalam dirinya mengapa aku takut? Bukankah Allah SWT yang memerintahkan aku untuk memakannya. Nabi Yunus tetap tinggal di perut ikan selama beberapa waktu yang kita tidak mengetahui batasannya. Selama itu juga beliau selalu memenuhi hatinya dengan bertasbih kepada Allah SWT dan selalu menampakkan penyesalan dan menangis: "Tiada Tuhan selain Engkau ya Allah Yang Maha Suci. Sesungguhnya aku termasuk orang yang menganiaya diri sendiri." Allah SWT melihat ketulusan taubat Nabi Yunus. Allah SWT mendengar tasbihnya di dalam perut ikan. Kemudian Allah SWT menurunkan perintah kepada ikan itu agar mengeluarkan Yunus ke permukaan laut dan membuangnya di suatu pulau yang ditentukan oleh Allah SWT.

Ikan itu pun menaati perintah Ilahi. Tubuh Nabi Yunus merasakan kepanasan di perut ikan. Beliau tampak sakit, lalu matahari bersinar dan menyentuh badannya yang kepanasan itu. Beliau berteriak karena tidak kuatnya menahan rasa sakit namun beliau mampu menahan diri dan kembali bertasbih. Kemudian Allah SWT menumbuhkan pohon Yaqthin, yaitu pohon yang daun-daunnya lebar yang dapat melindungi dari sinar matahari. Dan Allah SWT menyembuhkannya dan mengampuninya. Allah SWT memberitahunya bahwa kalau bukan karena tasbih yang diucapkannya niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan sampai hari kiamat.

Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya Yunus beriar-benar salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika ia lari ke kapal yang penuh muatan, kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian. Maka ia ditelan oleh ihan besar dalam keadaan tercela. Maka kalau sekiranya ia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit. Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit. Dan kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu. Dan Kami utus dia kepada seratus orang atau lebih. Lalu mereka beriman, karena itu Kami anugerahkan kenikmatan hidup kepada mereka hingga waktu yang tertentu." (QS. ash-Shaffat: 139-148)

"Dan (ingatlah  kisah) Dzunnun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu mereka menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah orang-orang yang lalim. Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." (QS. al-Anbiya: 87-88)

Kita sekarang ingin membahas masalah yang menurut ulama disebut sebagai dosa Nabi Yunus. Apakah Nabi Yunus melakukan suatu dosa dalam pengertian yang hakiki, dan apakah para nabi memang berdosa? Jawabannya adalah: Para nabi adalah orang-orang yang maksum tetapi kemaksuman ini tidak berarti bahwa mereka tidak melakukan sesuatu yang menurut Allah SWT itu pantas mendapatkan celaan (hukuman). Jadi masalahnya agak relatif. Menurut orang-orang yang dekat dengan Allah SWT: Kebaikkan orang-orang yang baik dianggap keburukaan bagi al-Muqarrabin (orang-orang yang dekat dengan Allah SWT). Ini memang benar. Sekarang, marilah kita amati kasus Nabi Yunus. Beliau meninggalkan desanya yang banyak dipenuhi oleh orang-orang vang menentang. Seandainya ini dilakukan oleh orang biasa atau oleh orang yang saleh selain Nabi Yunus maka hal itu merupakan suatu kebaikan dan karenanya ia diberi pahala. Sebab, ia berusaha menyelamatkan agamanya dari kaum yang durhaka. Tetapi Nabi Yunus adalah seorang Nabi yang diutus oleh Allah SWT kepada mereka. Seharusnya ia menyampaikan dakwah di jalan Allah SWT dan ia tidak peduli dengan hasil dakwahnya. Tugas beliau hanya sekadar menyampaikan agama. Keluarnya beliau dari desa itu— dalam kacamata para nabi—adalah hal yang mengharuskan datangnya pelajaran dari Allah SWT dan hukuman-Nya padanya.

Allah SWT memberikan suatu pelajaran kepada Yunus dalam hal dakwah di jalan-Nya. Allah SWT mengutusnya hanya untuk berdakwah. Inilah batasan dakwahnya dan beliau tidak perlu peduli dengan kaumnya yang tidak mengikutinya dan karena itu beliau tidak harus menjadi sedih dan marah. Nabi Luth tetap tinggal di kaumnya meskipun selama bertahun-tahun berdakwah beliau tidak mendapati seorang pun beriman. Meskipun demikan, Nabi Luth tidak meninggalkan mereka. Ia tidak lari dari keluarganya dan dari desanya. Beliau tetap berdakwah di jalan Allah SWT sehingga datang perintah Allah SWT melalui para malaikat-Nya yang mengizinkan beliau untuk pergi. Saat itulah beliau pergi. Seandainya beliau pergi sebelumnya niscaya beliau akan mendapatkan siksaan seperti yang diterima oleh Nabi Yunus. Jadi, Nabi Yunus keluar tanpa izin. Lalu perhatikan apa yang terjadi pada kaumnya. Mereka telah beriman setelah keluamya Nabi Yunus. Allah SWT berfirman:

"Dan mengapa tidak ada penduduk suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Tatkala mereka (kaum Yunus itu) beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu yang tertentu." (QS. Yunus: 98)

Demikianlah, desa Nabi Yunus beriman. Seandainya ia tetap tinggal bersama mereka niscaya ia akan mengetahuinya dan hatinya menjadi tenang serta kemarahannya akan menjadi hilang. Tampaknya beliau tergesa-gesa dan tentu sikap tergesa-gesa ini berangkat dari keinginannya agar manusia beriman. Usaha Nabi Yunus untuk meninggalkan mereka adalah sebagai ungkapan kebenciannya kepada mereka atas ketidakimanan mereka. Maka Allah SWT menghukumnya dan mengajarinya bahwa tugas seorang nabi hanya menyampaikan agama. Seorang nabi tidak dibebani urusan keimanan manusia; seorang nabi tidak bertanggung jawab atas pengingkaran manusia; dan seorang nabi tidak dapat memberikan hidayah (petunjuk) kepada mereka
.
Sumber Kisah Nabi Yunus: http://quran.al-shia.org/id/qesseh-quran/17.htm

Tags yang terkait dengan doa nabi yunus: kumpulan doa nabi yunus, cara doa nabi yunus, doa pengasih nabi yusuf, doa nabi yunus mempermudah kelahiran, doa nabi sulaiman, doa nabi yunus dalam perut ikan paus, doa nabi yunus mp3 download, doa nabi yunus dalam perut ikan. Video Doa Nabi Yunus:

Rabu, 13 Agustus 2014

Doa agar Meninggal dalam keadaan Khusnul Khotimah

اَللّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِاْلاِسْلاَمِ وَاخْتِمْ لَنَا بِاْلاِيْمَانِ وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ
( allahummah timna bil islami wahtimna bil imani wahtimna bi husnul khotimah )

Artinya :
" Ya Allah , Akhirilah hidup kami dengan Islam, Akhirilah hidup kami dengan membawa Iman, akhirilah hidup kami dengan Husnul Khotimah. "

Minggu, 15 Juni 2014

KEDUDUKAN DAN PERAN MULIA AHLUL HADITS DI DALAM SYARI’AT ISLAM

Penulis: Fadhilatu Asy Syaikh Rabi’ bin Hadi ‘Umair Al Madkhali

Sesungguhnya Allah mengutus Muhammad shallallahualaihi wasallam dengan petunjuk dan agama yang haq dengan tujuan meninggikan agama Islam di atas agama-agama lain di muka bumi ini, meskipun orang-orang kafir membencinya. Sesungguhnya manusia yang paling mulia dan tinggi kedudukannya di dalam menjalankan, mengikuti, mencintai, memberikan loyalitas dan pertolongan pada al haq (kebenaran) yang dibawa oleh Muhammad shallallahualaihi wasallam adalah para shahabat beliau yang mulia, generasi tabiin, atbaut tabiin dan orang-orang yang mengikuti jalan dan petunjuk mereka sampai akhir zaman.
Sesungguhnya siapapun yang mengetahui atau mempelajari keadaan kaum muslimin terdahulu, yang mereka secara umum menisbatkan dirinya sebagai umat Nabi Muhammad shallallahualaihi wasallam, akan menemukan bahwa sesungguhnya ahlul hadits adalah orang-orang yang paling tinggi di dalam mengikuti, mentaati dan menyandarkan seluruh amalan mereka sesuai petunjuk yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahualaihi wasallam yang berdasarkan Al Quran dan As Sunnah, baik dalam permasalahan aqidah, ibadah, muamalah, dakwah dan hujjah.
Golongan ahlul hadits adalah orang-orang yang paling tinggi kepercayaannya dalam meyakini manhaj (jalan) yang haq, yaitu manhaj yang dibawa secara sempurna oleh Nabi Muhammad shallallahualaihi wasallam, dan itu adalah jalan yang selamat dan lurus. Selain jalan tersebut, merupakan jalan yang tidak disyariatkan oleh Allah Subhanahu Wa Taala dan tidak Diridhoi oleh-Nya, yang dapat menghantarkan kita kepada kebinasaan dan adzab.

Siapakah Ahlul Hadits ?
Ahlul hadits adalah orang-orang yang berjalan di atas manhaj atau jalan yang ditempuh oleh para shahabat Rasulullah shallallahualaihi wasallam dan tabiin, yang berhujjah di atas dasar Al Quran dan As Sunnah. Mereka berpegang teguh kepada keduanya dan mendahulukan keduanya di atas seluruh perkataan dan petunjuk, baik dalam permasalahan aqidah, ibadah, muamalah (hubungan), akhlak, pemerintahan, atau bentuk organisasi yang masyru (disyariatkan).
Mereka adalah orang-orang yang tetap di atas perkara yang asas (pokok) dalam agama dan cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya yaitu Muhammad alaihishalaatu wasallam.
Mereka adalah orang-orang yang selalu menegakkan dakwah kepada Al Quran dengan kesungguhan, kejujuran dan azzam yang kuat, dan merekalah yang membawa ilmu hadits, membatalkan dan membantah penyimpangan orang-orang yang ghuluw (melampaui batas), penganut madzhab dan tawilnya orang-orang jahil.
Kedudukan ahlul hadits adalah sebagai pengawas seluruh golongan sesat dalam Islam, seperti golongan Jahmiyyah, Mutazilah, Khawarij, Rowafidh, Murjiah, Qodariyyah dan lainnya yang menyimpang dari jalan Allah atau sebagai pengikut hawa nafsu, kapan dan di manapun. Mereka tidak takut cercaan manusia kecuali hanya Allah. Mereka adalah kelompok yang dipuji dan di jamin oleh Rasulullah alaihishalaatu wasallam lewat sabdanya yang artinya : "Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang tetap mendhohirkan (menampakkan) yang haq. Mereka tetap tegar di atasnya, tidak dapat digoyahkan oleh orang-orang yang mencerca dan menyelisihi sampai tegaknya hari kiamat".{1}
Mereka adalah al-firqah an-najiyah (kelompok yang selamat) yang tetap di atas petunjuk Rasulullah alaihishalaatu wasallam dan sahabatnya. Sifat dan tanda mereka telah dikhabarkan oleh beliau shallallahualaihi wasallam ketika menyebutkan bahwa umatnya akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu kelompok, yaitu :"mereka yang tetap di atas petunjukku dan para sahabatku".{2}
Kami katakan demikian bukan sekedar dakwahan dusta dan isapan jempol belaka, akan tetapi kenyataan ini dipersaksikan di atas nash-nash Al Quran dan As Sunnah, sejarah dan persaksian dari perkataan, keadaan, dan karangan-karangan mereka (ahlul hadits).
Mereka adalah kelompok yang menempatkan pandangan hidupnya di atas firman Allah yang artinya :
“Dan berpegangteguhlah kalian semua kepada tali Allah (Al Quran) dan janganlah berpecah-belah".(QS.Ali Imran :103)
"maka peringatkanlah orang-orang yang menyelisihi perintah-Nya untuk takut akan terkena fitnah atau adzab yang pedih .” (QS. An Nuur : 63)
Ahlul Hadits adalah kelompok yang sangat jauh dari penyimpangan terhadap perintah Rasulullah shallallahualaihi wasallam dan sangat jauh dari fitnah.
Ahlul Hadits adalah kelompok yang menjadikan undang-undangnya di atas hujjah firman Allah’Azza wa Jalla yang artinya:
“Maka demi Rabb-mu, mereka tidak dikatakan beriman hingga menjadikan dirimu (Muhammad shallallahualaihi wasallam) sebagai hakim dari perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa di dalam hati mereka suatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya". (QS.An Nisaa:65)
Ahlul hadits adalah kelompok yang menjunjung tinggi dan mengagungkan nash-nash Al Quran dan Sunnah sesuai kedudukannya. Mereka dahulukan keduanya (Al Quran dan Sunnah) di atas seluruh perkataan manusia. Mereka dahulukan petunjuk Rasul-Nya di atas petunjuk seluruh manusia. Mereka berhukum dengannya dalam seluruh urusan dengan keridhaan yang sempurna, jiwa yang lapang, dan tidak ada rasa sempit dan berat. Mereka serahkan diri sepenuhnya untuk Allah dan Rasul-Nya dengan penyerahan yang sempurna dalam aqidah, ibadah, dan muamalah.
Mereka adalah kelompok yang siap menerima panggilan Allah Azza wa Jalla (yang artinya) :
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin apabila mereka diseru kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menetapkan hukum pada mereka adalah :"kami mendengar dan kami taat (patuh)".Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung ".(QS.An Nuur : 51)


Mereka (ahlul hadits) setelah para shahabat Rasulullah alaihisshalaatu wasallam adalah golongan tabiin, diantaranya adalah: Said bin Al Musayib (90 Hijriah), Urwah bin Az Zubair (94 H), Ali bin Al Husain Zainal Abidin (93 H) , Muhammad bin Al Hanafiyah (80 H), Ubaidillah bin Abdillah bin Utbah bin Masud (94 H), Salim bin Abdullah bin Umar (106 H), Al Qosim bin Muhammad bin Abi Bakr As Shiddiq (106 H), Al Hasan Al Bashri (110 H) , Muhammad bin Sirrin (110 H), Umar bin Abdul Aziz (101 H), Muhammad bin Syihab Az Zuhri (125 H).

Kemudian Atbaut Tabiin, mereka diantaranya adalah: Imam Malik (179 H), Al Auzai (157 H), Sufyan bin Said Ats Tsauri (161 H), Sufyan bin Uyainah (198 H), Ismail bin Aliyah (193 H), Al Laits bin Saad (175 H).

Generasi kemudian yang mengikuti mereka diantaranya adalah: Abdullah bin Al Mubarok (181 H), Waqi bin Al Jarroh (197 H), Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafii (204 H), Abdurrahman Ibnu Mahdi (198 H), Yahya bin Said Al Qoththon (198 H), Affan bin Muslim (219 H).

Kemudian murid mereka (murid Atba Atbaut Tabiin) diantaranya yaitu : Al Imam Ahmad bin Hambal (241 H), Yahya bin Main (233 H), Ali bin Al Madini (234 H).

Kemudian murid-murid mereka diantaranya : Al Imam Al Bukhari (256 H), Muslim (261), Abu Hatim (277), Abu Zurah (264), Abu Dawud (275 H), At Tirmidzi (279 H), An Nasai (303).

Kemudian generasi setelahnya yang mengikuti mereka diantaranya : Al Imam Ibnu Jarir (310 H), Ibnu Khuzaimah (311 H), Ad Daruquthni dan Al Khatib Al Baghdadi (463 H), Ibnu Abdil Barr (463 H), Abdul Ghani Al Maqdisi (600 H), Ibnu Qudamah (620 H), Ibnu Ash Shalah (643 H), Ibnu Taimiyah ( 728 H), Al Mizzi (743 H), Adz Dzahabi (748 H), Ibnu Katsir (774 H).

Dan orang-orang yang mengikuti mereka di setiap generasi, yang berpegang teguh kepada Al Qur’an dan as sunnah sampai pada zaman sekarang disebut sebagai ahlul hadits.

Kesungguhan Ahlul Hadits dalam berkhidmat di atas Sunnah
Sungguh Allah telah menjunjung dan memuliakan ahlul hadits untuk mencintai, memuliakan, mementingkan dan mengambil pelajaran atau kaidah dari sunnah nabi alaihishalaatu wasallam yang suci bersama Al Qur’an sebagai rujukan tunggal untuk pengajaran Islam yang berkaitan dengan masalah akidah maupun syariat. Dalam ibadah, muamalah dan seluruh sendi-sendi kehidupan manusia.
Mereka berjalan dengan arif dan kesungguhan yang tinggi untuk menghafal hadits, mengajarkan, membukukan, rihlah (melakukan perjalanan) yang panjang dan melelahkan, membedakan antara yang sahihdan tidak, membukukan nama-nama periwayat hadits dan menerangkan keadaan mereka dari sisi keadilan dan sisi kepercayaan atau dari sisi kedustaan, dan sifat tadlis (menyembunyikan) serta sifat-sifat lain dari seluruh macam yang berkaitan dengan jarh dan at tadil ( cacat dan tidaknya) baik yang berkaitan dengan sanad (keterhubungan perawi) dan matan (isi) hadits, tanpa melebih-lebihkan perawi, dan mereka melakukan itu semua tanpa perasaan takut atas cercaan, dan hanya mengharap keridhoan Allah Taala.
Yang demikian itu adalah kekhususan yang hanya diberikan kepada umat nabi Muhammad alaihishalaatu wasallam dan tidak diberikan kepada umat-umat yang lainnya. Allah berikan pada tangan-tangan imam ahlul hadits permulaan kesempurnaan untuk menguasai ilmu hadits yang penuh dengan hal-hal yang menakjubkan.
Tidak ada satupun dari para ahlu ilmi yang sejajar dan menyamai kedudukan serta keahlian para imam ahli hadits.
Allah telah membukakan dan menerangkan kepada seluruh umat manusia akan amalan, kesungguhan dan sesuatu yang sangat mulia yang ditingggalkan para imam ahli hadits, yaitu kitab-kitab karangan mereka yang didasari dengan tingkat kejeniusan, bakat atau pembawaan dan akal yang sangat luar biasa, sehingga mereka Mampu menguasai ilmu hadits dan macam-macamnya yang sarat dengan kesulitan.

(Diterjemahkan Oleh Al Ustadz abu ‘Isa Nurwahid dari Kitab Makaanah Ahlul Hadts wa Matsarahum wa Atsarahum al Hamidah fid Diin )

{1} (Hadits Shahih dikeluarkan oleh : Imam Muslim III/1523, Imam Ahmad (Al Musnad V/278-279), Imam Abu Dawud (As Sunan III/4), Imam Tirmidzi (As Sunan IV/420), Imam Ibnu Majah (As Sunan I/4-5), Al Hakim ( Al Mustadrak IV/449-450), Ath Thabrani (Al Mujam Al Kabir,7643), Ath Thayalisi ( Al Musnad Hal.94, No.689)}.(Lihat Ash Shahihah : Al Allamah Syaikh Al Albani : 270,1955)
{2} ( Hadits Shahih Diriwayatkan oleh Imam Ahmad ( Al Musnad II/332), Imam Abu Dawud ( As Sunan IV/197), Imam Tirmidzi ( As Sunan V/25), Al Hakim (Al Mustadrak I/129)}.(Lihat : Ash Shahihah Al Allamah Syaikh Al Albani hal 203)


Sumber : Buletin Dawah Al ATsary, Semarang Edisi 8/1427H
Sumber URL : http://www.darussalaf.or.id