Tampilkan postingan dengan label yang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label yang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Agustus 2014

Memilih Pemimpin Yang Merakyat



Genderang persaingan kontestan capres dan cawapres sudah ditabuh KPU. Saatnya rakyat Indonesia meminang-minang siapa yang akan dipilih nantinya. Memilih pemimpin adalah salah satu sarana mewujudkan kehidupan berbangsa dan bertanah air yang baik dan sejahtera. Sebab, dengan kita memilih pemimpin yang baik dan merakyat akan terwujud kehidupan yang berimbang. Tidak ada jarak antara pemimpin dan rakyatnya, hanya tugas dan kewenangan sajalah yang memisahkannya.
Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mau tahu kondisi dan keadaan masyarakatnya. Mereka mau “blusukan” dan menengok apa yang rakyat butuhkan. Sehingga rakyatnya tidak takut menyampaikan aspirasinya kepada mereka. Rakyat akan sungkan, malu dan takut apabila pemimpinnya hanya duduk, tanda tangan dan berpidato di depan atau di dalam gedungnya.
“Blusukan” adalah salah satu cara ampuh untuk lebih dekat dengan rakyatnya dan mendengarkan keluh kesah rakyatnya. Cara ini sudah pernah diterapkan oleh Khalifah Umar bin Khattab ra. Banyak kisah “blusukan” beliau yang diterangkan dalam kitab-kitab kuning. Diantaranya :
“Suatu hari Khalifah Umar sedang “blusukan” di salah satu perkampungan, tak diduga beliau mendengar tangisan anak-anak kecil yang sedang kelaparan dari salah satu rumah. Dengan bergegas beliau menghampiri rumah tersebut dan menanyakan kepada ibu mereka, “Wahai ibu, kenapa anak-anakmu menangis seperti ini?” tanya Umar. Sang ibu menjawab, “Kami selama beberapa hari belum makan”. Umar bertanya lagi, “Apa yang engkau masak itu” sambil menunjuk sesuatu di dalam penanak makanan, “Saya hanya memasak air sebagai pelipur kelaparan mereka, apabila mereka sudah capai menangis, mereka akan tertidur dengan sendirinya” jawab ibu tadi. Ibu tadi melanjutkan bicaranya, “Saya heran kepada pemimpin negeri ini, kami yang miskin ini tidak pernah dikunjungi dan tidak pernah diberi kesejahteraan” gumam ibu tersebut. Khalifah Umar pun hanya terdiam dan langsung bergegas pergi ke Baitul Mal (gudang makanan). Khalifah Umar lalu mengambil sekarung gandum dengan digendong sendiri olehnya, salah satu pengawalnya bertanya, “Ya Amirul Mukminin, ijinkan saya membantumu membawakan karung tersebut?”. “Apakah engkau kuat menanggung dosa-dosaku kelak di hari Kiamat sebagai pemimpin umat” jawab Umar, pengawalnya pun terdiam. Setelah sampai di rumah tersebut, si ibu sangat senang bukan kepalang sambil berucap, “Engkau lebih peduli daripada pemimpin negeri ini, siapakah engkau wahai pemuda?”, Khalifah Umar pun menjawab, “Saya adalah Umar yang kurang peduli pada rakyatnya dan barusan engkau terangkan sikapnya tadi”. Si ibu itu pun kaget dan langsung meminta maaf kepada Khalifah Umar bin Khattab.”




Kisah di atas adalah cermin pemimpin yang tahu betul bagaimana seharusnya seorang pemimpin. Pemimpin hebat bukan karena fisik, orasi dan namanya hebat. Pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang mau melihat penderitaan rakyat dan mendengarkan keluh kesah rakyat. Rakyat tidak menginginkan pemimpin yang hanya ngomong dan berorasi di luar maupun dalam gedung. Rakyat ingin pemimpin yang mau dekat dengan mereka dan mau mendengarkan rintihan mereka.

Allahu A’lamu bi Muradih

al-Faqier ila Rahmati Rabbih
Saifurroyya
21-05-14, Kaliwungu Kota Santri    

Sabtu, 16 Agustus 2014

Rumah Tangga Nabi SAW yang Romantis



Rumah Tangga Nabi SAW yang Romantis
Suatu ketika Rasulullah SAW mengajak istrinya Aisyah RA berlomba pacuan kuda. Aisyah mengatakan: “Rasulullah beradu kecepatan denganku, dan aku berhasil unggul dalam hal kecepatan.” Sebagai pemimpin perang yang tangguh semestinya Rasulullah menang atas Aisyah. Kenyataannya tidak. Aisyah yang menang.
 Aisyah melanjutkan kisahnya: “Namun saat badanku berbobot (bertambah gemuk, red) kami kembali beradu kecepatan, dan beliau mengungguliku.” Rasulullah menyindir: “Ini sebanding dengan keunggulan sebelumnya (point sekarang 1-1, red).” (HR Ahmad dan Abu Daud)
 Kewajiban pertama seorang suami terhadap istrinya adalah mempergaulinya dengan baik. Allah SWT berfirman: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka karena suatu hal, (ingatlah) bahwa dalam segala hal Allah menjadikan kebaikan yang banyak.” (QS An-Nisa: 19).
 Salah satu cara mempergauli istri dengan baik, seperti dipraktikkan oleh Rasulullah dalam hadits di atas, adalah menciptakan suasana romantis dalam rumah tangga. Salah satu kiatnya adalah dengan mengadakan permainan-permainan. Imam Ahmad dalam Sunan-nya mengatakan, Rasul bersabda, ada tiga permainan yang tidak sia-sia. Salah satunya adalah permainan yang dilakukan bersama istri untuk menciptakan suasana yang romantis.
 Rasulullah tidak ingin romantis sendiri. Beliau juga ‘memanas-manasi’ para sahabatnya untuk menciptakan suasana yang sama. “Yang terbaik diantara kalian adalah yang terbaik dari kalian terhadap istri. Dan aku yang terbaik di antara kalian terhadap istriku..” (HR at-Thabrani).
 Jika pun Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlaq, maka akhlaq yang paling perlu ditata terlebih dahulu adalah akhlak dalam berumahtangga. Rasulullah SAW bersabda: “Yang paling sempurna imannya di antara kalian adalah yang paling baik akhlaqnya, dan yang paling baik diantara kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya." (HR Abu Daud)
 Maka, tunggu apa lagi?
By
Saifurroyya
Baca Juga :
KetikaPerut Rasulullah Berbunyi
KasihSayang Rasulullah pada Fakir Miskin
Bangsawandi Mata Rasulullah
KelahiranNabi Anugerah Terbesar
Rumah Tangga Nabi SAW yang Romantis