Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed
Keimanan terhadap penetapan adanya Tangan bagi Allah merupakan keyakinan Ahlus Sunnah wal jama’ah, sebagaimana telah kami jelaskan pada edisi lalu. Keyakinan ini makin jelas dan tegas karena Al-Quran dan as-Sunnah telah menyebutkan adanya sifat Tangan bagi Allah secara terperinci dan disebutkan dengan kanan.
KEDUA TANGAN ALLAH ITU KANAN
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ. ]الزمر: 67[
Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Rabb dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (az-Zumar: 67)
Demikian pula dalam firmanNya:
وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ اْلأَقَاوِيل ِ]44[ َلأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ ]45[ ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ. ]الحاقة: 44-46[
Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia dengan tangan kanan. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. (al-Haaqqah: 44-46)
Pada kedua ayat di atas Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tangan dengan tangan kanan. Pada surat Az-Zumar Allah berfirman : “Dan langit digulung dengan Tangan Kanan-Nya”. Sedangkan dalam surat al-Haqqah dikatakan: “Aku ambil dengan dengan tangan kanan”.
Dalam tafsir ayat az-Zumar ayat 67 ini, disebutkan hadits yang shahih dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
يَقْبِضُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى اْلأَرْضَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِينِهِ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ مُلُوكُ اْلأَرْضِ. (متفق عليه)
Allah Tabaraka wa ta’ala menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat langit dengan tangan kanannya, kemudian berkata “Aku adalah Raja, mana raja-raja dunia? (HR. Bukhari-Muslim).
Diriwayatkan pula dari Abdullah bin Umar رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
يَطْوِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ السَّمَاوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّ بِيَدِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟ ثُمَّ يَطْوِي اْلأَرَضِينَ بِيَدِهِ اْلأُخْرَى ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ. (متفق عليه)
Allah Azza wa Jalla menggulung langit pada hari kiamat dan menggenggam-nya dengan tangan kanan-Nya seraya berkata: “Aku adalah Raja, mana orang-orang yang sombong?” Kemudian menggulung bumi-bumi dan menggenggamnya dengan tangannya yang lain seraya berkata: “Aku adalah Raja, mana raja-raja dunia, mana orang-orang yang sombong?” (HR. Bukhari Muslim)
Perlu diketahui, dalam hadits yang kedua ini disebutkan “tangan yang lain”, ini yang lebih shahih, sedangkan dalam lafadh lainnya disebutkan “dengan tangan kirinya”. Berkata Baihaqi dalam Asma’ wa Sifat: “Demikianlah diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Bakar ibnu Abi Syaibah, sedangkan sebutan “tangan kiri” disebutkan secara menyendiri oleh Umar Ibnu Hamzah dari Salim. Padahal telah diriwayatkan hadits yang sama oleh Nafi’ dan Ubaidullah Ibnu Muqsim dari Ibnu Umar, keduanya tidak menyebutkan kalimat “kiri”. Demikian pula telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan lain-lainnya dari Nabi صلى الله عليه وسلم, semuanya tidak ada yang menyebutkan “tangan kiri”. (Lihat Asma’ wa Sifat, Baihaqi, hal. 139-140)
Apalagi telah diriwayatkan dengan shahih bahwa kedua tangan Allah adalah kanan, sebagaimana dalam sabdanya:
إِنَّ الْمُقْسِطِيْنَ عِنْدَ اللهِ عَلَى مَنَابِرٍ مِنْ نُوْرٍ عَنْ يَمِيْنِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِيْنٌ..... (رواه مسلم)
Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil di sisi Allah (mereka berada) di atas mimbar dari cahaya dari sisi kanan Allah Azza wa Jalla. Dan Kedua Tangan Allah adalah Kanan … (HR. Muslim)
Yang demikian karena tangan Allah keduanya Maha Sempurna, tidak sama dengan tangan mahlukNya. Sedangkan istilah kiri mengandung makna kekurangan dan kelemahan pada mahluk, maka tidak layak disebutkan untuk tangan Allah yang Maha Sempurna.
JARI-JEMARI ALLAH
Diriwayatkan dari ‘Amr bin Ash, bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِنَّ قُلُوْبَ بَنِى آدَمَ كُلًُّهَا بَيْنَ إٍصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَآءُ..
Sesungguhnya hati Bani Adam seluruhnya berada di antara dua jari dari jari ar-Rahman (Allah) seperti hati yang satu. Allah memalingkannya sekehendaknya. (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain Rasulullah صلى الله عليه وسلم membenarkan perkataan seorang Rahib Yahudi ketika menyebutkan jari-jemari bagi Allah, seperti dalam riwayat dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, ia berkata:
جَاءَ حَبْرٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَوْ يَا أَبَا الْقَاسِمِ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى إِصْبَعٍ وَاْلأَرَضِينَ عَلَى إِصْبَعٍ وَالْجِبَالَ وَالشَّجَرَ عَلَى إِصْبَعٍ وَالْمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَعٍ وَسَائِرَ الْخَلْقِ عَلَى إِصْبَعٍ ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ فَيَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَنَا الْمَلِكُ فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَجُّبًا مِمَّا قَالَ الْحَبْرُ تَصْدِيقًا لَهُ ثُمَّ قَرَأَ ))وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَاْلأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ(((متفق عليه)
Seorang pendeta datang berjumpa Nabi صلى الله عليه وسلم lalu berkata: Wahai Muhammad atau Wahai Abu al-Qasim! Pada Hari Kiamat Allah سبحانه وتعالى memegang langit, bumi, gunung-gunung, pohon-pohon, air, tanah dan semua makhluk dengan jari-jemariNya. Kemudian Dia menggoyangkannya sambil berfirman: “Akulah Raja, Akulah Raja”. Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم tertawa karena kagum mendengar kata-kata pendeta tersebut sambil membenarkannya. Kemudian beliau membaca ayat :
((وَ مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَاْلأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِيْنِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ)).
Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Rabb dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (HR. Bukhari Muslim)
Dan dalam riwayat lain:
جَاءَ حَبَرٌ مِنَ الْيَهُوْدِ فَقَالَ: يَضَعُ السَّمَوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى إِصْبَعٍ وَقَالَ تَعَجُّبًا لَهُ تَصْدِيْقًا لَهُ. (رواه البخاري ومسلم)
Datang seorang rahib dari Yahudi dan berkata: “Allah meletakkan langit-langit di jari-Nya pada hari kiamat”, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun terkagum-kagum membenarkan berita tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim)
TELAPAK TANGAN ALLAH
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَا تَصَدَّقَ أَحَدٌ بِصَدَقَةٍ مِنْ طَيِّبٍ -وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ- إِلاَّ أَخَذَهَا الرَّحْمَنُ بِيَمِيْنِهِ وَإِنْ كَانَتْ تَمْرَةً فَتَرِبُوْ فِيْ كَفِّ الرَّحْمَنِ حَتَّى تَكُوْنَ أَعْظَمٌ مِنَ الْجَبَلِ كَمَا يُرَبِّيُّ أَحَدُكُمْ فَلْوَهُ أَوْ فَصِيْلَهُ. (رواه مسلم)
Tidaklah seseorang bershadaqah dengan shadaqah yang baik –dan Allah tidak menerima kecuali yang baik—kecuali Allah yang Maha Rahman akan mengambilnya dengan Tangan kanan-Nya, walaupun sebuah kurma, Allah akan membesarkannya di Telapak Tangan Allah yang Maha Rahman hingga menjadi lebih besar dari gunungو sebagaimana salah seorang kalian membesarkan anak kambing atau anak unta. (HR. Bukhari dan Muslim)
LENGAN ALLAH
Didalam riwayat yang agak panjang, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
هَلْ تَنْتَجُ اِبِلُ قَوْمِكَ صِحَاحًا آذَانُهَا فَتَعَمَّدَ إِلَى بَعْضِهَا فَتَقَطَّعَ آذَانَهَا وَتَقُوْلُ هِيَ بِحُرٍّ وَتَشُقَّهَا أَوْ تَشُقَّ جُلُوْدَهَا وَتَقُوْلُ هِيِ حَرَامٌ فَتَحْرِمُهَا عَلَيْكَ وَعَلَى أَهْلِكَ؟ قَالَ: نَعَم. قَالَ: فَكُلُّ مَا آتَاكَ اللهُ حِلٌّ وَسَاعِدُ اللهِ أَشَدُّ مِنْ سَاعِدِكَ وَمُوْسَى اللهِ أَحَدٌ مِنْ مُوْسَاكَ. (رواه أحمد والحاكم وأبو داود والطبراني والبيهقي والترمذي وقال: حديث حسن)
Apakah unta-unta kaummu yang lahir dalam keadaan sehat dan utuh telinga-telinganya kemudian kamu dengan sengaja mengambil pisau dan memotong telinga-telinganya dan kamu katakan unta-unta ini merdeka?!. Dan kamu robek telinga-telinganya atau kamu cacati kulit-kulitnya, kemudian kamu katakan unta-unta ini haram? Kemudian kamu haramkan untuk dirimu dan keluargamu?! Dia menjawab: “Ya”. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sungguh seluruh apa yang diberikan Allah kepadamu (dari binatang ternak itu) adalah halal. Ingat Lengan Allah lebih kuat dari lenganmu dan Pisau Allah lebih tajam dari pisaumu.” (HR. Ahmad, Hakim, Abu Dawud, Baihaqi, Thabrani dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata: “Hadits Hasan Shahih). Lihat Tahqiq Kitab Asma’ wa Sifat oleh Al-Baihaqi, hal. 170).
SIKAP AHLUS SUNNAH TERHADAP RIWAYAT-RIWAYAT DIATAS
Berkata Sufyan Ibnu Uyainah:
كُلُّ مَا وَصَفَ اللهُ بِهِ نَفْسُهُ فِي كِتَابِهِ فََتَفْسِيْرُهُ تِلاَوَتُهُ وَالسُّكُوْتُ عَنْهُ.
Setiap apa yang Allah sifati diri-Nya dalam kitab-Nya maka tafsirnya adalah membacanya dan diam. (Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, hal. 248)
Berkata Ibnu Syihab Az-Zuhri:
عَلَى اللهِ الْبَيَانُ وَعَلَى الرَّسُوْلِ الْبَلاَغُ وَعَلَيْنَا التَّسْلِيْمُ.
Allah yang menerangkan, rasul yang menyampaikan dan atas kita untuk menerima. (Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, hal. 249)
Berkata Wahb bin Munabbih ketika ditanya oleh seorang tokoh sesat Ja’d bin Dirham tentang asma’ wa sifat:
وَيْلَكَ يَا جَعْدُ بَعْضُ الْمَسْأَلَةِ إِنِّي َلأَظُنًّكَ مِنَ الْهَالِكِيْنَ. يَا جَعْدُ لُوْ لَمْ يُخْبِرْنَا اللهُ فِي كِتَابِهِ أَنَّ لَهُ يَدًّا وَعَيْنًا وَوَجْهًا لمََا قُلْنَا ذَلِكَ فَاتَّقِ اللهَ.
Celaka engkau wahai Ja’d karena permasalahan ini. Sungguh aku menduga engkau akan binasa. Wahai Ja’d, kalau saja Allah tidak mengkabarkan dalam kitab-Nya bahwa dia memiliki tangan, mata atau wajah, tentu kamipun tidak akan mengatakannya.Bertakwalah engkau kepada Allah!” (Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, hal. 190)
Berkata al-Walid ibnu Muslim: “Aku telah bertanya kepada AlAuza’I, Sufyan Ats-tsauri, Malik bin Anas tentang hadits-hadits sifat dan ru’yah (tentang dilihatnya Allah pada hari kiamat), mereka semua menjawab:
أَمَرُّوْهَا كَمَا جَاءَتْ بِلاَ كَيْفٍ.
Langsungkanlah, sebagaimana adanya tanpa mempertanyakan seperti apa”. (Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, hal. 249)
Berkata Imam Malik bin Anas: “Berhati-hatilah kalian terhadap kebid’ahan.” Beliau ditanya: “Apakah bid’ah itu”. Beliau menjawab: “Ahlul bid’ah adalah mereka yang membicarakan tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, kalam Allah, Ilmu Allah dan kekuasan-Nya tanpa ilmu. Mereka tidak mau diam sebagaimana diamnya para shahabat dan tabi’in terhadap masalah tersebut”. (Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, hal. 244)
Berkata Imam Al-Barbahari: “Tidak boleh berbicara tentang Allah kecuali dengan apa Allah sifatkan diriNya dengannya dalam al-Qur’an dan apa yang diterangkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada para shahabatnya”.
Ia juga berkata: “Tidak berbicara tentang sifat-sifat Rabb dengan pertanyaan: “Bagaimana?” atau “mengapa?”, kecuali orang yang ragu terhadap Allah tabaraka wa ta’ala”. (Syarhus Sunnah, hal. 70)
(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 44/Th. II 19 Dzulqo’dah 1425 H/31 Desember 2004 M, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli "Kedua Tangan Allah Kanan". Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Infaq Rp. 100,-/exp. Pesanan min. 50 exp di bayar di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Redaksi: Muhammad Sholehuddin, Dedi Supriyadi, Eri Ziyad; Sekretaris: Ahmad Fauzan; Sirkulasi: Arief Subekti, Agus Rudiyanto, Zaenal Arifin; Keuangan: Kusnendi. Pemesanan hubungi: Arif Subekti telp. (0231) 481215.)
Tampilkan postingan dengan label taala. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label taala. Tampilkan semua postingan
Kamis, 19 Juni 2014
Jumat, 13 Juni 2014
AHLUSUNNAH MENGIMANI BAHWA ALLAH TAALA DI ATAS ARSY NYA
Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed
Ayat-ayat al-Quran yang menyatakan bahwa Allah Maha tinggi di atas ‘Arsy-Nya sangat banyak. Diantaranya firman Allah:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ... ]الأعراف: 54؛ يونس: 3[
Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia beristiwa’ di atas Arsy… (al-A’raaf: 54 dan Yunus: 3)
اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ... ]الرعد: 2[
Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia beristiwa’ di atas Arsy …. (Ar-Rad: 2)
الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ...]الفرقان: 59[
Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa’ di atas Arsy…(al-Furqan: 59)
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى. ]طه: 5[
(Yaitu) Ar-Rahman yang beristiwa’ di atas ‘Arsy. (Thaha: 5)
...إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ...]فاطر: 10[
..Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkan-Nya… (Faathir: 10)
يُدَبِّرُ اْلأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى اْلأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ. ]السجدة: 5[
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitungan kalian. (as-Sajdah: 5)
Dan masih banyak ayat-ayat lainnya yang menunjukkan Maha Tingginya Allah di atas ‘Arsy-Nya.
Dengan banyaknya ayat-ayat yang muhkamat (jelas dan tidak tersamar) tersebut, maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah sejak para Shahabat, Tabi’in dan para pengikut mereka dari kalangan ahlul hadits mengimani dengan yakin dan mempersaksikan bahwa Allah سبحانه وتعالى tinggi di atas ‘Arsy-Nya. Mereka memahami makna istiwa’ dalam bahasa Arab yaitu “Tinggi, di Atas”. Hanya saja mereka tetap menyatakan bahwa ketinggian Allah سبحانه وتعالى di atas ‘Arsy-Nya tidak sama dengan mahluk-Nya; tidak seperti seorang raja di atas singgasananya dan tidak pula seperti seseorang di atas kendaraannya. Ahlus Sunnah wal Jama’ah menyatakan bahwa tingginya Allah di atas ‘Arsy-Nya sesuai dengan kemuliaan-Nya.
Dan mereka tidak mempermasalahkan bagaimana dan seperti apa istiwa’nya Allah di atas ‘Arsy-Nya. Karena mereka meyakini bahwa dzat Allah tidak sama dengan mahluk-Nya, maka mereka tidak mungkin menerangkan bagaimana istiwa’nya Allah di atas ‘Arsy-Nya. Apalagi tidak ada satu sumberpun dari al-Quran dan as-Sunnah yang menerangkan tentang kaifiyahnya.
Seperti kisah yang terjadi pada Imam Malik رحمه الله sebagaimana dinukil oleh imam ash-Shabuni dalam kitabnya Aqidatus Salaf wa ashhabul Hadits. Imam Malik ketika didatangi oleh seseorang di majlisnya, kemudian bertanya: “Ar-Rahman ‘alal ‘Arsy istawa, bagaimana istiwa’-Nya?”. Beliau رحمه الله tertunduk dan marah. Dan tidaklah beliau pernah marah seperti marahnya ketika mendengarkan pertanyaan tersebut. Beliau pun meneteskan butiran-butiran keringat dari dahinya; sementara para hadirin pun terdiam dan tertunduk, semuanya menunggu apa yang akan terjadi dan apa yang akan dikatakan oleh Imam Malik. Beberapa saat kemudian beliau رحمه الله pun tersadar dan mengangkat kepalanya, seraya berkata:
الْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ، وَاْلأِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُولٍ، وَاْلإِيْمَانُ بِِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ، وَإنِّي َلأَخَافُ أَنْ تَكُوْنَ ضَالاًّ.
“Tentang bagaimananya tidak bisa diketahui dengan akal, tentang makna istiwa’ sudah diketahui; beriman dengannya adalah wajib, dan bertanya tentangnya (tentang kaifiyah) adalah bid’ah. Dan sungguh aku khawatir bahwa engkau adalah orang yang sesat.”
Maka orang itupun diperintahkan untuk diusir dari majlisnya. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 45)
Demikianlah sikap keras para ulama ahlus sunnah terhadap pertanyaan takyif yang tidak mungkin bisa dipikirkan dengan akal, karena masalah dzat Alllah dan sifat-sifat-Nya adalah masalah ghaib yang kita tidak mungkin dapat mengenalinya kecuali melalui al-Qur’an dan sunnah.
Dan para ulama ahlus sunnah pun tidak ada yang berselisih tentang istiwa’nya Allah di atas ‘Arsy-Nya, dan ‘Arsy-Nya di atas langit. Mereka menetapkan hal ini sesuai dengan apa yang telah Allah سبحانه وتعالى tetapkan; mengimani, membenarkan Allah azza wa jalla dalam berita-berita yang telah disampaikan-Nya dan mengucapkan sesuai dengan apa yang telah Allah سبحانه وتعالى ucapkan tentang istiwa’Nya di atas ‘ArsyNya. Mereka melangsungkannya atas dhahir (ayat-ayat)nya dan menyerahkan tentang kaifiyahnya kepada Allah. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal.44)
Ahlus sunnah tidak pula berani menarik makna istiwa kepada makna-makna lain yang sama sekali tidak berkaitan dengan lafadznya, seperti apa yang dilakukan oleh ahlul bid’ah yang menarik makna “istiwa’” kepada “istaula”. Kalimat ini bukan tafsir, bukan pula makna istiwa’, karena sama sekali tidak berkaitan dengan lafadz maupun maknanya. Perbuatan ini termasuk tahrif yaitu mengganti kalimat al-Qur’an dengan kalimat yang lain yang tidak saling berhubungan, baik secara lafadz maupun secara makna.
Pantas kalau dikatakan oleh para ulama, bahwa apa yang dilakukan oleh mereka sama persis seperti yang telah dilakukan oleh kaum Yahudi terhadap kitab mereka. Mereka mengganti kalimat hithah menjadi hinthah.
Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى kisahkan tentang tahrif mereka ini dalam ayat-Nya:
... وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ (58) فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلاً غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ. ]البقرة: 58-59[
…dan katakanlah: Hiththah ("Bebaskanlah kami dari dosa"), niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahan kalian, dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik". Maka orang-orang yang zalim mengganti kalimat yang diperintahkan kepada mereka dengan kalimat lain. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu kehinaan dari langit, karena mereka berbuat fasik. (al-Baqarah: 58-59)
Dijelaskan dalam tafsirnya, bahwa kaum Yahudi mengganti kalimat Hiththah menjadi Hinthah (gandum) untuk memperolok-olok perintah Nabinya.
Seperti inilah tahrif yang dilakukan oleh para penolak sifat terhadap kalimat “istiwa’” yang bermakna “Tinggi di atas” dengan kalimat “istaula” yang bermakna “menguasai” untuk menolak sifat Tinggi-nya Allah dan mendukung keyakinan batil mereka bahwa Allah menyatu dengan hamba-Nya di alam ini. Jika kaum Yahudi menambah huruf ‘nun’ pada Hiththah, sedangkan ahlul bid’ah menambah huruf ‘lam’ pada Istawa’.
Berkata Abu Utsman Ismail bin Abdurrahman Ash-Shabuni: “Ashhabul hadits meyakini dan mempersaksikan bahwa Allah سبحانه وتعالى di atas tujuh lapis langit, di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana Ia sebutkan dalam kitab-Nya”. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal.44)
Berkata Abdullah ibnul Mubarak; “Kami mengenali Rabb kami di atas tujuh lapis langit, tinggi di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari mahluk-Nya. Dan kami tidak berkata seperti ucapan Jahmiyah bahwa Dia ada di sini (sambil menunjuk ke bumi)”. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 46-47)
Berkata Muhammad bin Ishak ibnu Huzaimah: “Barangsiapa yang tidak mengatakan bahwa Allah azza wa jalla di atas ‘Arsy-Nya, tinggi di atas tujuh lapis langit, maka dia kafir kepada Rabb-nya; halal darahnya, diminta taubat kalau mau bertaubat; kalau tidak mau bertaubat, maka dipenggal lehernya, dibuang jasadnya ke tempat-tempat pembuangan sampah agar tidak mengganggu kaum muslimin dan para mu’ahad dengan busuknya bau bangkai mereka. Hartanya menjadi fa’i (pampasan perang untuk baitul maal). Tidak boleh mewarisinya seorang pun dari kaum muslimin, karena seorang muslim tidak mewarisi dari seorang kafir sebagaimana ucapan Nabi صلى الله عليه وسلم yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid رضي الله عنه:
لاَ يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلاَ يَرِثُ الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ. (متفق عليه(
Orang muslim tidak mewarisi dari orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi dari orang muslim. (HR. Bukhari Muslim) (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 47)
Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah berdalil atas tidak bolehnya memerdekakan budak yang kafir untuk kaffarah dengan riwayat dari Mu’awiyah bin Hakam, ketika ia ingin memerdekakan budak perempuan hitam sebagai kaffarah. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun mengujinya dengan bertanya kepadanya: “Di mana Allah?” Dia menjawab: “Di langit”. Kemudian beliau صلى الله عليه وسلم bertanya lagi: “Siapa Aku?” Maka budak itu menjawab dengan mengisyaratkan dengan jarinya kepada beliau dan ke langit. Yakni engkau adalah utusan yang di langit. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
اِعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ.
Merdekakanlah dia, karena dia adalah seorang mukminah. (HSR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad, dan Ibnu Huzaimah).
Dengan riwayat ini Rasulullah صلى الله عليه وسلمmenyatakan keislaman budak tersebut dengan pernyataannya bahwa Allah Maha Tinggi di atas langit. Dan Imam Syafi’i berdalil dengan hadits ini karena beliau meyakini Allah Maha Tinggi di atas ‘Arsy-Nya, dan bahwasanya seseorang yang mengikrarkan yang demikian adalah seorang mukmin.
Tidak mungkin seorang seperti imam Syafi’i رحمه الله, tidak sependapat dengan hadits yang telah diriwayatkannya. Sebagaimana telah dikisahkan dari beliau ketika pada suatu hari beliau meriwayatkan hadits, ada seorang yang bertanya kepadanya: “Wahai Abu Abdillah (kunyah dari Imam Syafi’I –pent.) apakah engkau sependapat dengan hadits ini?” Maka beliau رحمه الله marah seraya berkata:
تَرَانِي فِي بِيْعَةٍ أَوْ كَنِيْسَةٍ؟ تَرَى عَلَيَّ زِيَّ الْكُفَّارِ؟ هُوَ ذَا تَراَنِي فِي مَسْجِدِ الْمُسْلِمِيْنَ، عَلَى زِيِّ الْمُسْلِمِيْنَ، مُسْتَقْبِلَ قِبْلَتِهِمْ، أَرْوِي حَدِيْثًا عَنِ النَّبِيِّ ثُمَّ لاَ اَقُوْلُ بِهِ؟
Apakah engkau melihat aku (keluar) dari biara atau gereja?! Apakah engkau melihat aku memakai pakaian orang kafir?! Bukankah engkau melihat aku berada dalam masjid kaum muslimin, dengan pakaian kaum muslimin, menghadap kiblat kaum muslimin? Apakah apabila aku telah meriwayatkan hadits dari Nabi kemudian aku tidak sependapat dengannya?! (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 47-48)
Ini adalah bukti kalau imam Syafi’i tentu sependapat dengan hadits ini, bahwa seseorang dikatakan mukmin jika mengikrarkan dan meyakini bahwa Allah Maha Tinggi di Atas tujuh lapis langit di atas ‘Arsy-Nya.
Wallahu a’lam.
(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf Edisi: Edisi: 49/Th. II, tgl 2 Muharram 1426 H/11 Februari 2005 M, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli "Allah Maha Tinggi di atas Arsy-Nya". Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Infaq Rp. 100,-/exp. Pesanan min. 50 exp di bayar di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Redaksi: Muhammad Sholehuddin, Dedi Supriyadi, Eri Ziyad; Sekretaris: Ahmad Fauzan; Sirkulasi: Arief Subekti, Agus Rudiyanto, Zaenal Arifin; Keuangan: Kusnendi. Pemesanan hubungi: Arif Subekti telp. (0231) 481215.)
www.salafy.or.id versi CHM
Ayat-ayat al-Quran yang menyatakan bahwa Allah Maha tinggi di atas ‘Arsy-Nya sangat banyak. Diantaranya firman Allah:
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ... ]الأعراف: 54؛ يونس: 3[
Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia beristiwa’ di atas Arsy… (al-A’raaf: 54 dan Yunus: 3)
اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ... ]الرعد: 2[
Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia beristiwa’ di atas Arsy …. (Ar-Rad: 2)
الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَاْلأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ...]الفرقان: 59[
Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa’ di atas Arsy…(al-Furqan: 59)
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى. ]طه: 5[
(Yaitu) Ar-Rahman yang beristiwa’ di atas ‘Arsy. (Thaha: 5)
...إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ...]فاطر: 10[
..Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang shalih dinaikkan-Nya… (Faathir: 10)
يُدَبِّرُ اْلأَمْرَ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى اْلأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِي يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّونَ. ]السجدة: 5[
Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitungan kalian. (as-Sajdah: 5)
Dan masih banyak ayat-ayat lainnya yang menunjukkan Maha Tingginya Allah di atas ‘Arsy-Nya.
Dengan banyaknya ayat-ayat yang muhkamat (jelas dan tidak tersamar) tersebut, maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah sejak para Shahabat, Tabi’in dan para pengikut mereka dari kalangan ahlul hadits mengimani dengan yakin dan mempersaksikan bahwa Allah سبحانه وتعالى tinggi di atas ‘Arsy-Nya. Mereka memahami makna istiwa’ dalam bahasa Arab yaitu “Tinggi, di Atas”. Hanya saja mereka tetap menyatakan bahwa ketinggian Allah سبحانه وتعالى di atas ‘Arsy-Nya tidak sama dengan mahluk-Nya; tidak seperti seorang raja di atas singgasananya dan tidak pula seperti seseorang di atas kendaraannya. Ahlus Sunnah wal Jama’ah menyatakan bahwa tingginya Allah di atas ‘Arsy-Nya sesuai dengan kemuliaan-Nya.
Dan mereka tidak mempermasalahkan bagaimana dan seperti apa istiwa’nya Allah di atas ‘Arsy-Nya. Karena mereka meyakini bahwa dzat Allah tidak sama dengan mahluk-Nya, maka mereka tidak mungkin menerangkan bagaimana istiwa’nya Allah di atas ‘Arsy-Nya. Apalagi tidak ada satu sumberpun dari al-Quran dan as-Sunnah yang menerangkan tentang kaifiyahnya.
Seperti kisah yang terjadi pada Imam Malik رحمه الله sebagaimana dinukil oleh imam ash-Shabuni dalam kitabnya Aqidatus Salaf wa ashhabul Hadits. Imam Malik ketika didatangi oleh seseorang di majlisnya, kemudian bertanya: “Ar-Rahman ‘alal ‘Arsy istawa, bagaimana istiwa’-Nya?”. Beliau رحمه الله tertunduk dan marah. Dan tidaklah beliau pernah marah seperti marahnya ketika mendengarkan pertanyaan tersebut. Beliau pun meneteskan butiran-butiran keringat dari dahinya; sementara para hadirin pun terdiam dan tertunduk, semuanya menunggu apa yang akan terjadi dan apa yang akan dikatakan oleh Imam Malik. Beberapa saat kemudian beliau رحمه الله pun tersadar dan mengangkat kepalanya, seraya berkata:
الْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُوْلٍ، وَاْلأِسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُولٍ، وَاْلإِيْمَانُ بِِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ، وَإنِّي َلأَخَافُ أَنْ تَكُوْنَ ضَالاًّ.
“Tentang bagaimananya tidak bisa diketahui dengan akal, tentang makna istiwa’ sudah diketahui; beriman dengannya adalah wajib, dan bertanya tentangnya (tentang kaifiyah) adalah bid’ah. Dan sungguh aku khawatir bahwa engkau adalah orang yang sesat.”
Maka orang itupun diperintahkan untuk diusir dari majlisnya. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 45)
Demikianlah sikap keras para ulama ahlus sunnah terhadap pertanyaan takyif yang tidak mungkin bisa dipikirkan dengan akal, karena masalah dzat Alllah dan sifat-sifat-Nya adalah masalah ghaib yang kita tidak mungkin dapat mengenalinya kecuali melalui al-Qur’an dan sunnah.
Dan para ulama ahlus sunnah pun tidak ada yang berselisih tentang istiwa’nya Allah di atas ‘Arsy-Nya, dan ‘Arsy-Nya di atas langit. Mereka menetapkan hal ini sesuai dengan apa yang telah Allah سبحانه وتعالى tetapkan; mengimani, membenarkan Allah azza wa jalla dalam berita-berita yang telah disampaikan-Nya dan mengucapkan sesuai dengan apa yang telah Allah سبحانه وتعالى ucapkan tentang istiwa’Nya di atas ‘ArsyNya. Mereka melangsungkannya atas dhahir (ayat-ayat)nya dan menyerahkan tentang kaifiyahnya kepada Allah. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal.44)
Ahlus sunnah tidak pula berani menarik makna istiwa kepada makna-makna lain yang sama sekali tidak berkaitan dengan lafadznya, seperti apa yang dilakukan oleh ahlul bid’ah yang menarik makna “istiwa’” kepada “istaula”. Kalimat ini bukan tafsir, bukan pula makna istiwa’, karena sama sekali tidak berkaitan dengan lafadz maupun maknanya. Perbuatan ini termasuk tahrif yaitu mengganti kalimat al-Qur’an dengan kalimat yang lain yang tidak saling berhubungan, baik secara lafadz maupun secara makna.
Pantas kalau dikatakan oleh para ulama, bahwa apa yang dilakukan oleh mereka sama persis seperti yang telah dilakukan oleh kaum Yahudi terhadap kitab mereka. Mereka mengganti kalimat hithah menjadi hinthah.
Sebagaimana Allah سبحانه وتعالى kisahkan tentang tahrif mereka ini dalam ayat-Nya:
... وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ (58) فَبَدَّلَ الَّذِينَ ظَلَمُوا قَوْلاً غَيْرَ الَّذِي قِيلَ لَهُمْ فَأَنْزَلْنَا عَلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا رِجْزًا مِنَ السَّمَاءِ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ. ]البقرة: 58-59[
…dan katakanlah: Hiththah ("Bebaskanlah kami dari dosa"), niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahan kalian, dan kelak Kami akan menambah (pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik". Maka orang-orang yang zalim mengganti kalimat yang diperintahkan kepada mereka dengan kalimat lain. Sebab itu Kami timpakan atas orang-orang yang zalim itu kehinaan dari langit, karena mereka berbuat fasik. (al-Baqarah: 58-59)
Dijelaskan dalam tafsirnya, bahwa kaum Yahudi mengganti kalimat Hiththah menjadi Hinthah (gandum) untuk memperolok-olok perintah Nabinya.
Seperti inilah tahrif yang dilakukan oleh para penolak sifat terhadap kalimat “istiwa’” yang bermakna “Tinggi di atas” dengan kalimat “istaula” yang bermakna “menguasai” untuk menolak sifat Tinggi-nya Allah dan mendukung keyakinan batil mereka bahwa Allah menyatu dengan hamba-Nya di alam ini. Jika kaum Yahudi menambah huruf ‘nun’ pada Hiththah, sedangkan ahlul bid’ah menambah huruf ‘lam’ pada Istawa’.
Berkata Abu Utsman Ismail bin Abdurrahman Ash-Shabuni: “Ashhabul hadits meyakini dan mempersaksikan bahwa Allah سبحانه وتعالى di atas tujuh lapis langit, di atas ‘Arsy-Nya sebagaimana Ia sebutkan dalam kitab-Nya”. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal.44)
Berkata Abdullah ibnul Mubarak; “Kami mengenali Rabb kami di atas tujuh lapis langit, tinggi di atas ‘Arsy-Nya, terpisah dari mahluk-Nya. Dan kami tidak berkata seperti ucapan Jahmiyah bahwa Dia ada di sini (sambil menunjuk ke bumi)”. (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 46-47)
Berkata Muhammad bin Ishak ibnu Huzaimah: “Barangsiapa yang tidak mengatakan bahwa Allah azza wa jalla di atas ‘Arsy-Nya, tinggi di atas tujuh lapis langit, maka dia kafir kepada Rabb-nya; halal darahnya, diminta taubat kalau mau bertaubat; kalau tidak mau bertaubat, maka dipenggal lehernya, dibuang jasadnya ke tempat-tempat pembuangan sampah agar tidak mengganggu kaum muslimin dan para mu’ahad dengan busuknya bau bangkai mereka. Hartanya menjadi fa’i (pampasan perang untuk baitul maal). Tidak boleh mewarisinya seorang pun dari kaum muslimin, karena seorang muslim tidak mewarisi dari seorang kafir sebagaimana ucapan Nabi صلى الله عليه وسلم yang diriwayatkan dari Usamah bin Zaid رضي الله عنه:
لاَ يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلاَ يَرِثُ الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ. (متفق عليه(
Orang muslim tidak mewarisi dari orang kafir dan orang kafir tidak mewarisi dari orang muslim. (HR. Bukhari Muslim) (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 47)
Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i rahimahullah berdalil atas tidak bolehnya memerdekakan budak yang kafir untuk kaffarah dengan riwayat dari Mu’awiyah bin Hakam, ketika ia ingin memerdekakan budak perempuan hitam sebagai kaffarah. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun mengujinya dengan bertanya kepadanya: “Di mana Allah?” Dia menjawab: “Di langit”. Kemudian beliau صلى الله عليه وسلم bertanya lagi: “Siapa Aku?” Maka budak itu menjawab dengan mengisyaratkan dengan jarinya kepada beliau dan ke langit. Yakni engkau adalah utusan yang di langit. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
اِعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ.
Merdekakanlah dia, karena dia adalah seorang mukminah. (HSR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad, dan Ibnu Huzaimah).
Dengan riwayat ini Rasulullah صلى الله عليه وسلمmenyatakan keislaman budak tersebut dengan pernyataannya bahwa Allah Maha Tinggi di atas langit. Dan Imam Syafi’i berdalil dengan hadits ini karena beliau meyakini Allah Maha Tinggi di atas ‘Arsy-Nya, dan bahwasanya seseorang yang mengikrarkan yang demikian adalah seorang mukmin.
Tidak mungkin seorang seperti imam Syafi’i رحمه الله, tidak sependapat dengan hadits yang telah diriwayatkannya. Sebagaimana telah dikisahkan dari beliau ketika pada suatu hari beliau meriwayatkan hadits, ada seorang yang bertanya kepadanya: “Wahai Abu Abdillah (kunyah dari Imam Syafi’I –pent.) apakah engkau sependapat dengan hadits ini?” Maka beliau رحمه الله marah seraya berkata:
تَرَانِي فِي بِيْعَةٍ أَوْ كَنِيْسَةٍ؟ تَرَى عَلَيَّ زِيَّ الْكُفَّارِ؟ هُوَ ذَا تَراَنِي فِي مَسْجِدِ الْمُسْلِمِيْنَ، عَلَى زِيِّ الْمُسْلِمِيْنَ، مُسْتَقْبِلَ قِبْلَتِهِمْ، أَرْوِي حَدِيْثًا عَنِ النَّبِيِّ ثُمَّ لاَ اَقُوْلُ بِهِ؟
Apakah engkau melihat aku (keluar) dari biara atau gereja?! Apakah engkau melihat aku memakai pakaian orang kafir?! Bukankah engkau melihat aku berada dalam masjid kaum muslimin, dengan pakaian kaum muslimin, menghadap kiblat kaum muslimin? Apakah apabila aku telah meriwayatkan hadits dari Nabi kemudian aku tidak sependapat dengannya?! (Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 47-48)
Ini adalah bukti kalau imam Syafi’i tentu sependapat dengan hadits ini, bahwa seseorang dikatakan mukmin jika mengikrarkan dan meyakini bahwa Allah Maha Tinggi di Atas tujuh lapis langit di atas ‘Arsy-Nya.
Wallahu a’lam.
(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf Edisi: Edisi: 49/Th. II, tgl 2 Muharram 1426 H/11 Februari 2005 M, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli "Allah Maha Tinggi di atas Arsy-Nya". Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Infaq Rp. 100,-/exp. Pesanan min. 50 exp di bayar di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Redaksi: Muhammad Sholehuddin, Dedi Supriyadi, Eri Ziyad; Sekretaris: Ahmad Fauzan; Sirkulasi: Arief Subekti, Agus Rudiyanto, Zaenal Arifin; Keuangan: Kusnendi. Pemesanan hubungi: Arif Subekti telp. (0231) 481215.)
www.salafy.or.id versi CHM
Langganan:
Postingan (Atom)