Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed
Keimanan terhadap penetapan adanya Tangan bagi Allah merupakan keyakinan Ahlus Sunnah wal jama’ah, sebagaimana telah kami jelaskan pada edisi lalu. Keyakinan ini makin jelas dan tegas karena Al-Quran dan as-Sunnah telah menyebutkan adanya sifat Tangan bagi Allah secara terperinci dan disebutkan dengan kanan.
KEDUA TANGAN ALLAH ITU KANAN
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالْأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّماوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ. ]الزمر: 67[
Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Rabb dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (az-Zumar: 67)
Demikian pula dalam firmanNya:
وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ اْلأَقَاوِيل ِ]44[ َلأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ ]45[ ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ. ]الحاقة: 44-46[
Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia dengan tangan kanan. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. (al-Haaqqah: 44-46)
Pada kedua ayat di atas Allah سبحانه وتعالى menyebutkan tangan dengan tangan kanan. Pada surat Az-Zumar Allah berfirman : “Dan langit digulung dengan Tangan Kanan-Nya”. Sedangkan dalam surat al-Haqqah dikatakan: “Aku ambil dengan dengan tangan kanan”.
Dalam tafsir ayat az-Zumar ayat 67 ini, disebutkan hadits yang shahih dari Abu Hurairah رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
يَقْبِضُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى اْلأَرْضَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَطْوِي السَّمَاءَ بِيَمِينِهِ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ مُلُوكُ اْلأَرْضِ. (متفق عليه)
Allah Tabaraka wa ta’ala menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat langit dengan tangan kanannya, kemudian berkata “Aku adalah Raja, mana raja-raja dunia? (HR. Bukhari-Muslim).
Diriwayatkan pula dari Abdullah bin Umar رضي الله عنه bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
يَطْوِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ السَّمَاوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّ بِيَدِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ؟ ثُمَّ يَطْوِي اْلأَرَضِينَ بِيَدِهِ اْلأُخْرَى ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ. (متفق عليه)
Allah Azza wa Jalla menggulung langit pada hari kiamat dan menggenggam-nya dengan tangan kanan-Nya seraya berkata: “Aku adalah Raja, mana orang-orang yang sombong?” Kemudian menggulung bumi-bumi dan menggenggamnya dengan tangannya yang lain seraya berkata: “Aku adalah Raja, mana raja-raja dunia, mana orang-orang yang sombong?” (HR. Bukhari Muslim)
Perlu diketahui, dalam hadits yang kedua ini disebutkan “tangan yang lain”, ini yang lebih shahih, sedangkan dalam lafadh lainnya disebutkan “dengan tangan kirinya”. Berkata Baihaqi dalam Asma’ wa Sifat: “Demikianlah diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Bakar ibnu Abi Syaibah, sedangkan sebutan “tangan kiri” disebutkan secara menyendiri oleh Umar Ibnu Hamzah dari Salim. Padahal telah diriwayatkan hadits yang sama oleh Nafi’ dan Ubaidullah Ibnu Muqsim dari Ibnu Umar, keduanya tidak menyebutkan kalimat “kiri”. Demikian pula telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah dan lain-lainnya dari Nabi صلى الله عليه وسلم, semuanya tidak ada yang menyebutkan “tangan kiri”. (Lihat Asma’ wa Sifat, Baihaqi, hal. 139-140)
Apalagi telah diriwayatkan dengan shahih bahwa kedua tangan Allah adalah kanan, sebagaimana dalam sabdanya:
إِنَّ الْمُقْسِطِيْنَ عِنْدَ اللهِ عَلَى مَنَابِرٍ مِنْ نُوْرٍ عَنْ يَمِيْنِ الرَّحْمَنِ عَزَّ وَجَلَّ وَكِلْتَا يَدَيْهِ يَمِيْنٌ..... (رواه مسلم)
Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil di sisi Allah (mereka berada) di atas mimbar dari cahaya dari sisi kanan Allah Azza wa Jalla. Dan Kedua Tangan Allah adalah Kanan … (HR. Muslim)
Yang demikian karena tangan Allah keduanya Maha Sempurna, tidak sama dengan tangan mahlukNya. Sedangkan istilah kiri mengandung makna kekurangan dan kelemahan pada mahluk, maka tidak layak disebutkan untuk tangan Allah yang Maha Sempurna.
JARI-JEMARI ALLAH
Diriwayatkan dari ‘Amr bin Ash, bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِنَّ قُلُوْبَ بَنِى آدَمَ كُلًُّهَا بَيْنَ إٍصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَآءُ..
Sesungguhnya hati Bani Adam seluruhnya berada di antara dua jari dari jari ar-Rahman (Allah) seperti hati yang satu. Allah memalingkannya sekehendaknya. (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain Rasulullah صلى الله عليه وسلم membenarkan perkataan seorang Rahib Yahudi ketika menyebutkan jari-jemari bagi Allah, seperti dalam riwayat dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, ia berkata:
جَاءَ حَبْرٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَوْ يَا أَبَا الْقَاسِمِ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُمْسِكُ السَّمَاوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى إِصْبَعٍ وَاْلأَرَضِينَ عَلَى إِصْبَعٍ وَالْجِبَالَ وَالشَّجَرَ عَلَى إِصْبَعٍ وَالْمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَعٍ وَسَائِرَ الْخَلْقِ عَلَى إِصْبَعٍ ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ فَيَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَنَا الْمَلِكُ فَضَحِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَجُّبًا مِمَّا قَالَ الْحَبْرُ تَصْدِيقًا لَهُ ثُمَّ قَرَأَ ))وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَاْلأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ(((متفق عليه)
Seorang pendeta datang berjumpa Nabi صلى الله عليه وسلم lalu berkata: Wahai Muhammad atau Wahai Abu al-Qasim! Pada Hari Kiamat Allah سبحانه وتعالى memegang langit, bumi, gunung-gunung, pohon-pohon, air, tanah dan semua makhluk dengan jari-jemariNya. Kemudian Dia menggoyangkannya sambil berfirman: “Akulah Raja, Akulah Raja”. Lalu Rasulullah صلى الله عليه وسلم tertawa karena kagum mendengar kata-kata pendeta tersebut sambil membenarkannya. Kemudian beliau membaca ayat :
((وَ مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَاْلأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَالسَّمَاوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِيْنِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ)).
Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya. Padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Rabb dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (HR. Bukhari Muslim)
Dan dalam riwayat lain:
جَاءَ حَبَرٌ مِنَ الْيَهُوْدِ فَقَالَ: يَضَعُ السَّمَوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى إِصْبَعٍ وَقَالَ تَعَجُّبًا لَهُ تَصْدِيْقًا لَهُ. (رواه البخاري ومسلم)
Datang seorang rahib dari Yahudi dan berkata: “Allah meletakkan langit-langit di jari-Nya pada hari kiamat”, maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم pun terkagum-kagum membenarkan berita tersebut. (HR. Bukhari dan Muslim)
TELAPAK TANGAN ALLAH
Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
مَا تَصَدَّقَ أَحَدٌ بِصَدَقَةٍ مِنْ طَيِّبٍ -وَلاَ يَقْبَلُ اللهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ- إِلاَّ أَخَذَهَا الرَّحْمَنُ بِيَمِيْنِهِ وَإِنْ كَانَتْ تَمْرَةً فَتَرِبُوْ فِيْ كَفِّ الرَّحْمَنِ حَتَّى تَكُوْنَ أَعْظَمٌ مِنَ الْجَبَلِ كَمَا يُرَبِّيُّ أَحَدُكُمْ فَلْوَهُ أَوْ فَصِيْلَهُ. (رواه مسلم)
Tidaklah seseorang bershadaqah dengan shadaqah yang baik –dan Allah tidak menerima kecuali yang baik—kecuali Allah yang Maha Rahman akan mengambilnya dengan Tangan kanan-Nya, walaupun sebuah kurma, Allah akan membesarkannya di Telapak Tangan Allah yang Maha Rahman hingga menjadi lebih besar dari gunungو sebagaimana salah seorang kalian membesarkan anak kambing atau anak unta. (HR. Bukhari dan Muslim)
LENGAN ALLAH
Didalam riwayat yang agak panjang, Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
هَلْ تَنْتَجُ اِبِلُ قَوْمِكَ صِحَاحًا آذَانُهَا فَتَعَمَّدَ إِلَى بَعْضِهَا فَتَقَطَّعَ آذَانَهَا وَتَقُوْلُ هِيَ بِحُرٍّ وَتَشُقَّهَا أَوْ تَشُقَّ جُلُوْدَهَا وَتَقُوْلُ هِيِ حَرَامٌ فَتَحْرِمُهَا عَلَيْكَ وَعَلَى أَهْلِكَ؟ قَالَ: نَعَم. قَالَ: فَكُلُّ مَا آتَاكَ اللهُ حِلٌّ وَسَاعِدُ اللهِ أَشَدُّ مِنْ سَاعِدِكَ وَمُوْسَى اللهِ أَحَدٌ مِنْ مُوْسَاكَ. (رواه أحمد والحاكم وأبو داود والطبراني والبيهقي والترمذي وقال: حديث حسن)
Apakah unta-unta kaummu yang lahir dalam keadaan sehat dan utuh telinga-telinganya kemudian kamu dengan sengaja mengambil pisau dan memotong telinga-telinganya dan kamu katakan unta-unta ini merdeka?!. Dan kamu robek telinga-telinganya atau kamu cacati kulit-kulitnya, kemudian kamu katakan unta-unta ini haram? Kemudian kamu haramkan untuk dirimu dan keluargamu?! Dia menjawab: “Ya”. Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda: “Sungguh seluruh apa yang diberikan Allah kepadamu (dari binatang ternak itu) adalah halal. Ingat Lengan Allah lebih kuat dari lenganmu dan Pisau Allah lebih tajam dari pisaumu.” (HR. Ahmad, Hakim, Abu Dawud, Baihaqi, Thabrani dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata: “Hadits Hasan Shahih). Lihat Tahqiq Kitab Asma’ wa Sifat oleh Al-Baihaqi, hal. 170).
SIKAP AHLUS SUNNAH TERHADAP RIWAYAT-RIWAYAT DIATAS
Berkata Sufyan Ibnu Uyainah:
كُلُّ مَا وَصَفَ اللهُ بِهِ نَفْسُهُ فِي كِتَابِهِ فََتَفْسِيْرُهُ تِلاَوَتُهُ وَالسُّكُوْتُ عَنْهُ.
Setiap apa yang Allah sifati diri-Nya dalam kitab-Nya maka tafsirnya adalah membacanya dan diam. (Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, hal. 248)
Berkata Ibnu Syihab Az-Zuhri:
عَلَى اللهِ الْبَيَانُ وَعَلَى الرَّسُوْلِ الْبَلاَغُ وَعَلَيْنَا التَّسْلِيْمُ.
Allah yang menerangkan, rasul yang menyampaikan dan atas kita untuk menerima. (Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, hal. 249)
Berkata Wahb bin Munabbih ketika ditanya oleh seorang tokoh sesat Ja’d bin Dirham tentang asma’ wa sifat:
وَيْلَكَ يَا جَعْدُ بَعْضُ الْمَسْأَلَةِ إِنِّي َلأَظُنًّكَ مِنَ الْهَالِكِيْنَ. يَا جَعْدُ لُوْ لَمْ يُخْبِرْنَا اللهُ فِي كِتَابِهِ أَنَّ لَهُ يَدًّا وَعَيْنًا وَوَجْهًا لمََا قُلْنَا ذَلِكَ فَاتَّقِ اللهَ.
Celaka engkau wahai Ja’d karena permasalahan ini. Sungguh aku menduga engkau akan binasa. Wahai Ja’d, kalau saja Allah tidak mengkabarkan dalam kitab-Nya bahwa dia memiliki tangan, mata atau wajah, tentu kamipun tidak akan mengatakannya.Bertakwalah engkau kepada Allah!” (Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, hal. 190)
Berkata al-Walid ibnu Muslim: “Aku telah bertanya kepada AlAuza’I, Sufyan Ats-tsauri, Malik bin Anas tentang hadits-hadits sifat dan ru’yah (tentang dilihatnya Allah pada hari kiamat), mereka semua menjawab:
أَمَرُّوْهَا كَمَا جَاءَتْ بِلاَ كَيْفٍ.
Langsungkanlah, sebagaimana adanya tanpa mempertanyakan seperti apa”. (Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, hal. 249)
Berkata Imam Malik bin Anas: “Berhati-hatilah kalian terhadap kebid’ahan.” Beliau ditanya: “Apakah bid’ah itu”. Beliau menjawab: “Ahlul bid’ah adalah mereka yang membicarakan tentang nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya, kalam Allah, Ilmu Allah dan kekuasan-Nya tanpa ilmu. Mereka tidak mau diam sebagaimana diamnya para shahabat dan tabi’in terhadap masalah tersebut”. (Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits, hal. 244)
Berkata Imam Al-Barbahari: “Tidak boleh berbicara tentang Allah kecuali dengan apa Allah sifatkan diriNya dengannya dalam al-Qur’an dan apa yang diterangkan oleh Rasulullah صلى الله عليه وسلم kepada para shahabatnya”.
Ia juga berkata: “Tidak berbicara tentang sifat-sifat Rabb dengan pertanyaan: “Bagaimana?” atau “mengapa?”, kecuali orang yang ragu terhadap Allah tabaraka wa ta’ala”. (Syarhus Sunnah, hal. 70)
(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 44/Th. II 19 Dzulqo’dah 1425 H/31 Desember 2004 M, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli "Kedua Tangan Allah Kanan". Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Infaq Rp. 100,-/exp. Pesanan min. 50 exp di bayar di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Redaksi: Muhammad Sholehuddin, Dedi Supriyadi, Eri Ziyad; Sekretaris: Ahmad Fauzan; Sirkulasi: Arief Subekti, Agus Rudiyanto, Zaenal Arifin; Keuangan: Kusnendi. Pemesanan hubungi: Arif Subekti telp. (0231) 481215.)
Tampilkan postingan dengan label sifat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sifat. Tampilkan semua postingan
Kamis, 19 Juni 2014
Senin, 16 Juni 2014
Ahlussunnah mengimani sifat Allah Berbicara
Penulis : Al Ustadz Muhammad Umar as Sewed
Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan para Ashabul Hadits sejak zaman sahabat sampai hari ini telah meyakini bahwa Allah سبحانه وتعالى memiliki sifat kalam (berbicara). Dan mereka meyakini bahwa Allah سبحانه وتعالى berkuasa untuk berbicara kapanpun dia kehendaki.
Allah سبحانه وتعالى telah menjelaskan dengan tegas dalam ayat-Nya:
...وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا. ]النساء: 164[
…Dan Allah telah berbicara langsung kepada Musa. (an-Nisaa’: 164)
Telah diriwayatkan secara mutawatir bahwa ayat ini dibaca dengan rafa’ pada lafdhul jalallah “Allahu”. Dalam ilmu nahwu hal itu berarti Allah sebagai pelaku dari kata kerja kallama atau berarti Allah-lah yang berbicara.
Hanya kaum mu’tazilah yang menyelewengkan bacaan tersebut dengan membacanya secara manshub pada lafdhul jalallah “Allaha”. Sehingga mereka menterjemahkannya “Musa mengajak berbicara Allah”, atau dalam hal ini berarti Musa-lah yang berbicara kepada Allah. Ta’wil ini mereka lakukan untuk menolak sifat Kalam bagi Allah.
Namun, mereka tidak bisa membantah dan mena’wilkan ayat Allah سبحانه وتعالى yang menyatakan:
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ... ]الأعراف: 143[
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabb-nya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Rabb-ku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada-Mu”…. (Al-A’raaf: 143)
Dalam ayat ini jelas sekali dinyatakan bahwa yang berbicara adalah Allah, bukan Musa, karena tidak mungkin kata ganti “hu” (“nya”) berlaku sebagai pelaku.
Alasan kaum mu’tazilah menolak sifat kalam bagi Allah di atas adalah sama seperti ketika mereka menolak sifat-sifat lainnya bagi Allah. Mereka menganggap bahwa kalau kita mengimani Allah berbicara, berarti menyamakan Allah dengan makhluk-Nya.
Oleh karena itu bantahan Ahlus Sunnah bagi mereka cukup dengan apa yang kita telah sebutkan pada edisi yang lalu, yaitu berbicaranya Allah sesuai dengan keagunganNya, tidak sama dengan berbicaranya makhluk. Selesai.
Apalagi dalam hadits-hadits yang shahih, banyak disebutkan tentang sifat kalam bagi Allah. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi:
أَتَمْنَعُوْنَنِيْ أََنْ أُبَلِّغَ كَلاَمَ رَبِّيْ؟ (رواه البخاري، وأَبو داود والترمذي وابن ماجه والدارمي وأحمد والحاكم)
Apakah kalian menghalangiku untuk menyampaikan ucapan Rabb-ku? (HR. Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Darimi, Ahmad, dan Hakim).
Bahkan disebutkan dalam riwayat yang shahih bahwa Allah benar-benar berbicara dengan suara yang didengar oleh para malaikat. Ini bantahan bagi pendapat kaum Asy’ariyyah dan sejenisnya yang menyatakan bahwa Allah menciptakan pembicaraan, bukan berbicara dengan suara yang terdengar.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِذَا تَكَلَّمَ اللهُ بِالْوَحْيِ سَمِعَ أَهْلُ السَّمَوَاتِ صَلْصَلَةً كَجَرِّ السِّلْسِلَةِ عَلَى الصَّفَا فَيُصْعِقُوْنَ فَلاَ يَزَالُوْنَ كَذَلِكَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ جِبْرِيْلُ حَتَّى إِذَا جَاءَهُمْ جِبْرِيْلُ فُزِعَ عَنْ قُلُوْبِهِمْ قَالَ فَيَقُوْلُوْنَ يَا جِبْرِيْلُ مَاذَا قَالَ رَبُّكَ؟ فَيَقُوْلُ: الْحَقُّ. فَيَقُوْلُوْنَ الْحَقُّ الْحَقُّ. (حديث صحيح رواه أبو داود)
Jika Allah berbicara dengan wahyu, penduduk langit mendengar suara gemerincing seperti rantai yang diseret di atas batu. Mereka pingsan, dan mereka terus-menerus dalam keadaan demikian hingga Jibril mendatangi mereka. Ketika Jibril datang kepada mereka, dicabutlah rasa takut pada hati-hati mereka, seraya bertanya: “Ya Jibril, apa yang telah dikatakan oleh Rabbmu? Jibril menjawab: “Kebenaran”. Maka mereka pun berkata: “Kebenaran, kebenaran”. (HSR. Abu Dawud)
Betapa banyak ayat-ayat dalam al-Quran dan hadits-hadits yang shahih yang menyatakan di dalamnya “Allah berfirman”. Maka para ulama sangat keras menentang orang-orang yang menolak sifat kalam bagi Allah, yang mengatakan bahwa al-Quran adalah makhluk bukan ucapan Allah. Bahkan di antara mereka dengan tegas mengkafirkan orang-orang yang menyatakan “al-Quran adalah makhluk ciptaan Allah, bukan ucapan Allah”.
Berkata Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah:
الْقُرْآنُ كَلاَمُ اللهِ غَيْرَ مَخْلُوْقٍ، فَمَنْ قَالَ: إِنَّ الْقُرْآنَ مَخْلُوْقٌ فَهُوَ كَافِرٌ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَلاَ تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ وَلاَ يَعَادُ إِنْ مَرِضَ وَلاَ يُصَلَّى عَلَيْهِ إِنْ مَاتَ وَلاَ يُدْفَنُ فِي مَقَابِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. يُسْتَتَابُ فَإِنْ تَابَ وَإِلاَّ ضُرِبَتْ عُنُقُهُ.
Al-Qur’an adalah ucapan Allah, bukan makhluk (ciptaan Allah). Barang siapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, maka dia telah kafir kepada Allah yang Maha Agung. Tidak diterima persaksiannya, tidak ditengok ketika sakit, tidak dishalatkan ketika mati dan tidak dikuburkan di pemakaman kaum muslimin. (Hukum baginya adalah) diminta taubatnya kalau mau bertaubat; kalau tidak mau bertaubat, maka dipenggal lehernya.” (Disebutkan oleh adz-Dzahabi dengan ringkas dalam Siyar a’lamu nubala juz 14 hal. 374: (Lihat Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 40-41)
Sebagian mereka –para penakwil sifat kalam bagi Allah- berkilah dengan menyatakan bahwa yang dimaksud ucapan Allah di atas adalah hanya yang didengar oleh malaikat. Adapun ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca oleh kaum muslimin yang ada dalam mushaf-mushaf, maka itu adalah makhluk bukan ucapan Allah.
Menanggapi masalah ini, Imam Ahmad memiliki jawaban yang sangat tepat, tegas dan jelas. Beliau berkata:
اللَّفْظِيَّةُ حَهْمِيَّةٌ، قَالَ اللهَ تَعَالَى: ]فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللَّهِ...[. مِمَّنْ يَسْمَعُ؟!
Barangsiapa yang mengatakan al-Qur’an dengan lafadz kita adalah makhluk, maka dia termasuk jahmiyah. Karena Allah telah berfirman: “…. maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengarkan firman Allah.” Dari mana mereka mendengar?! (Lihat aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al Manshuri, hal. 42)
Adapun yang dimaksud oleh Imam Ahmad adalah ayat:
وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَ يَعْلَمُونَ. ]التوبة: 6[
Dan jika salah seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia, supaya ia sempat mendengarkan firman Allah. Kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (At-Taubah: 6)
Imam Ahmad berdalil dengan ayat di atas bahwa yang al-Quran dibaca oleh kaum muslimin adalah ucapan Allah. Hal itu karena orang-orang kafir yang diberi perlindungan (suaka politik) di negeri kaum muslimin, diharapkan dapat mendengarkan ucapan Allah, yang tentunya didengar dari bacaan-bacaan kaum muslimin di masjid-masjid, di rumah-rumah mereka dan lain-lain.
Berkata Imam Ash-Shabuni رحمه الله: “Ahlul hadits mempersaksikan dan meyakini bahwa al-Qur’an adalah ucapan Allah, kitab Allah, wahyu Allah yang diturunkan oleh Allah; bukan makhluk (ciptaan Allah). Barang siapa yang mengatakan al-Qur’an adalah makhluk dan meyakininya, maka ia telah kafir menurut mereka”. (Lihat Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 40)
Selanjutnya beliau berkata: “Maka ayat-ayat al-Qur’an yang dihafalkan dalam dada-dada, yang dibaca di lisan-lisan, yang ditulis dalam mushaf-mushaf, dibaca oleh pembacanya, dilafadzkan oleh orang yang melafadzkannya, dihafalkan oleh para penghafalnya, di mana ia dibaca dan kapan pun dikumandangkannya, dicetak di dalam mushaf-mushaf kaum muslimin, dicatat dalam papan-papan tulis anak-anak dan lain-lainnya semuanya adalah ucapan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung, bukan makhluk. Barangsiapa yang menganggapnya sebagai makhluk, maka dia telah kafir kepada Allah yang Maha Agung” . (Lihat Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 40)
Sesungguhnya apa yang dikatakan oleh para ulama di atas sangat jelas yakni al-Qur’an adalah ucapan Allah, dan ucapan Allah adalah Maha Sempurna. Dan jika kita biarkan mereka -ahlul bid’ah- menyatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk Allah, maka berarti kita menganggap bahwa al-Qur’an tidak sempurna, karena tidak ada satu makhluk pun yang sempurna.
Oleh karena itu ketika seorang membaca al-Qur’an kita katakan bahwa dia sedang membaca ucapan Allah.
Ketika seseorang menulis ayat-ayat al-Qur’an, kita nyatakan bahwa dia sedang menulis ucapan Allah.
Ketika seseorang sedang menghafalkan al-Qur’an, kita meyakini bahwa dia sedang menghafal ucapan Allah.
Demikianlah seterusnya Ahlussunnah sejak zaman para shahabat sangat terbiasa dengan bahasa-bahasa yang demikian dan menyebutkan al-Qur’an dengan Kalamullah (ucapan Allah).
Berlindung dengan Kalimat Allah bukan merupakan kesyirikan
Ada satu bantahan lagi yang membuktikan keyakinan Ahlussunnah bahwa al-Qur’an ucapan Allah bukan makhluk. Bukti ini membantah ahlul bid’ah dari kalangan mu’tazilah, asy’ariyah atau pun yang sejenisnya dari para rasionalis yang mengatakan bahwa al-Qur’an makhluk. Yaitu perintah Rasulullah صلى الله عليه وسلم agar kita berdoa dan berlindung dengan kalimat-kalimat Allah, seperti dalam doa beliau صلى الله عليه وسلم:
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّةِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ.
Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan-kejahatan makhluk-makhluk-Nya.
Hal ini membuktikan bahwa kalimat-kalimat Allah adalah bukan makhluk, karena Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak mungkin mengajarkan kesyirikan, yaitu berdoa dan berlindung kepada makhluk. Kedudukan doa itu sama dengan doa-doa Nabi صلى الله عليه وسلم lainnya yang mengajarkan untuk berlindung dengan sifat-sifat Allah seperti:
أَعُوْذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ.
Aku berlindung dengan kemuliaanMu dan kekuasaan-Mu dari kejelekan yang aku dapati dan aku jauhi.”
(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 45/Th. II, 26 Dzulqo’dah 1425 H/6 Januari 2005 M, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli "Allah Berbicara, bukan menciptakan pembicaraan". Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Infaq Rp. 100,-/exp. Pesanan min. 50 exp di bayar di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Redaksi: Muhammad Sholehuddin, Dedi Supriyadi, Eri Ziyad; Sekretaris: Ahmad Fauzan; Sirkulasi: Arief Subekti, Agus Rudiyanto, Zaenal Arifin; Keuangan: Kusnendi. Pemesanan hubungi: Arif Subekti telp. (0231) 481215.)
Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan para Ashabul Hadits sejak zaman sahabat sampai hari ini telah meyakini bahwa Allah سبحانه وتعالى memiliki sifat kalam (berbicara). Dan mereka meyakini bahwa Allah سبحانه وتعالى berkuasa untuk berbicara kapanpun dia kehendaki.
Allah سبحانه وتعالى telah menjelaskan dengan tegas dalam ayat-Nya:
...وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَى تَكْلِيمًا. ]النساء: 164[
…Dan Allah telah berbicara langsung kepada Musa. (an-Nisaa’: 164)
Telah diriwayatkan secara mutawatir bahwa ayat ini dibaca dengan rafa’ pada lafdhul jalallah “Allahu”. Dalam ilmu nahwu hal itu berarti Allah sebagai pelaku dari kata kerja kallama atau berarti Allah-lah yang berbicara.
Hanya kaum mu’tazilah yang menyelewengkan bacaan tersebut dengan membacanya secara manshub pada lafdhul jalallah “Allaha”. Sehingga mereka menterjemahkannya “Musa mengajak berbicara Allah”, atau dalam hal ini berarti Musa-lah yang berbicara kepada Allah. Ta’wil ini mereka lakukan untuk menolak sifat Kalam bagi Allah.
Namun, mereka tidak bisa membantah dan mena’wilkan ayat Allah سبحانه وتعالى yang menyatakan:
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ... ]الأعراف: 143[
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabb-nya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Rabb-ku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada-Mu”…. (Al-A’raaf: 143)
Dalam ayat ini jelas sekali dinyatakan bahwa yang berbicara adalah Allah, bukan Musa, karena tidak mungkin kata ganti “hu” (“nya”) berlaku sebagai pelaku.
Alasan kaum mu’tazilah menolak sifat kalam bagi Allah di atas adalah sama seperti ketika mereka menolak sifat-sifat lainnya bagi Allah. Mereka menganggap bahwa kalau kita mengimani Allah berbicara, berarti menyamakan Allah dengan makhluk-Nya.
Oleh karena itu bantahan Ahlus Sunnah bagi mereka cukup dengan apa yang kita telah sebutkan pada edisi yang lalu, yaitu berbicaranya Allah sesuai dengan keagunganNya, tidak sama dengan berbicaranya makhluk. Selesai.
Apalagi dalam hadits-hadits yang shahih, banyak disebutkan tentang sifat kalam bagi Allah. Seperti hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi:
أَتَمْنَعُوْنَنِيْ أََنْ أُبَلِّغَ كَلاَمَ رَبِّيْ؟ (رواه البخاري، وأَبو داود والترمذي وابن ماجه والدارمي وأحمد والحاكم)
Apakah kalian menghalangiku untuk menyampaikan ucapan Rabb-ku? (HR. Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Ibnu Majah, Darimi, Ahmad, dan Hakim).
Bahkan disebutkan dalam riwayat yang shahih bahwa Allah benar-benar berbicara dengan suara yang didengar oleh para malaikat. Ini bantahan bagi pendapat kaum Asy’ariyyah dan sejenisnya yang menyatakan bahwa Allah menciptakan pembicaraan, bukan berbicara dengan suara yang terdengar.
Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:
إِذَا تَكَلَّمَ اللهُ بِالْوَحْيِ سَمِعَ أَهْلُ السَّمَوَاتِ صَلْصَلَةً كَجَرِّ السِّلْسِلَةِ عَلَى الصَّفَا فَيُصْعِقُوْنَ فَلاَ يَزَالُوْنَ كَذَلِكَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ جِبْرِيْلُ حَتَّى إِذَا جَاءَهُمْ جِبْرِيْلُ فُزِعَ عَنْ قُلُوْبِهِمْ قَالَ فَيَقُوْلُوْنَ يَا جِبْرِيْلُ مَاذَا قَالَ رَبُّكَ؟ فَيَقُوْلُ: الْحَقُّ. فَيَقُوْلُوْنَ الْحَقُّ الْحَقُّ. (حديث صحيح رواه أبو داود)
Jika Allah berbicara dengan wahyu, penduduk langit mendengar suara gemerincing seperti rantai yang diseret di atas batu. Mereka pingsan, dan mereka terus-menerus dalam keadaan demikian hingga Jibril mendatangi mereka. Ketika Jibril datang kepada mereka, dicabutlah rasa takut pada hati-hati mereka, seraya bertanya: “Ya Jibril, apa yang telah dikatakan oleh Rabbmu? Jibril menjawab: “Kebenaran”. Maka mereka pun berkata: “Kebenaran, kebenaran”. (HSR. Abu Dawud)
Betapa banyak ayat-ayat dalam al-Quran dan hadits-hadits yang shahih yang menyatakan di dalamnya “Allah berfirman”. Maka para ulama sangat keras menentang orang-orang yang menolak sifat kalam bagi Allah, yang mengatakan bahwa al-Quran adalah makhluk bukan ucapan Allah. Bahkan di antara mereka dengan tegas mengkafirkan orang-orang yang menyatakan “al-Quran adalah makhluk ciptaan Allah, bukan ucapan Allah”.
Berkata Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah:
الْقُرْآنُ كَلاَمُ اللهِ غَيْرَ مَخْلُوْقٍ، فَمَنْ قَالَ: إِنَّ الْقُرْآنَ مَخْلُوْقٌ فَهُوَ كَافِرٌ بِاللهِ الْعَظِيْمِ، وَلاَ تُقْبَلُ شَهَادَتُهُ وَلاَ يَعَادُ إِنْ مَرِضَ وَلاَ يُصَلَّى عَلَيْهِ إِنْ مَاتَ وَلاَ يُدْفَنُ فِي مَقَابِرِ الْمُسْلِمِيْنَ. يُسْتَتَابُ فَإِنْ تَابَ وَإِلاَّ ضُرِبَتْ عُنُقُهُ.
Al-Qur’an adalah ucapan Allah, bukan makhluk (ciptaan Allah). Barang siapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, maka dia telah kafir kepada Allah yang Maha Agung. Tidak diterima persaksiannya, tidak ditengok ketika sakit, tidak dishalatkan ketika mati dan tidak dikuburkan di pemakaman kaum muslimin. (Hukum baginya adalah) diminta taubatnya kalau mau bertaubat; kalau tidak mau bertaubat, maka dipenggal lehernya.” (Disebutkan oleh adz-Dzahabi dengan ringkas dalam Siyar a’lamu nubala juz 14 hal. 374: (Lihat Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 40-41)
Sebagian mereka –para penakwil sifat kalam bagi Allah- berkilah dengan menyatakan bahwa yang dimaksud ucapan Allah di atas adalah hanya yang didengar oleh malaikat. Adapun ayat-ayat al-Qur’an yang dibaca oleh kaum muslimin yang ada dalam mushaf-mushaf, maka itu adalah makhluk bukan ucapan Allah.
Menanggapi masalah ini, Imam Ahmad memiliki jawaban yang sangat tepat, tegas dan jelas. Beliau berkata:
اللَّفْظِيَّةُ حَهْمِيَّةٌ، قَالَ اللهَ تَعَالَى: ]فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللَّهِ...[. مِمَّنْ يَسْمَعُ؟!
Barangsiapa yang mengatakan al-Qur’an dengan lafadz kita adalah makhluk, maka dia termasuk jahmiyah. Karena Allah telah berfirman: “…. maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengarkan firman Allah.” Dari mana mereka mendengar?! (Lihat aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al Manshuri, hal. 42)
Adapun yang dimaksud oleh Imam Ahmad adalah ayat:
وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لاَ يَعْلَمُونَ. ]التوبة: 6[
Dan jika salah seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia, supaya ia sempat mendengarkan firman Allah. Kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (At-Taubah: 6)
Imam Ahmad berdalil dengan ayat di atas bahwa yang al-Quran dibaca oleh kaum muslimin adalah ucapan Allah. Hal itu karena orang-orang kafir yang diberi perlindungan (suaka politik) di negeri kaum muslimin, diharapkan dapat mendengarkan ucapan Allah, yang tentunya didengar dari bacaan-bacaan kaum muslimin di masjid-masjid, di rumah-rumah mereka dan lain-lain.
Berkata Imam Ash-Shabuni رحمه الله: “Ahlul hadits mempersaksikan dan meyakini bahwa al-Qur’an adalah ucapan Allah, kitab Allah, wahyu Allah yang diturunkan oleh Allah; bukan makhluk (ciptaan Allah). Barang siapa yang mengatakan al-Qur’an adalah makhluk dan meyakininya, maka ia telah kafir menurut mereka”. (Lihat Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 40)
Selanjutnya beliau berkata: “Maka ayat-ayat al-Qur’an yang dihafalkan dalam dada-dada, yang dibaca di lisan-lisan, yang ditulis dalam mushaf-mushaf, dibaca oleh pembacanya, dilafadzkan oleh orang yang melafadzkannya, dihafalkan oleh para penghafalnya, di mana ia dibaca dan kapan pun dikumandangkannya, dicetak di dalam mushaf-mushaf kaum muslimin, dicatat dalam papan-papan tulis anak-anak dan lain-lainnya semuanya adalah ucapan Allah yang Maha Tinggi dan Maha Agung, bukan makhluk. Barangsiapa yang menganggapnya sebagai makhluk, maka dia telah kafir kepada Allah yang Maha Agung” . (Lihat Aqidatus Salaf Ashabul Hadits, tahqiq Abul Yamin al-Manshuri, hal. 40)
Sesungguhnya apa yang dikatakan oleh para ulama di atas sangat jelas yakni al-Qur’an adalah ucapan Allah, dan ucapan Allah adalah Maha Sempurna. Dan jika kita biarkan mereka -ahlul bid’ah- menyatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk Allah, maka berarti kita menganggap bahwa al-Qur’an tidak sempurna, karena tidak ada satu makhluk pun yang sempurna.
Oleh karena itu ketika seorang membaca al-Qur’an kita katakan bahwa dia sedang membaca ucapan Allah.
Ketika seseorang menulis ayat-ayat al-Qur’an, kita nyatakan bahwa dia sedang menulis ucapan Allah.
Ketika seseorang sedang menghafalkan al-Qur’an, kita meyakini bahwa dia sedang menghafal ucapan Allah.
Demikianlah seterusnya Ahlussunnah sejak zaman para shahabat sangat terbiasa dengan bahasa-bahasa yang demikian dan menyebutkan al-Qur’an dengan Kalamullah (ucapan Allah).
Berlindung dengan Kalimat Allah bukan merupakan kesyirikan
Ada satu bantahan lagi yang membuktikan keyakinan Ahlussunnah bahwa al-Qur’an ucapan Allah bukan makhluk. Bukti ini membantah ahlul bid’ah dari kalangan mu’tazilah, asy’ariyah atau pun yang sejenisnya dari para rasionalis yang mengatakan bahwa al-Qur’an makhluk. Yaitu perintah Rasulullah صلى الله عليه وسلم agar kita berdoa dan berlindung dengan kalimat-kalimat Allah, seperti dalam doa beliau صلى الله عليه وسلم:
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّةِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ.
Aku berlindung kepada kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan-kejahatan makhluk-makhluk-Nya.
Hal ini membuktikan bahwa kalimat-kalimat Allah adalah bukan makhluk, karena Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak mungkin mengajarkan kesyirikan, yaitu berdoa dan berlindung kepada makhluk. Kedudukan doa itu sama dengan doa-doa Nabi صلى الله عليه وسلم lainnya yang mengajarkan untuk berlindung dengan sifat-sifat Allah seperti:
أَعُوْذُ بِعِزَّةِ اللهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ.
Aku berlindung dengan kemuliaanMu dan kekuasaan-Mu dari kejelekan yang aku dapati dan aku jauhi.”
(Dikutip dari Bulletin Dakwah Manhaj Salaf Edisi: 45/Th. II, 26 Dzulqo’dah 1425 H/6 Januari 2005 M, penulis Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed, judul asli "Allah Berbicara, bukan menciptakan pembicaraan". Risalah Dakwah MANHAJ SALAF, Insya Allah terbit setiap hari Jum’at. Infaq Rp. 100,-/exp. Pesanan min. 50 exp di bayar di muka. Diterbitkan oleh Yayasan Dhiya’us Sunnah, Jl. Dukuh Semar Gg. Putat RT 06 RW 03, Cirebon. telp. (0231) 222185. Penanggung Jawab: Ustadz Muhammad Umar As-Sewed; Redaksi: Muhammad Sholehuddin, Dedi Supriyadi, Eri Ziyad; Sekretaris: Ahmad Fauzan; Sirkulasi: Arief Subekti, Agus Rudiyanto, Zaenal Arifin; Keuangan: Kusnendi. Pemesanan hubungi: Arif Subekti telp. (0231) 481215.)
Langganan:
Postingan (Atom)